7

439 46 6
                                    

"Mark, Jeno ayo sayang turun, sarapan!" Seru Ten dari arah ruang makan, Jeno terlihat turun lebih dulu, lalu diikuti oleh Mark dibelakangnya.

Jeno sengaja menghentak hentakan kakinya agar mendapatkan atensi papa dan mama kalau dia menggunakan sepatu baru pemberian papa.

"Papa lihatt...bagus kan bagus kan!" Jeno memperlihatkan kaki jenjangnya sambil tersenyum lebar, senang melihat akhirnya sepatu baru melekat di kakinya.

"Bagus, Jeno bagus mengenakan apapun" Jaehyun tersenyum.

"Loh, Mark hyung, sepatu barunya mana?" Tanya Ten melihat satu anaknya lagi sepertinya tidak mengenakan alas kaki yang sama seperti punya Jeno.

"Belum aku buka ma" ujar Mark sekenanya.

"Loh, bukanya Mark juga ingin sepatu itu?" Tanya Ten mengernyit.

"Malas, nanti saja" setelahnya Mark fokus dengan sarapanya, tidak memperdulikan papa dan mama yang menatapnya sendu.

"Pa, ayo berang--

"Aku akan berangkat bersama supir saja" sela Mark cepat.

"Ma Mark berangkat" setelah itu Mark berjalan keluar dari rumah, tidak memperdulikan tatapan bingung keluarganya,Ten yang melihatnya buru buru menyusul anaknya itu.

"Mark! Mark...tunggu dulu sayang" Ten menarik pergelangan tangan Mark untuk menghentikan anak itu melangkah.

"Mama belum dapat ciuman pagi" ujar Ten mengerucutkan bibirnya lucu. Menarik narik pergelangan tangan Mark seperti bocah kecil yang ingin ikut bepergian bersama.

Mark tersenyum hangat lalu menangkup kedua belah pipi cuby mamanya, mengecupnya satu persatu seperti biasa.

"Mark berang--

"Kenapa tidak dengan papa dan Jeno? Biasa juga seperti itu kan" tanya Ten sambil mengusap lengan anaknya.

Mark mengalihkan pandanganya pada Jaehyun, lelaki itu tersenyum hangat menatapnya, tapi Mark hanya menatapnya datar, tanpa menyunggingkan senyum lebarnya seperti biasa.

"Tidak, mulai sekarang aku akan berangkat dengan supir, jika Jeno ingin ikut denganku silahkan, tapi jika dia mau bersama papa aku tidak masalah, sampai nanti" setelahnya Mark menuju ke garasi rumahnya, menemui salah satu supir pribadi papanya untuk mengantarkanya berangkat ke sekolah pagi ini dan untuk pagi pagi selanjutnya.

Di depan rumah, ke-3 orang yang tersisa menatap kepergian Limousin hitam itu dengan pandangan berbeda beda.

Ten yang kali pertama menyadarinya langsung beralih menatap putranya dan suaminya.

"Yasudah, biarkan Mark pergi...dia butuh waktu sendiri, Jeno berangkat bersama papa ya" ujar Ten lembut.

"Yasudah ayo pa"

"Jae, berangkat bersama Jeno ya...nanti siang aku akan datang membawakanmu makanan" ujar Ten sambil tersenyum.

Jaehyun menarik Ten kepelukanya, mencium kening istrinya lembut.

"Aku berangkat ya sayang, sampai bertemu nanti" Jaehyun berujar dan diangguki oleh Ten.

"Ma, Jeno berangkat"

Jeno mencium pipi mamanya lalu mengikuti papa yang menuju garase untuk mengeluarkan mobil.

"Pa...papa tidak apa kan?" Jeno menepuk pelan bahu papanya yang sedang menyetir, Jaehyun mengangguk dan tersenyum menenangkan, menunjukan pada anaknya bahwa dia baik baik saja, walau didalam hati ingin menangis saja rasanya melihat perlakuan Mark padanya tadi. Tidak ada lagi riak bahagia Mark saat menatapnya, tidak ada lagi mata bulat dengan alis camar yang lucu ketika tertawa, semuanya berubah dalam sekejap, dalam waktu kurang dari satu hari.

Our Heroes -Papa-Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang