Karena sebuah peristiwa yang membuat dirinya terpaksa menerima keadaan ditingal dan dilupakan, Axel berusaha merubah dirinya, menjadi kejam. Sangat kejam, untuk membalaskan segala kecamuk hidupnya, tanpa seorang pun tahu identitas aslinya. Namun, se...
" Your biggest weakness is when you give up and your greatest power is when you try one more time. " - An
✨✨✨
Bristol, England
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bangunan layaknya rumah dan pertokoan tingkat tiga khas arsitektur Eropa, dihidupi oleh sekumpulan masyarakatnya yang memenuhi kota dengan ramai. Ada yang pulang sehabis bekerja, atau sekedar berjalan dan menyantap sebuah muffin hangat, yang baru dibeli di kedai yang ada di beberapa sekat pertokoan lainnya. Sungai Avon yang hadir membentang luas di bawah Jembatan Clifton, seakan ikut bersuka-cita, atas hangatnya suasana yang tercipta disana.
Dua insan lainnya, Bibi Liye dan Axel tengah berjalan-jalan dengan santai, merasakan atmosfer ketenangan yang menyeruak di setiap langkah. hampir 11 jam mengudara dengan Heli, membuat keduanya bosan dan memilih berjalan sebentar di area perkotaan. Helikopter yang dikendarai Paman Dion sebelumnya, sudah mendarat dengan sukses di atas Helipad, di sebuah pekarangan Mansion miliknya.
Bibi Liye dan Axel singgah sebentar untuk membeli ice cream rasa vanilla, kesukaan anak lelaki ini tentunya. Setelah dibuatkan, Bibi Liye meraih sejumlah uang untuk membayar, lantas memberikannya kepada penjual ice cream tersebut. Axel yang sudah tidak sabaran untuk duduk di tepian Sungai Avon, langsung menarik tangan Bibi Liye sebelum sempat mengucapkan terima kasih kepada sang penjual barusan.
" Axel! santai saja..., " seru Bibi Liye yang masih berusaha mensejajarkan tubuhnya dengan Axel yang tengah memimpin jalan. " Nanti tidak dapat tempat duduk, loh! " serunya tak mau kalah.
Bibi Liye mengulas senyum sekenanya, bersamaan dengan merapikan tatanan rambut yang sering keluar dari belakang telinga. Di tempatnya kali ini, Bibi Liye enggan berharap lebih untuk sebuah kenikmatan dunia, ataupun berharap bisa menjadi seorang nyonya yang dilayani oleh banyak orang. Cukup begini saja. Suasana yang tentram, ramai, dan bahagia bersama gumpalan kecil yang tengah asik berlari di depannya. Sungguh, melihat Axel yang senangnya seperti ini sudah langka baginya.
" Akhirnya dapat tempat duduk juga! " ucap Axel yang sekarang tengah menstabilkan nafas, lantas mulai melahap ice cream yang dibeli di kedai gula-gula sebelumnya. Kemudian, Bibi Liye ikut duduk dan mensejajarkan tubuh dengan sang empu disana.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
" Mom, sungainya indah, ya. Kalau lihat lama-lama, jadi rindu dengan Dad..., "
Bibi Liye refleks mengarahkan pandangannya dengan Axel, takut-takut sang anak menangis ataupun sekedar sedih atas kepergian sosok Ayah diusia belia.
Axel merebahkan kepalanya sedikit ke arah Bibi Liye, lantas berkata. " Dad dulu sering membawa Axel dan Cloe ke sungai dekat rumah, biasanya sembari makan manisan atau apapun yang sedang berjualan disana..., hiks hiks..., Axel rindu dengan Dad...," ujarnya bersamaan dengan tangisan kecil yang melintasi pipinya disana. Sorot matanya yang sayu seakan menggambarkan ekspresi kesedihan yang kentara. Bibi Liye jelas sadar dan mewajarkan Axel untuk merasa bersedih kali ini.
" Axel anak yang kuat, jangan terlalu lama menangis, ya, sayang. Nanti Dad disana ikut sedih, lho, " ucap Bibi Liye sambil terus mengelus pundak sang empu di sampingnya sampai merasa tenang. Ditinggal dengan orang yang disayang pastinya sungguh berat untuk Axel, terlebih hanya tinggal Bibi Liye yang ada di sisinya sekarang.
Bibi Liye berusaha mengarahkan tubuh Axel untuk berhadapan dengannya, membawa kedua pasang mata untuk bertemu dan saling menatap dalam beberapa waktu,
Sembari mengulas senyuman manisnya, Bibi Liye mulai berbicara, " Axel, semoga disini, kita bisa lebih bahagia, ya? "
" Eum! tentunya, " balas Axel yang masih diliputi beberapa bulir tangis dan cairan putih di hidungnya. Bibi Liye sukses dibuat tertawa sejenak, lalu memberikan tissue agar sang empu dapat mengekskresikan cairan tersebut dengan baik.
Semoga dan selamanya, semoga demikian, batin Bibi Liye yang masih menengadahkan pundaknya untuk Axel kecil bersandar. Bersamaan dengan alunan musik jazz yang mengalun ringan dan tenggelamnya sinar matahari di balik bangunan-bangunan indah kota, menjadi saksi atas keberlangsungan hidup insan lainnya yang bermukim disana. Termasuk Bibi Liye dan Axel di dalamnya. Semoga di Kota ini, menjadi awal yang membahagiakan bagi keduanya mulai sekarang. 💟💟💟
Penjuru lorong Rumah sakit terasa lengang, meninggalkan sisa wewangian obat yang kentara di setiap sudutnya. Mungkin karena sudah malam, beberapa pasien rawat inap sepertinya tengah terlelap di balik sibakan selimut yang hangat. Beberapa perawat yang bertugas juga pulang dan kembali ke rumah, menyisakan yang lainnya untuk tugas jaga malam. Kecuali dengan Axel dan seorang wanita remaja di hadapannya. Desiran angin yang halus menerpa tirai jendela, seakan membiarkan sinar bulan memenuhi keduanya dalam diam.
Selang beberapa waktu, wanita tersebut menampikkan senyumnya samar, berusaha meraih tangan Axel di sela punggung tangan yang terjalin jarum infus pun beberapa perban di atasnya. Sedangkan sang empu hanya menatap sedih seorang raga di depannya, lantas membalas uluran tangan tersebut, sembari mengusap pelan dan ia bawa dalam genggaman.
Sepasang netra di depan Axel kini menatapnya intens, sembari berkata, "Coba ingatkan aku lagi, tentang cerita yang aku lupakan, kak. Aku ingin mengingatnya kembali,"
Axel membenahi anak rambut yang berkeliaran asal ke belakang telinga sang empu di depannya, lantas menjawab, "kita mulai dari saat aku remaja atau dewasa ?"
" Aku sudah ingat tentang masa kecilnya, saatnya bagian remaja saja. "
Axel berusaha menampikkan senyum terbaiknya sekarang. Berharap sang wanita di depannya bisa tertular energi positif yang ia berikan. Meski samar, Axel menghembuskan nafas sembari menganggukkan kepalanya ,
" Baiklah, mari kita lanjutkan pada kisah hidupku, di masa remaja, "
-----
TBC!
HALLO! AKU BALIK LAGI 💖 GIMANA KABARNYA?
SEMOGA BAIK-BAIK AJA YAA <3
BTW, HAPPY 1K READERS 💟💟 senang rasanya bisa sampai di tahap ini, dan terima kasih atas dukungannya!