Dua

1.4K 104 2
                                        

"Kini hidup menua bersamamu adalah hal ke tidak mungkinan"
~~~

Happy Reading...



"Ma," lirih Puput, suaranya parau dan lemah, membuat Gisela segera menghampiri brankar berisi putrinya itu. Wajah Puput pucat, matanya sembab, dan bibirnya bergetar.

"Ada yang sakit, sayang?" tanya Gisela, tangannya lembut mengusap dahi Puput, merasakan suhu tubuh putrinya yang sedikit hangat. Pertanyaan itu dibalas anggukan diiringi isakan pilu yang kembali pecah dari bibir Puput.

"Di mana yang sakit, sayang?" tanya Gisela khawatir, hatinya mencelos melihat kondisi putrinya. Ia mengira Puput sakit secara fisik.

"Di sini sakit, hiks, Ma, di sini sakit banget, hiks!" Puput terisak sembari memukul dadanya sendiri, di area jantungnya, berharap rasa sesaknya memudar. Air mata tak henti-hentinya mengalir, membasahi bantal rumah sakit.

Gisela terenyuh, air mata juga menggenang di pelupuk matanya. Ia kemudian memeluk Puput erat, mengusap punggung putrinya dengan sayang. Hatinya sakit melihat putrinya terluka sedalam ini, luka yang tak terlihat namun terasa begitu nyata.

"Mama tahu, sayang," lirih Gisela, suaranya bergetar menahan tangis.

"Mama tahu kamu sakit, Mama tahu kamu kecewa."

"Kenapa Mas Ali tega sama aku, Mah, hiks, kenapa?" isaknya, suaranya tersendat-sendat oleh tangis.

"Aku udah percaya sama dia, Ma. Aku udah siap jadi istrinya. Kenapa dia hancurin semuanya?"

"Jangan pernah menangisi pria brengsek itu lagi!" tekan Rayhan yang baru saja memasuki ruang rawat Puput. Suaranya tegas, namun ada nada kesedihan dan kemarahan yang tertahan di sana. Ia melihat Puput yang terpuruk dan dadanya bergemuruh.

Puput memandang sendu sang Papa. Mata Ayahnya terlihat merah, ada kemarahan yang jelas terpancar di sana, namun juga kesedihan yang mendalam. Rayhan berjalan menghampiri putrinya, memegang kedua bahu Puput dengan tangannya yang kekar, menatapnya lurus-lurus.

"Air mata kamu terlalu berarti untuk Papa. Kamu putri Papa yang sangat berharga, kamu tidak pantas menangisi pria brengsek itu!" Nada suara Rayhan meninggi di akhir kalimat, penuh penekanan.

Tangannya yang kekar kemudian menangkup kedua rahang putrinya, mengangkat wajah Puput agar menatapnya.

"Lihat Papa, Nak. Kamu lebih kuat dari ini. Kamu tidak sendiri."

Cup.

Rayhan mencium kening Puput dengan lembut, lama, menyalurkan semua kekuatan dan kasih sayangnya. Kemudian, ia memeluk tubuh putrinya erat, mendekapnya dalam dekapan yang hangat dan penuh perlindungan.

"Kita mulai semuanya dari awal, sayang. Kita akan melupakan kenangan menyakitkan ini bersama," bisik Rayhan di puncak kepala Puput.

"Papa akan selalu ada untukmu, Mama juga. Kita akan melewati ini bersama."

Puput mengangguk dalam pelukan sang Papa, air matanya masih mengalir, namun kini terasa sedikit lebih ringan. Pelukan itu adalah satu-satunya hal yang bisa memberinya sedikit ketenangan di tengah badai hatinya.

Puput selalu berpikir jika dirinya akan hidup menua bersama Ali, pria yang sangat dicintainya. Ia membayangkan memiliki rumah kecil dengan taman di belakang, anak-anak yang berlarian, dan tawa Ali yang selalu mengisi hari-harinya.

Ternyata takdir berkata lain. Mereka tidak bisa bersatu, atau bahkan mereka berdua tidak akan pernah bersatu. Mimpi-mimpi itu kini hancur berkeping-keping, meninggalkan lubang menganga di hatinya.

"Putri kesayangan Papa kuat! Dan Papa tahu itu," Rayhan mengecup puncak kepala Puput sekali lagi, melepaskan pelukan perlahan. Ia menyeka air mata di pipi putrinya dengan ibu jarinya.

Rayhan benci pada orang yang telah membuat putri kesayangannya itu menangis. Dia bersumpah akan menjauhkan putrinya dari Ali, bahkan jika harus mengorbankan segalanya. Nama baik keluarga dan kebahagiaan putrinya adalah prioritas utamanya.

Puput melepaskan pelukan Rayhan, kemudian menatap sang Papa dengan tatapan sayunya, namun kini ada sedikit keteguhan di sana.

"Pa, boleh aku minta sesuatu?" Tangan Rayhan mengusap rambut panjang putrinya lembut, seolah ingin menghapus semua kesedihan dari sana.

"Kamu mau apa, sayang?" tanya Rayhan lembut, siap mengabulkan apa pun permintaan putrinya.

"Aku mau tinggal sama Nenek di Bandung dan lanjutin kuliah aku di sana," ucap Puput, suaranya sedikit lebih jelas.

"Aku butuh tempat baru, Pa. Aku butuh jauh dari sini, dari semua kenangan ini."

Rayhan menatap Gisela sejenak, bertukar pandang penuh pengertian. Gisela mengangguk, mendukung keputusan putrinya.

"Apapun untuk putri Papa," Rayhan tersenyum tipis, senyum yang meyakinkan.

"Kalau itu yang membuatmu tenang dan bahagia, Papa dan Mama akan mendukungmu." Puput tersenyum tipis, senyum pertama yang tulus sejak pagi tadi, kemudian memeluk tubuh cinta pertamanya itu, Papa.

"Aku sayang Papa," ucap Puput, suaranya bergetar karena emosi. Pelukan itu terasa begitu melegakan.

"Papa lebih menyayangimu," Rayhan membalas pelukannya tak kalah erat, menciumi puncak kepala Puput berkali-kali.

"Mama juga sayang kalian!" Gisela langsung bergabung dengan Puput dan suaminya, memeluk keduanya. Mereka berpelukan bertiga, menyalurkan kekuatan dan cinta satu sama lain di tengah badai yang melanda keluarga mereka. Sebuah keluarga yang bersatu, siap menghadapi apa pun demi kebahagiaan putri mereka.




Bersambung...

Jangan lupa Vote dan Coment ya!

Takdir Cinta (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang