"Jae, Mark, Jen-- Astaga apa yang kalian lakukan pada suamiku!!"
Ten yang berniat menyusuli anak anak dan suaminya kini dibuat terkejut dengan penampilan ketiganya, tetutama suaminya.
"Hahaha, ma...hahaha" Mark tidak berhenti tertawa sejak tadi sambil menunjuk wajah papa nya.
Mereka bermain di taman belakang hari ini karena hari libur, tapi karena kemarin hujan, rerumputan jadi agak licin dan berlumpur.
"Jaehyunn!! Aduhh" Ten buru buru menarik suaminya dan mengguyur dengan air dari selang di taman belakang.
Benar benar kurang ajar anak anaknya itu, Jaehyun jadi belepotan lumpur seperti ini.
"Aduh ma, jangan begitu kasihan papa basah" ujar Jeno sambil menahan tawanya, melihat papanya yang disiram air oleh mamanya agar lumpur di wajah dan di rambut Jaehyun hilang.
"Kalian ini ya! Bisa bisanya betmain lumpur dan mengotori papa, ck dasar anak kecil, jangan masuk ke dalam rumah sebelum bersih, mandi di kamar mandi luar saja sana" usir Ten pasa kedua anaknya itu yang langsung menurut dan berlari menuju kamar mandi depan.
"Kau juga Jaehyun, astaga bisa bisanya hanya diam saja dan malah ikut bermain, pak tua" ujar Ten kesal, menatap bentukan suaminya yang sudah basah kuyup.
"Mereka terlihat senang jadi aku biarkan saja"
Ten yang tadinya mau marah kini malah menahan senyumnya gemas melihat Jaehyun, papa dua anak itu benar benar mendedikasikan dirinya untuk anak anak.
"Aiiihh, papa manis sekali, yasudah kalau begitu mandi sana, gantian dengan anak anak, biar aku ambilkan kalian baju ganti" ujar Ten mengusap wajah Jaehyun yang basah.
Saat berbalik Ten terkekeh pelan, ada ada saja ketiganya itu.
*
"Ma, pa, besok di sekolah kami ada pertemuan orang tua, salah satu dari kalian harus datang, tidak harus berdua kok" ujar Jeno sembari memakan strobery yang disiapkan mamanya.
"Besok papa datang kesana ya...mama biar dirumah, besok cafe tutup jadi biarkan mama istirahat" Jaehyun tersenyum. Mark dan Jeno mengangguk mengiyakan, ini adalah kali pertama papanya datang untuk rapat tahunan, biasanya Mama yang akan selalu datang.
"Papa besok kan bekerja" ujar Jeno, ketika ingat besok bukan hari sabtu, melainkan senin, dan itu hari kerja.
"Ditinggalkan sebentar tidak masalah" ujar Jashyun tersenyum.
Ten tersenyum, Jaehyun benar benar mengutamakan segala kepentingan keluarga, terutama anak anak.
"Sayang, kemarilah" gumam Ten pelan, Jaehyun mendekatkan duduknya pada Ten di sofa. Ten memeluk Jaehyun dari samping seperti biasa, lelaki mungil itu selalu suka mengusap kening Jaehyun sambil sesekali menciumi pelipisnya.
"Lelah ya?" Bisik Ten pelan.
Jaehyun menggeleng, kemudian melirik sekilas ke arah anak anaknya yang sibuk menonton tv.
"Sama sekali tidak lelah"
Ten tersenyum lembut kemudian.
"Kau lelah, aku tau...liburan nanti gunakanlah waktumu untuk istirahat, sementara suruh Sungchan membantu mengurusnya untukmu, dia pasti mau" bisik Ten, pembicaraan mereka jangan sampai sang anak dengar, you know lah...ini hanya antara suami dan istri.
Dan omong omong tentang Sungchan, adik Jaehyun itu juga seperti rencana appanya sudah mulai memimpin Jung Corp dari beberapa tahun yang lalu, dan hubunganya dengan Jaehyun juga sudah sangat baik, sebagai kakak ipar Sungchan, tentu Ten membantu anak itu untuk sadar lebih cepat dan berbaikan bersama Jaehyun. Sungchan juga sudah menikah dengan seseorang berkewarganegaraan Jepang, namanya Shutaro, sangat manis dan lembut, cockk bersanding dengan Sungchan yang keras dan kaku.
"Baiklah"
"Omong omong, Mark dan Jeno sudah dewasa loh, tidak mau bikin adik untuk mereka apa?" Tanya Ten. Astaga Ten...kenapa hal seperti itu perlu kau tanyakan.
"Adik? Tidak tidak, aku tidak mau punya anak lagi"
"Loh kenapa?" Tanya Ten heran, karena Jaehyun menggeleng keras di bahunya.
"15 tahun yang lalu aku yang menemukanmu penuh darah di lantai kamar mandi sambil bertetiak kesakitan dan menangis, aku tidak...tidak, tidak usah, 2 anak saja sudah cukup Ten, aku tidak bisa mengambil resiko" Jaehyun menggerakan tanganya cepat, jujur saja, 15 tahun lalu itu rasanya adalah cobaan paling berat yang pernah Jaehyun lalui. Menemukan istrinya bersimpah darah di lantai kamar mandi sembari berteriak dan menangis, seluruh tubuhnya rasanya gemetar. Melihat Ten di ruang persalinan yang berteriak berusaha mengeluarkan kedua bayinya, bibir ranumnya yang pucat, mata kucingnya yang sayu, tubuh yang bergetar karena lemas dan juga nafas yang tersendat, Jaehyun masih ingat bayangan wajah Ten saat itu, lelaki manis itu bahkan tidak sadarkan diri selama 2 hari setelah melahirkan kedua putranya, hari itu...menjadi seorang yang menemani istrinya berjuang untuk anak anak mereka membuat Jaehyun berpikir 2× untuk menyakiti istrinya.
Ten menatap Jaehyun lembut lalu mengusap tangan suaminya itu, Ten tentu ingat, bagaimana berkeringatnya tubuh Jaehyun yang berlari menggendongnya saat itu, dan bagaimana suaminya ikut menangis setelah kedua bayi mereka berhasil di lahirkan saat itu. Sebenarnya Ten tidak pernah masalah untuk merasakan pesakitan itu untuk yang kedua kalinya, tapi...jika Jaehyun memang tidak ingin, Ten juga tidak memaksa, dia hanya tiba tiba ingin bertanya saja.
"Tapi kan perjuanganku tidak sia sia, mereka berdua- Mark dan Jeno lahir dengan selamat, menangis sangat keras dan bayi bayi yang gembil. Dan sekarang menjadi anak baik kesayangan kita, rasa sakitku saat itu tidak ada apa apanya dengan kebahagiaan yang kalian berikan padaku setelahnya" ujar Ten, menatap anak anaknya yang juga menatap mereka bingung karena nama mereka disebut sebut dalam obrolan kedua orang tuanya itu.
"Hm, kalian saja sudah cukup untuku"
"Kau benar Jaehyun, waktu berlalu sangat cepat, 15 tahun sudah terlewati dan anak anak sudah semakin besar, disaat mereka mengambil alih semuanya dari kita nanti, saat itulah kau dan aku akan beristirahat penuh"
"Diam dirumah, berkebun, menghabiskan waktu bersama, merawat bintang peliharaan, menghabiskan masa tua kita bersama sambil menyaksikan kebahagiaan anak anak kita nanti"
"Aku harap waktu tidak berlalu begitu cepat, aku pasti akan merindukan Mark dan Jeno kecil nanti"
Ten berujar sambil menatap kedua anaknya itu. Sungguh, Ten melihat Jeno dan Mark seperti wujud nyata dari cintanya dan Jaehyun, anak anaknya adalah anugrah terindah yang pernah tuhan berikan 15 tahun yang lalu. Masa masa pertumbuhan kedua anaknya tidak sedetikpun Ten lewati. Dia tidak ingin keduanya cepat bertumbuh besar, dia masih ingin memanjakan kedua anaknya itu dengan segala yang dia miliki dan kasih sayangnya.
"Ma...mama kenapa menangis, jangan menangis" Mark berujar lirih membuat lamunan Ten buyar, anak anak dan suaminya terlihat sudah mengelilingi dirinya, Jaehyun mengusap pelan air mata Ten di pipinya.
"Mama...Mark dan Jeno akan selalu jadi putra kecil Mama dan Papa, kami sayang kalian berdua, kalian adalah orang tua terbaik untuk kami, aku dan Mark beruntung sekali memiliki papa dan mama yang hebat seperti kalian" Jeno berujar sambil tersenyum manis, membentuk mata bulan sabitnya yang lucu, persis seperti Jaehyun.
Ten mengusap wajahnya lalu menerbitkan senyum manisnya, merentangkan tanganya kedepan meminta pelukan. Ke-3 lelaki lainya yang mengerti segera menyerbu tubuh Ten dengan pelukan erat. Jaehyun menciumi pucuk kepala istrinya, mengusap lembut kedua surai hitam legam anaknya.
"Pa...terimakasih karna berjuang memberikan yang terbaik untuk kami, papa bekerja sangat keras untuk menyiapkan masa depan kami, kami sayang papa, our Heroes"
***
Hah...lagi galau, gaada author jaeten taeten yang update, galau akutuu...gatau mau baca cerita apa, mau oleng tapi gatau oleng kemana...tolong recomend dong guys cerita, markhyuk, johnten, atau nomin yang bikin mewek dan mengandung bawang lagi pimgin nangis ini😭😭

KAMU SEDANG MEMBACA
Our Heroes -Papa-
Teen Fiction《JaeTen+ Mark, Jeno》《sequel ICBYV》 "Papa melakukan segala untuk kita Mark, untuk Mark, adik dan juga Mama, Mark tidak boleh seperti itu pada Papa, dia orang tua Mark" "Our Heroes, Papa"