Satu

2.2K 107 0
                                        

"Aku mencintaimu dan aku tahu apa resiko mencintai yaitu terluka"
~~~

Happy Reading...


"Ma!" Vivi memasuki kamar tempat Puput dirias. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal, seolah baru saja berlari maraton.

"Ada apa, Teh?" tanya Mama, mengerutkan kening melihat ekspresi panik putrinya. Mama masih sibuk membenarkan hiasan melati di sanggul Puput, yang kini memancarkan aura kebahagiaan sempurna.

Vivi mengalihkan pandangannya pada adiknya. Di tatapnya wajah penuh kebahagiaan di sana, kontras dengan berita buruk yang akan ia sampaikan. Hatinya mencelos.

Bagaimana ia bisa menghancurkan senyum itu?

"A-ali kabur bersama Pira, Ma," cicit Vivi lirih, suaranya nyaris tak terdengar, gemetar menahan gejolak di dadanya. Ia bahkan tidak berani menatap mata Puput langsung.
Senyum di wajah cantik Puput memudar seketika, seperti lukisan yang tersiram air. Matanya yang tadinya berbinar kini kosong, menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan tak percaya. Tidak! Pasti kakaknya hanya bercanda.

Tidak mungkin Ali kabur di hari bahagia mereka. Ini lelucon paling kejam yang pernah Vivi lontarkan.

"Teh, jangan bercanda," Puput menggeleng menyangkal semuanya, tawanya hambar, ada sedikit nada histeris di dalamnya.

"Ini hari pernikahanku, Teh. Jangan main-main."

"Teteh nggak bercanda, Put." Vivi memegang kedua bahu Puput, mengguncangnya pelan, berharap adiknya bisa menerima kenyataan pahit ini. Matanya berkaca-kaca.

"Barusan Teteh dapat telepon dari Arini, tetangga depan rumah Ali. Dia lihat Ali pergi sama Pira pagi-pagi sekali, bawa koper. Mereka naik taksi."

"Nggak! Nggak! Teteh pasti lagi prank aku kan? Nggak lucu, Teh!" Puput terkekeh hambar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia mencoba tertawa, tapi yang keluar hanyalah suara sumbang yang menyayat hati.

"Dia pasti cuma pergi sebentar, Teh. Mungkin ambil sesuatu yang ketinggalan. Iya kan?"

"PUPUT, TETEH SERIUS!" bentak Vivi, tak sanggup lagi menahan emosinya. Ia mengguncang bahu adiknya itu lebih kencang, berharap bisa menyadarkan Puput dari penyangkalan ini.

"Ini bukan waktunya bercanda! Ali benar-benar pergi!"

Tes.

Air mata lolos dari mata Puput, menuruni pipinya yang sudah dirias sempurna. Tubuhnya terjatuh ke lantai, lututnya lemas tak mampu menopang lagi. Ia terisak, isakan itu berubah menjadi raungan pilu yang memenuhi kamar.

"Mas Ali jahat, hiks, kenapa Mas hiks? Kenapa Mas tega sama aku hiks?" pekiknya histeris, memukuli lantai dengan tangannya, melampiaskan semua rasa sakit dan kecewa yang membanjiri dirinya. Gaun pengantin putihnya kini terlihat begitu ironis.

"Sayang, tenang," Mama Puput berjongkok, mencoba menenangkan putri bungsunya yang berteriak histeris. Ia memeluk Puput erat, mengusap punggungnya, namun air mata juga mulai membasahi pipinya sendiri. Hatinya hancur melihat putrinya sebegini terpukul.

"Kenapa, Ma?" Puput menatap sang Mama dengan pandangan sendu, matanya merah dan bengkak.

"Kenapa Mas Ali hiks tega sama aku hiks?" isaknya, suaranya serak dan putus-putus.

"Aku udah nyiapin semuanya, Ma. Aku udah mimpiin hari ini seumur hidupku. Kenapa dia hancurin semuanya?"

Brukk.

Tubuh Puput ambruk ke lantai, tak sadarkan diri. Matanya terpejam, napasnya melambat. Sang Mama dan Vivi berteriak histeris.

"PUPUT!" pekik keduanya histeris, Mama langsung meraih Puput ke dalam pelukannya, mencoba membangunkannya. Vivi panik, tangannya gemetar meraih ponselnya untuk menelepon ambulans.

