2

0 0 0
                                    

"Apa? Saya mengalami kelumpuhan?" Nathan terkejut dengan diagnosis dokter. Mulan yang mendengar itu dari balik pintu tidak kalah terkejutnya, dia mengambil teleponnya dan segera mengabari seluruh anggota keluarga Mahendra Ali Saka.

Hari kepulangan Nathan yang seharusnya membahagiakan, berubah menjadi kesedihan dalam sekejap. Mulan mendorong kursi roda Nathan dengan wajah sedih, dia tidak harus berkata-kata seperti apa.

Saat pintu kediaman keluarga Mahendra Ali Saka terbuka, Nathan disambut oleh semua saudara dan pelayan di rumahnya.

"Welcome home, pangeran." Ucap Natasha sambil merangkul Nathan. Natasha berusaha terlihat baik-baik saja, tapi saat dia memeluk saudara kembarnya itu, tubuhnya bergetar dan tangis pecah.

Nathan mengusap punggung adik satu-satunya itu,

"Maafkan aku karena menjadi cacat."

"Ini hanya kelumpuhan sementara, kamu pasti akan sembuh." Ucap Jeremy.

Setelah sedikit drama di depan pintu, semua orang berkumpul di meja makan. Hari ini adalah hari ulang tahun Nathan dan Natasha, tahun yang kesepian sudah berlalu, sekarang semua orang berkumpul di meja yang sama.

"Selamat ulang tahun pangeran, tuan putri, anak-anak kesayangan Ayah." Ucap Mahendra sambil memberikan isyarat kepada pelayan untuk memberikan hadiah.

Nathan membuka kotak persegi panjang itu, isinya adalah kunci teater yang sudah dia tinggalkan selama berbulan-bulan, teater tempat Ayahnya menendang dan meracuninya secara terang-terangan.

"Terima kasih Ayah." Ucap Nathan.

"Lakukan apapun yang kamu suka, jangan bebani dirimu." Balas Mahendra.

Nathan melihat kearah Natasha, saudarinya mendapatkan sebuah kartu nama.

"Anna Putri Alsaka."

Mendengar nama itu, Wisnu tersedak sedangkan Jeremy hampir membanjiri meja dengan air yang disemburkannya. Semua orang di meja makan terkejut mendengar nama itu disebut. Natasha menatap bingung kakak-kakaknya yang seperti baru saja mendengar ledakan.

"Itu nama orang yang Ayah percayakan untuk menemanimu selama magang." Ucap Mahendra setelah keheningan muncul.

"Ayah!" Wisnu dengan jelas terdengar tidak menyetujui keputusan Ayahnya.

"Kenapa? Kalian sudah kenal dengan Anna bukan, seharusnya kalian tidak perlu khawatir."

Jeremy tidak tahu harus memberikan respon seperti apa, dia yang sudah susah payah menjauhkan Anna dari keluarganya karena takut kakak dan Ayahnya marah. Sekarang malah Ayahnya sendiri yang membawa Anna kepada Natasha.

Natasha ingin bertanya tentang siapa perempuan ini sampai membuat kakak-kakaknya kehilangan kenyamanannya. Tapi tidak di meja makan ini, tidak di hadapan Nathan yang baru sembuh, tidak di hari ulang tahunnya.

"Sekarang hadiah dari Bunda." Kencana berusaha mengalihkan pembicaraan, para pelayan meletakkan sepasang kotak berwarna kuning dan biru ke hadapan Nathan dan Natasha.

Nathan dan Natasha kembali membuka hadiah, isi kotak itu adalah sebuah kartu dan selembar kertas bertuliskan sebuah alamat.

"Bunda sudah membelikan rumah untuk Nu, Win, My dan Han, sekarang giliran Than dan Sha." Ucap Kencana dengan nada lemah lembut.

"Terima kasih Bunda." Ucap Natasha dan Nathan bersahut-sahutan.

"Sekarang-"

"Tuan, nyonya, nona diluar ada tuan Josandi." Ucap salah satu pelayan memotong kalimat Wisnu.

Keluarga Mahendra Ali SakaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang