" Stop wishin' and start doing! " —a.n
✨✨✨
" I found you, Mrs. Dilian," imbuh suara bariton lelaki tersebut terlantun dalam, diikuti seringai penuh ambisi untuk menghabisi wanita berkepala tiga di balik sibakan pintu di depan netranya.
Bibi Liye terkesiap bukan main. Lihat saja, lelaki misterius di depan matanya kini sedang memasukkan beberapa peluru gotri kedalam airsoft gun yang ia genggam di tumpuan tangan kanannya dengan cekatan. Pun kini sedang berusaha sedikit untuk mengokang pelatuk senjata api tersebut, melihat betapa terisinya lengan kekar tersebut dengan otot-otot maskulin yang terisi di dalamnya. Lelaki tersebut kembali menyeringai tepat ke arah manik Bibi Liye di dalam sana, sudah bersiap untuk membidik dan melepaskan peluru untuk sekedar menghancurkan kaca pembatas yang terpampang disana.
Bibi Liye rasanya ingin mati saja kalau hidupnya tidak lepas dari aksi teror seperti ini. Sungguh, ya! mungkin dirinya akan lebih baik untuk terlahir menjadi budak saat negara di dunia ini mayoritas menganut sistem kerajaan atau seorang pengangguran di era krisis malaise di tahun 1929. Jelas lebih baik untuk dirinya, sebab bisa saja penderitaan ini bisa dibagi-bagi dengan sesama. Tidak ditanggung oleh diri sendiri.
Tapi, apa kuasanya? jelas manusia sudah memiliki takdir mutlak tersendiri dari awal kemunculannya di muka bumi, tentang bagaimana ia dilahirkan, bagaimana kisah masa kecilnya, bagaimana masa remajanya, dan bagaimana ia tumbuh hingga dewasa. Tugas manusia cukup mudah. Manusia cukup menjalaninya saja, walau kadang harus melewati dan merasakan lika-liku kehidupan dan cobaan yang terus berdatangan.
" kuberi kau kesempatan sebelum aku benar-benar melepaskan peluru ini...," ucap lelaki tersebut pelan, sembari mendekatkan wajahnya ke arah jendela pintu kamar, semakin menajamkan maniknya ke arah perempuan di dalam sana, " kau keluar sekarang dan mungkin kubiarkan bebas lalu serahkan anak itu atau...,"
" aku lepas peluru ini, dan peluru lainnya, lalu kami akan menikmati pesta kedua kematian keluarga Dilian yang hina," imbuhnya santai, seakan sebuah kematian adalah sesuatu yang sangat biasa—tidak identik dengan kesedihan.
Apa lagi ini ? jangan-jangan rumah ini..., gumam Bibi Liye di tengah rasa kalutnya yang kentara, lambat laun torsonya mulai menampakkan bulir bulir keringat yang bersimbah di sana. Namun dirinya sebisa mungkin menampakkan ketenangannya di atas pijakan tegel kamar, tanpa terbalut alas kaki sebagai penambah kehangatan.
" Iya li, aku punya segudang rencana yang bisa kulakukan untuk menyingkirkanmu sesegera mungkin, contohnya sekarang ini...,"
" para penembak bawahanku sudah mengepung rumah ini, kau tidak akan bisa lari lagi dari kenyataan, li." ucapnya yang kini penuh dengan penekanan di setiap kata-katanya. Kemudian, meraih sebuah lingkaran logam lama dalam kantung celananya, penghitung waktu.
Ah, apa yang harus aku perbuat? Aku tidak ingin mati sia-sia dengan cecunguk yang tidak ku kenal ini. Aku tidak akan menyerahkan Axel apapun situasinya, gumam Bibi Liye sambil menggigit bawah bibirnya lalu mengarahkan pandangannya ke arah seorang anak kecil yang tengah terlelap mengarungi mimpi dalam balutan selimut abu-abu berhias domba kecil di atas ranjang kamar. Semoga hari ini, keberuntungan masih di tangan kita, sayang.
" cepat buat keputusan, aku akan tekan tombol mulai dan menghitung mundur dalam waktu-,"
Bibi Liye menyela ucapan lelaki tersebut dengan sedikit memajukan torsonya ke arah pintu, pun menyilangkan lengannya sembari berkata, " jangan mengada-ada rencana gilamu ini bisa berhasil. Senjata yang akan kalian tembakkan bisa menghasilkan bunyi suara, dan tetangga samping, belakang, atau depan rumahku bisa saja mendengarnya," sanggah Bibi Liye setenang mungkin. Sudah saatnya mengambil alih permainan ini, memutar balikkan keadaan secepat mungkin.
KAMU SEDANG MEMBACA
where's hope? [ ON GOING ]
Mystery / ThrillerKarena sebuah peristiwa yang membuat dirinya terpaksa menerima keadaan ditingal dan dilupakan, Axel berusaha merubah dirinya, menjadi kejam. Sangat kejam, untuk membalaskan segala kecamuk hidupnya, tanpa seorang pun tahu identitas aslinya. Namun, se...
![where's hope? [ ON GOING ]](https://img.wattpad.com/cover/212526716-64-k507883.jpg)