11. Terakhir - TsumuHana

2 0 0
                                    

Written by: yxlianne

•─────────•°•♡•°•─────────•

Aku memang pengecut.

Tidak perlu diberitahu, sudah lama aku menyadari hal itu.

Lihatlah, bukannya berhenti memikirkan banyak hal tak penting, aku justru sibuk mengurung diri di kamar. Mengabaikan segalanya, memilih kabur dari kenyataan.
Lihatlah pula retak-retak di tubuhku yang entah akan bertahan sampai kapan. Perlahan semakin membesar, seolah mengatakan, “Waktumu tidak lama lagi!”

Ponsel di atas meja nakas berdering lagi. Aku bergeming, membungkus diri dengan selimut tebal. Hanya itu yang kulakukan sampai orang di seberang sana menyerah untuk menghubungiku.
Mungkin saja itu Suna. Atau mungkin Osamu. Atau mungkin Kita-san. Entahlah, aku tak begitu peduli.

Masih dalam posisi semula, kusambar gawai milikku dan kumatikan akses internetnya. Terserahlah, hari ini aku tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Sekali pun oleh kucing putih milik tetangga yang kerap kali menyelinap ke dalam kamarku.

Tubuhku masih menempel bak lintah di atas kasur hingga perutku berbunyi keras; tidak biasa diajak berkompromi sama sekali.

Sial. Hujan dan udara dingin memang cepat sekali membuat lapar. Persetan dengan penampilanku saat ini—hanya mengenakan kaus dan celana pendek, rambut awut-awutan, serta kantung mata raksasa mirip panda, aku keluar dari balik selimut dan bangkit menyeret tubuhku sendiri menuju dapur. Perutku harus diisi sesuatu agar aku bisa melanjutkan hibernasi dengan tenang.

Kugaruk bagian belakang kepalaku. Kira-kira makanan apa yang cocok dikonsumsi di saat seperti ini? Hm ..., dua bungkus ramen instan pedas sepertinya cocok untuk mengganjal perut. Dengan mata masih setengah mengantuk, kubuka lemari tempatku biasa menyimpan persediaan makanan.
Namun, tubuhku membeku di tempat untuk beberapa detik furnitur berwarna cokelat itu terbuka.
Tidak ada satu pun makanan di dalam sana.

Aku mengernyitkan dahi, memaksa otakku berputar sekeras mungkin. Bukankah kemarin siang masih ada tiga bungkus lagi? Kenapa sekarang tersisa satu?

Aku langsung berdiri tegak. Masih dengan perut kelaparan, penglihatanku memindai seluruh isi dapur. Bisa kupastikan tidak ada yang terlewat, bahkan sampai ke tiap sudutnya. Begitu tatapan mataku bertabrakan dengan benda di sebelah pintu kamar mandi, nyaris saja kubenturkan dahiku sendiri ke permukaan meja.

Sial.

Aku lupa, kemarin malam aku makan seperti orang kesurupan. Lihatlah, dua bungkus onigiri dan dua bungkus mie ramen kosong sudah berada di dalam kotak sampah.

Itu berarti, aku harus pergi membeli persediaan makanan nanti siang.

Argh, menyebalkan.

Sekarang masih pukul 9 pagi!

*****

Tetesan air hujan membasahi ujung hidung tatkala aku mendongak. Kuhela napas pelan. Dari ujung ke ujung cakrawala, yang kulihat hanyalah gumpalan awan hitam saja.

Hei, nabastala. Apa kau sedang bersedih juga? Lihatlah, tangisanmu membuat orang-orang kerepotan. Hampir setiap orang harus membawa payung agar terhindar dari tetesan air hujan. Tidak hanya manusia, hewan seperti anjing dan kucing pun memilih meringkuk di bawah teras pertokoan, menghentikan sejenak pertikaian yang biasa mereka lakukan.

Aku cukup beruntung karena hujan tidak sederas tadi.

Kuletakkan kantung belanjaanku di bangku begitu tiba di halte bus, sedangkan aku sendiri duduk di sebelahnya sembari menepuk-nepuk perut. Karena masih lapar, tadi aku menyempatkan diri untuk mampir di restoran terdekat sebelum pergi ke supermarket. Semangkuk katsudon hangat dengan uap mengepul yang tadi kumakan benar-benar lezat.

HBD [Heart Broken Disease]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang