Hanum dan Nina duduk di sebuah kafe, sejak datang Nina terus menggenggam tangan Hanum, dia takut preman yang mengganggunya kemarin mengganggunya lagi. Hanum hanya duduk menatap layar teleponnya, membiarkan Nina menempel padanya.
"Han... Kita pulang aja yuk." Ucap Nina sambil menarik tangan yang digenggamnya.
"Kalau lo mau pulang, pulang aja sendiri, lo datang kesini juga tanpa gue ajak." Hanum berusaha bersikap netral, walaupun dari kalimatnya dia masih berharap Nina bersikap sewajarnya teman.
"Habisnya nunggu lo ngajak pergi itu enggak mungkin." Keluh Nina.
Hanum menurunkan teleponnya, kemudian menatap teman kecilnya itu.
"Kok lo mikir gitu?"
"Udah hampir 1 tahun gue balik ke kehidupan lo, gue berusaha terima kalau wajah gue mirip Sinta, gue di kejar penagih hutang, tapi sikap lo gak berubah, lo masih Hanum yang mengabaikan sahabatnya."
Hanum ingin menyanggah kata-kata Nina, tapi kemudian dia teringat Natasha. Hanum menyadari bahwa dia sudah berubah menjadi orang yang tidak perhatian pada sekitarnya. Hanum menarik nafasnya, kemudian menarik senyumnya dan berkata dengan suara rendah.
"Yaudah gue antar, kopinya juga udah mulai dingin." Mendengar respon Hanum, Nina tersenyum gembira karena bujukannya berhasil.
Setelah membayar kopi yang di pesan, Hanum mengendarai mobilnya di jalanan yang ramai. Melihat orang-orang bersikap biasa saja terhadapnya, sepertinya ketenarannya benar-benar sudah turun. Mungkin dia bisa fokus pada kuliah S2 nya setelah ini.
"Han..."
"Hm?"
"Mau gue bantuin gak buat baikan sama Natasha?"
Hanum baru saja melupakannya dan Nina malah mengingatkannya kembali. Mendengar cerita Nina bahwa Natasha lebih mempercayai bercerita tentang Sinta kepada Nina dibanding dirinya, membuat Hanum terdiam.
"Lo cuman lupa apa yang bikin Natasha sayang sama lo, apa pengorbanan lo yang paling disukai Natasha."
"Pengorbanan?"
"Lo selalu mengalah pada Natasha, itu yang Natasha rindukan. Di malam tahun baru setahun yang lalu, lo ngalah untuk tidak mengambil pekerjaan dan menghabiskan malam bersama Natasha. Bagaimana responnya?"
Hanum mengingat malam itu, malam saat Natasha mengajukan pertanyaan aneh.
"Seandainya waktu bisa kakak putar, mana peristiwa yang ingin kakak perbaiki?"
Hari itu Natasha menunjukkan sisi lemahnya, dimana seorang adik yang ingin mengadu dan mengeluh, tapi Hanum tidak menyadarinya. Pertanyaan itu baru sampai ke hatinya sekarang. Natasha ingin mendengar Hanum menyesali sesuatu.
"Lakukan sekali lagi, kali ini lakukan dengan hati yang tulus, bukan permintaan."
Sepanjang jalan Hanum memikirkan saran Nina, bahkan setelah Nina sudah tidak bersamanya. Mengalah? Apa yang bisa dia relakan? Natasha berhenti meminta kepadanya setelah kejadian pantai waktu itu.
Lampu merah menghentikan Hanum berpikir keras sambil berkendara. Hanum melihat sekelilingnya, berharap sesuatu bisa membantunya berpikir. Kemudian dia teringat pada janjinya pada Natasha, dia belum memenuhinya.
Saat lampu menjadi hijau, Hanum menginjak gas dan segera menuju rumah untuk mempersiapkan hadiah untuk Natasha.
**
Natasha diantarkan Wisnu pulang ke rumah, sebelum Natasha turun, Wisnu memastikan Natasha yakin untuk tidak meninggalkan rumah. Natasha turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Saat langkahnya berhenti di depan pintu kamar, dia melihat selembar kertas di pintunya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Mahendra Ali Saka
Romance*Baca 6 cerita sebelumnya dulu ya.* Semua keluarga memiliki masalahnya sendiri, tapi tidak semua masalah harus di selesaikan bersama keluarga. Start writing : 10 Juni 2021