Sementara di lantai bawah, Papa dan kakak ipar Puput berlari menaiki tangga setelah mendengar teriakan dari Vivi dan Gisela – Mama Puput. Raut wajah mereka menunjukkan kebingungan dan kekhawatiran.

"Ada apa, Ma?" tanya Rayhan – Papa Puput, suaranya berat, jantungnya berdebar kencang. Ia melihat Gisela memeluk Puput yang tergeletak lemas di lantai.

"Ali kabur, Mas! Puput pingsan!" jawab Gisela, suaranya bergetar menahan tangis.

"Astagfirullah," Rayhan langsung menggendong Putri bungsunya itu, tubuh Puput terasa ringan di tangannya, seperti boneka tak bernyawa. Ia membawanya keluar rumah menuju rumah sakit, melangkah cepat dengan wajah tegang. Gisela, Vivi, dan Rendi suaminya mengikuti di belakangnya, wajah mereka semua menunjukkan kepanikan dan kesedihan yang mendalam. Hari yang seharusnya penuh kebahagiaan kini berubah menjadi bencana.

•••

Brakk!

Prang!

"Dasar anak sialan!"

Arga membanting vas bunga di atas meja ruang tamunya dengan napas naik turun, wajahnya merah padam karena amarah yang memuncak. Pecahan keramik berserakan di lantai, mencerminkan kehancuran hatinya.

"A-ayah," cicit Reta pelan, melihat kemarahan suaminya itu. Ia belum pernah melihat Arga semarah ini. Tangannya gemetar memegang sapu, ingin membersihkan pecahan vas, tapi tak berani mendekat.

"Dasar anak tidak tahu diri! Dia tega mempermalukan keluarga kita, Bun! Bahkan dia membuat persahabatanku dan Rayhan meregang!" Arga menunjuk ke arah pintu, seolah Ali masih berdiri di sana, menantangnya. Suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak.

"Bagaimana aku bisa menghadapi Rayhan sekarang? Bagaimana aku bisa menatap wajahnya setelah ini?"
Reta mengusap punggung Arga pelan, mencoba menenangkan suaminya yang dirundung murka.

"Bunda juga tidak pernah menyangka kalau Ali bisa melakukan hal seperti ini," ucap Reta dengan wajah kecewanya, matanya sendu menatap pecahan vas di lantai. Hatinya sakit, bukan hanya karena Ali, tapi juga karena melihat Arga begitu menderita.

"Dia sudah mengecewakan kita semua, Yah."

Arga mengusap wajahnya kasar untuk meluapkan amarahnya saat ini. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu, setiap langkahnya penuh kekesalan.

"Pira itu siapa, Bun? Bagaimana bisa Ali kenal dia? Kenapa dia tidak pernah cerita pada kita?" Ia menatap Reta dengan tatapan menuntut jawaban, seolah Reta menyembunyikan sesuatu.

"Bunda juga tidak tahu, Yah," jawab Reta lirih, suaranya hampir tidak terdengar.

"Ali memang tertutup belakangan ini. Bunda pikir dia cuma sibuk dengan pekerjaannya."

"Sibuk apanya?! Sibuk mengkhianati kita! Sibuk menghancurkan nama baik keluarga!" Arga membanting tangannya ke meja, membuat Reta terlonjak kaget.

"Apa kurangnya Puput, Bun? Dia cantik, baik, dari keluarga terhormat. Kenapa Ali sebodoh ini?!"

Reta hanya bisa terdiam, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak punya jawaban. Hatinya perih memikirkan Puput, gadis malang yang kini harus menanggung aib ini.

"Dimana kamu, Nak?" batin Reta memandang sendu pada pigura foto besar yang terpajang di dinding ruang tamu, menampilkan potret keluarga mereka yang bahagia. Senyum Ali dalam foto itu kini terasa seperti pisau yang mengiris hatinya.

Ali sudah membuatnya sangat kecewa dengan apa yang dilakukannya itu. Kecewa adalah kata yang terlalu lembut untuk menggambarkan badai emosi yang kini melanda hati Reta dan Arga. Mereka hanya bisa berharap Ali segera kembali, atau setidaknya memberikan penjelasan yang bisa meredakan badai ini. Tapi, apakah itu mungkin?

Bersambung...

Jangan lupa Vote dan Coment ya!

Takdir Cinta (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang