05 || happiness

107 63 140
                                        

" Happiness is not something you postpone for the future, it is something you design for the present."

❤❤❤

"  Darah pun tubuh anak kecil nan imut itu, kini sedang terkombinasi dan terombang-ambing dengan air di depan mataku. Di dalam aquarium rahasia tuan, Aquarium ikan Arapaima,"

Prang ...prang...prang...

Semilir angin senja bersamaan dengan membulatnya kedua pasang mata pun terbukanya mulut hingga sukses menganga seolah olah 360 derajat oleh Axel, membuat sang empu semakin penasaran tentang apa yang terjadi dalam percakapan di dalam telepon genggam bibinya. Tidak, tidak mungkin kan? tidak mungkin kalau ada manusia lain dalam hidupnya lagi yang akan meninggalkan dirinya seperti satu hari lalu. Ah, Axel mulai merasakan sesuatu, seperti aura negatif yang terjadi disini, terbukti juga dengan mimik muka Bibi Liye yang sukses mengurai bulir air mata dari pasang matanya, lalu mengadahkan kedua tangan untuk menutup muka seluruhnya-sudah tidak tahan lagi untuk sekedar menahan kecamuk kesedihannya sekarang. 

Karena dirundung perasaan yang tidak enak sedari tadi, Axel berusaha mendekatkan diri ke arah plasma pintar Bibi Liye yang tanpa sengaja tergeletak di pinggir trotoar ini. Dengan sedikit usaha merentangkan lengan kanannya untuk mengutip benda pipih tersebut, akhirnya Axel dapat melihat siapa yang sedari tadi berbicara dengan Bibi dari sana.

Hyun-sik 📱📞 ( 15 : 00 )

Kali ini, kerutan dahi yang terpatri di wajah Axel sukses menandakan pertanyaan baru disini. Siapa ini? Namanya bukan seperti nama orang Amerika pada Umumnya?  begitulah benak Axel berargumen tentang nama yang muncul di layar plasma pipih yang ia genggam disana. Namanya seperti nama teman teman dari Asia,ya? tapi bibi berbicara dengan bahasa sehari hari, tuh? 

Otak cerdik Axel memang tumbuh sangat gemilang,  Bukan hanya digunakan untuk sekedar memecahkan beberapa taktik dan pergerakan saja yang harus dilakukan ia  dan timnya ketika berduel dengan tim lain di telepon pintar. Ataupun perihal mengendap endap turun ke lantai bawah saat malam hari hanya untuk sekedar menyantap es krim vanilla disana. 

Intelegensinya dalam memecahkan masalah benar benar disertai dengan prinsip harus menang atau tidak. Harus tahu dan harus selesai. 

Tubuh kecilnya pun ikut membungkuk disana. Memperhatikan sang bibi lekat lekat kala tangisannya mulai reda. Bibi Liye baru sadar, ia baru saja menangis di tempat umum sekarang-entah sudah berapa pasang mata yang melihatnya terbungkuk pilu disana. 

Bibi Liye kembali menatap Axel dengan senyuman iklas disana, dengan sedikit mata sayu dan bengkak karena terlalu banyak menangis belakangan ini. Sudah saatnya untuk melangkah maju, bibi Liye terus melafalkan kalimat tersebut dalam hati sambil mengeratkan tangan dengan tangan Axel juga jinjingan di sisi lainnya. 

Baru saja ingin melangkahkan kaki semampainya, pergerakannya harus berhenti lantaran Axel yang terlihat penasaran dan mematung ditempat. 

" Bi, Ini handphonenya, " ucap Axel sambil menyodorkan benda pipih tersebut dalam genggamannya, " Hyun-sik? siapa,bi? " 

Bibi Liye menatap kikuk atas pertanyaan yang dilontarkan Axel kepada dirinya. Ia kira, sang empu akan benar benar sadar siapa lawan bicaranya beberapa menit lalu, juga topik pembicaraan yang membuat kepala pening dan tangisan air mata dimana mana. Bisa dikatakan, salah satu alasan mengapa Bibi Liye menangis terlalu lama-karena takut Axel menyadari perihal kabar adik perempuannya disana. Pasti sangat berat dan ingin mati saja. 

Bibi Liye mengulas senyum manisnya, bersamaan dengan suara mezo soprannya yang mengalun indah, seperti biasa, " Ah, hanya teman bibi dari Korea, "

Sesuai dengan prinsip segala permasalahan 'harus selesai', sang empu menyilangkan tangannya di dada dan mata yang memicing pun alis yang mengangkat ke atas sebelah layaknya detektif Conan yang sedang mengintrogasi seseorang, " benar begitu,bi? kenapa harus sampai menangis.heum?" 

where's hope? [ ON GOING ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang