#35

65.6K 2.7K 27
                                        

Hati-hati
Typo selalu ada
Di setiap kata pada part ini☡

_________________

Dua jam berlalu

Dimana saat ini jam menunjukan pukul tujuh malam, dan operasi pengangkatan peluru dari perut Aylin baru selesai. Semua awak medis keluar dari ruangan lengkap dengan pakaian serba hijau yang masih melekat dibadan mereka.

Ceklek

Suara itu membuat Faro dan yang lainya bangkit dari duduknya, guna menanyakan keadaan Aylin saat ini.

"Gimana keadaan istri saya dok?" Tanya Faro.

"Alhamdulillah operasi tadi berjalan dengan lancar, sekarang istri bapak masih membutuhkan istirahat yang cukup untuk pemulihan" ucap dokter Viska.

Mendengar itu sontak semua orang dapat bernafas dengan lega. Seulas senyum mulai terbit dari wajah mereka. Tanpa disadari seseorang juga ikut tersenyum dibalik dinding bercat putih itu.

"Apa saya boleh masuk melihat keadaan istri saya?" Tanya Faro lagi dan diangguki oleh sang dokter. Namun saat hendak masuk, satu kejanggalan terjadi. Farrel tak melihat batang hidung Lusi. yah, dia baru ingat bahwa Lusi tak berada disini dari tadi.

"Tunggu!" Sontak Raka dan Dion yang berada di depan Farrel langsung  menoleh pada sang empu.

"Apaan?" Tanya Raka.

"Lusi mana?"

"Lhaa .. sabi-sabi nya lo lupa ama anak orang yang satu itu?! Parah sih lo" timpal Dion.

"Bisa-bisanya" ucap Raka membenarkan perkataan Dion dengan raut wajah tertekan.

"Gue serius, perasaan tadi ada disebelah gue" ucap Farrel kebingungan.

"Celaka, mana kakinya lagi sakit juga main kabur aja tuh bocah" ucap Dion.

"Udah Rel mungkin dia lagi ada di taman buat nenangin dirinya" ujar Raka menenangkan Farrel.

Mendengar perkataan Raka tidak membuatnya tenang sama sekali namun, bisa saja ada benarnya apa yang dikatakan Raka. Ia juga harus memberi Lusi  sedikit cela untuk ia menyendiri setelah kejadian tadi siang.

Di waktu yang sama, Faro melihat tubuh Aylin yang  terbaring lemah di atas brangkar rumah sakit. Lengkap dengan beberapa alat medis yang setia melekat di tubuhnya.

Faro mulai mendekat ke arah Aylin, menarik kursi yang sudah disediakan di samping brangkar itu. Faro meraih tangan Aylin menggenggamnya seolah tengah menyalurkan kekuatan untuk istrinya.

"Maaf ya selalu buat kamu sakit" kemudian ia kembali bangun dan membisikan sesuatu.

"Tidurnya jangan lama-lama ya sayang, i miss you" setelah mengatakan itu Faro mendaratkan satu kecupan dikening Aylin. Setelah itu ia tersenyum sendu, entah karena  lelah atau apa perlahan mata itu tertutup dan siap menjelajah alam mimpi.

Ketika masuk ke dalam ruangan Aylin, ke lima orang tersebut melihat Faro yang sudah tertidur di sisi brangkar Aylin dengan posisi duduk.

COLD CEO is MY HUSBAND (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang