32. boom

116 18 4
                                    

Siang ini, jadwal tim ricis adalah kolaborasi dengan icha dan datang ke apartemennya karena mereka tim icha sudah mengunjungi rumah ricis kemarin. Hari ini juga formasi tim ricis mengingat wildan yang mengambil cuti terlebih tadi pagi aryesh ijin tidak ikut syuting di apartemen icha, katanya "palingan gue kerumah nanti sorean, ada kerjaan yun".

Tim ricis sudah berkumpul di teras rumah ricis dan bersiap - siap berangkat. Rutinitas seperti biasa, berdo'a sebelum berangkat kemanapun. Satu - persatu memasuki mobil yang biasa dipakai untuk transportasi tim ricis.

***

Disisi lain, ada orang yang sedang bekerja sama untuk mengerjai bos mereka lebih tepatnya kekasih bagi wildan. Ya orang itu adalah wildan dan aryesh, mereka merencanakan sesuatu yang pastinya tidak terduga sebelumnya.

Saat ini mereka sudah sampai di parkiran sebuah apartemen, mereka keluar dari mobil dan tidak lupa tas berisi kamera di bahu wildan. Berjalan memasuki lift dan menuju sebuah apartemen seseorang, sampai didepan pintu mereka mengetuknya "permisi" ucap wildan tanda sopan kepada sang pemilik apartemen

"Astaga, lama banget kalian padahal ricis udah dijalan" heboh pemilik apartemen setelah membuka pintunya

"Berisik dah, cepetan masuk nanti kita kasih tau rencananya" sahut aryesh sambil celingukan melihat keadaan takut - takut ada orang yang melihat terlebih ricis

"Iya udah masuk - masuk" mempersilahkan dan menyingkir untuk memberi jalan kepada tamunya dan menutup pintu setelah semuanya masuk

***

"Kamera udah siap?" tanya ricis sesaat setelah mengabari icha bahwa dia sudah sampai di depan apartemennya

"Siap...ok 1 2 3 mulai" aba - aba kameramen menandakan bahwa kamera sudah mulai merekam

Mereka melakukan opening seperti biasa dan mengetuk pintu apartemen, "assalamualaikum" kata ricis sambil mengetuk pintu

"Waalaikumsalam, akhirnya dateng nih" jawab icha dan cipika cipiki ala perempuan dan mempersilahkan masuk tim ricis yang menjadi pengisi syuting hari ini

"Ya ampun lu tinggal sendiri disini cha?" tanya vazo sambil melepas sepatunya

"Iya gitu deh" jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal

Ricis yang berjalan dulu dan baru sampai didepan tempat tidur icha, hendak duduk dikagetkan karena ada orang yang bergerak di dalam selimut dan seketika ricis langsung diam saat orang itu bangun menyembulkan kepalanya keluar

"Mata gue panas, tolong jangan nangis tolong Ya Allah" batin ricis mencoba menguatkan hatinya

Yang dilihat adalah kekasihnya, wildan. Tidur di apartemen perempuan yang dikenalnya, katanya pergi bersama temannya tetapi ah sudahlah. Sedangkan wildan langsung bangun dan berdiri dengan wajah paniknya.

"Maaf ya ganggu, lanjut nanti aja" pamit ricis menunggingkan senyum paksa sambil berjalan cepat keluar apartemen namun pergerakannya terbatas karena wildan menghalanginya

"Gila lo dan, ijin ternyata kenyataannya gini" ketus vazo yang ikut tersulut emosi

"Jangan manas - manasin zo" sewot wildan yang tidak mendapatkan respon dari vazo karena berlari mengejar ricis

Sedangkan ricis sudah terduduk di lantai yang terdapat dilorong apartemen yang lumayan jauh dari unit apartemen icha, ia berusaha menenangkan diri tapi bagaimanapun dia seorang perempuan. Tanpa diminta air matanya turun, dia menangkup wajahnya dengan tangannya berusaha keras agar air matanya berhenti.

"Cis" panggil vazo berjongkok disamping ricis, yang dipanggil hanya diam sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya

"Come on, gue tau lo kuat" lanjutnya berusaha menyemangati ricis, kemana kameramen? tadi setelah keluar apartemen vazo langsung mengisyaratkan agar kameramen mematikan kameranya

"Ga bisa, gimana ga sakit ati jo? coba kasih tau gue. Tidur di kamar dengan keadaan tadi kancing bajunya kebuka, tolong ajarin gue buat ga berpikiran buruk" ricis meluapkan kekecewaannya atas apa yang dilihatnya dengan suara bergetar

"Cis.." panggil wildan lembut

"Iya?" jawab ricis menyunggingkan senyumnya terpaksa

"Aku..." gantung wildan sebelum melanjutkan perkataannya karena sudah terpotong oleh ricis, "udah ga usah dijelasin takutnya malah tambah bikin sakit hati" ia berkata seperti itu sambil menahan tangisnya dan berdiri hendak pergi namun terhenti...

"Cuman prank" sahut wildan hati - hati wanitanya marah, ya jelaslah dipikir lucu kali ya wk

"..." tidak ada kata yang bisa diucapkan ricis, malah semakin menangis mendengar semua itu dan melepas sandalnya dilemparkan kepada wildan

"Ampun ampun" wildan sambil mengangkat tangannya seolah ditodong pistol oleh polisi

"Nih hadiahnya" lanjutnya sambil memberikan hadiah pada kekasihnya

Saat ini mereka sudah selesai syuting yang akhirnya konten tersebut berisi unboxing hadiah, ternyata isinya adalah tas dari salah satu brand ternama yang sudah lama diinginkannya.

"Gapapa sering - sering prank aku ya" ricis sambil tersenyum menggoda, yang melihatnya hanya tertawa melihat kelakuan mereka

Sedangkan icha, ia sudah tahu bagaimana hubungan kedua orang tersebut. Sekarang dia sudah tidak menyukai wildan, ya karena sudah ada yang punya. Tidak mungkinkan jadi pelakor apalagi setelah tahu bagaimana sayangnya wildan pada ricis.

Vote ya biar semangat:)

Dalam IngatanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang