Ketika seseorang patah hati, tubuh akan retak. Perlahan hingga pecah dan hancur. Kepingan-kepingan dari tubuh manusia akan menjadi bintang baru di angkasa. Sayang, keindahan angkasa tidak seharusnya dari penderitaan orang lain.
Satu-satunya yang da...
Awalnya Athena tidak pernah mempercayai adanya ketulusan dalam cinta. Tidak sedikitpun. Pengaruh dari semenjak kecil, ia bahkan tidak mendapat rasa kasih sayang yang cukup dari orang tuanya.
Tapi,ketika pertama kalinya ia mencintai teman di sekolahnya ia baru mempercayai apa itu ketulusan cinta. Penyakit yang menggerogoti tubuhnya sangat langka. Bahkan hanya sekitar 5% di dunia yang mengidap penyakit itu.
Heart Broken Disease namanya. Penyakit yang membuat tubuhnya retak secara perlahan, ketika ia merasa patah hati. Paling buruknya tubuhnya akan pecah dan hancur bersamaan dengan rasa sakit dari penolakan dari cintanya. Sangat aneh, tapi begitulah yang dialami Athena sekarang.
Akaashi Keiji, laki-laki yang Athena taksir itu. Teman sekelas Athena sekaligus satu kelompok. Pemuda itu pada awalnya sangat clueless kenapa Athena selalu mengikutinya, tapi lambat waktu ia mengerti mengapa.
Tubuh Athena semakin lama retakan semakin banyak. Sehingga Athena memang harus dirawat berhari-hari di rumah sakit, untuk mencegah pendarahan dari keretakan kulitnya. Tentu saja, Athena tidak mau tapi berkat bujukan sang Ibu, Athena mau dengan satu syarat Akaashi selalu menjenguknya. Akaashi menerima syarat itu, ia juga tidak masalah selagi teman sekelasnya bisa sembuh. Haha, padahal penyebabnya karena dirinya sendiri.
"Akaashi, terimakasih sudah terus datang," ucap Athena. Ia menggerakkan sedikit tangannya, memberikan gelang diy yang ia buat jauh-jauh hari, "Terima ini."
"Ya, tak perlu berterima kasih, kau temanku," jawab Akaashi menerima gelang tersebut.
"Haha, aku sudah cukup senang kau menganggapku teman, walau tubuhku menolaknya. Ah, menyebalkan," ucap Athena sambil terkekeh kencang.
"Ah... Maafkan aku. Aku tidak bisa membalasnya..."
"Bukan salahmu! Kau tidak salah!" ucap Athena sambil menggelengkan kepalanya, "Kau tidak perlu merasa bersalah tahu. Terkesan egois jika aku menyalahkanmu, padahal sudah tahu kau tidak menyukaiku, Haha!" lanjutnya tertawa. Tangan kiri Athena kembali retak setelah tawanya berhenti.
"Cinta itu tidak boleh dipaksakan?" Akaashi mengangguk, "Nah aku tidak mau kamu memaksa diri. Toh, percuma kalau memaksa, tubuhku juga akan retak sepanjangnya hubungan."
"Aku lebih baik memilih mati begini, daripada mati karena cinta yang dipaksa," lanjut Athena. Gadis itu tersenyum manis, wajahnya yang pucat dan pipinya yang sudah retak membuat hati Akaashi semakin bersalah.
"...Kau tidak boleh berucap seperti itu. Sebentar lagi pasti ada yang tulus mencintaimu," ucap Akaashi.
"Terlambat... Haha," ucap Athena. Selanjutnya yang terjadi, Akaashi terkejut karena Athena batuk darah. Tangannya mencoba meraih tombol darurat di belakang bangsal Athena, tapi tangan lemah itu menahannya seakan-akan tidak mempedulikan batuk darah itu.
"Hei, aku mau memanggil dokter. Lepas dulu," ucap Akaashi.
"Tidak perlu," jawab Athena.
"Tidak perlu bagaimana?! Tubuhmu makin parah!" Akaashi masih mencoba mengutak-atik handphonenya, mencoba mencari nomor yang dapat dihubungi.
"Kau lupa ya? Penyakitku tidak ada obatnya kau tahu," ucap Athena sedikit dengan nada kencang, ia terbatuk lagi.
"Tapi, tubuhmu?!"
"Tak apa. Memang sudah waktunya kok," ucap Athena santai.
Akaashi tak habis pikir dengan gadis dihadapannya. Terlihat santai, padahal tubuhnya mulai pecah tak beraturannya.
"Aku titip ucapan selamat tinggal kepada orang tuaku ya? Dan kepada teman sekelas. Bilang pada mereka aku menyayangi mereka," ucap Athena, tangan Akaashi meraih tangan Athena yang masih sedikit utuh. "Dan, semoga kamu dapat pasangan yang tulus ya.."
"Hei... Jangan berucap seperti itu."
"Haha, kau takut ya? Maaf. Tapi waktuku memang sudah tak lama," ucap Athena masih sempat tertawa.
"Keiji-kun, terimakasih sudah menemaniku di hari-hari terakhirku. Maaf jika aku menyusahkanmu, ya?" ucap Athena sambil tersenyum.
"Semoga kamu bahagia," berakhirnya ucapan Athena, bersamaan dengan pecahnya seluruh tubuh Athena. Akaashi menangis dalam diam mencoba meraih beberapa pecahan tapi sayang, ia tidak bisa.
Akaashi Keiji, untuk pertama kalinya menangis di kematian seseorang yang tidak ia cintai. Tapi, entah mengapa ia ingin gadis itu tetap hidup. Takdir Tuhan berkata lain, Athena lebih disayang Tuhan dibanding dirinya maupun orang-orang yang menyayangi Athena di dunia ini.
Mulai malam ini, Akaashi akan selalu menatap bintang di gelapnya malam.
"Jika aku sudah pecah seutuhnya, aku menjadi bintang lho! Kau lihat terus ya?! Aku akan menjadi bintang yang paling bersinar karena sudah beruntung mencintai seorang Akaashi Keiji."
•─────────•fin•─────────•
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.