Lima

1.4K 97 2
                                        

"Jauh darimu membuatku takut kehilanganmu"
~~~

Happy Reading...

"Om, Ali mohon sama Om, katakan di mana Puput, Om!" Ali mengejar Rayhan yang berjalan dengan dingin menuju mobilnya. Suaranya serak karena tangis, raut lelah terpancar jelas di wajahnya.

Rayhan sama sekali tidak menoleh, langkahnya tetap teguh, seolah Ali tidak ada.

"Om, Ali mohon, Om!" Ali memegang kaki Rayhan, bersujud di sana dengan isak tangis yang pilu. Ia tak peduli dengan harga dirinya, yang penting ia bisa mendapatkan informasi tentang Puput.

"Ali tahu Ali salah, Om. Ali menyesal. Ali mohon, Om…"

"Om, Ali mohon hiks, kasih tahu Ali di mana Puput, Om, hiks?" Ia mendongak, menatap Rayhan dengan mata sembab dan penuh permohonan.

"Ali janji akan perbaiki semuanya, Om. Ali janji akan membahagiakan Puput."

Rayhan memandang dingin pada Ali. Matanya menyiratkan kemarahan dan kekecewaan yang mendalam.

Tanpa basa-basi, Rayhan berjalan dengan sekuat tenaga, menghentak kakinya, membuat Ali terhempas ke lantai. Ia tak punya waktu untuk drama Ali. Yang ada di pikirannya hanyalah putrinya, Puput, yang kini terbaring sakit.

Rayhan masuk ke dalam mobilnya, membanting pintu dengan keras, meninggalkan Ali yang menangis tertunduk di tanah. Mobil Rayhan melaju, asap knalpotnya seolah mengejek kesengsaraan Ali.

•••

Bugh!

Bugh!

Arga menghajar Ali membabi buta, tinjunya mendarat di wajah dan perut Ali, membuat Ali terkapar lemah di lantai rumahnya sendiri. Darah mengalir dari sudut bibir Ali, dan ia terbatuk hebat.

"Yah, sudah, Yah!" Reta menahan tangan Arga yang hendak melayangkan tinjuannya pada perut Ali lagi. Wajahnya panik, tidak tega melihat putranya dipukuli seperti itu, meskipun ia tahu Ali memang bersalah.

Ali terbatuk hebat, merasakan sesak di dadanya, akibat hantaman Arga yang membabi buta. Arga akhirnya mengalah dan melepaskan cekikannya, nafasnya terengah-engah menahan amarah.

"Maafin Ali, Yah, Bun," ucap Ali lirih, suaranya nyaris tak terdengar. Matanya mulai berkunang-kunang, dunia di sekelilingnya mulai gelap, sebelum kesadarannya menghilang. Tubuhnya ambruk, tak sadarkan diri.

"ALI!" Teriak Reta panik saat melihat putranya pingsan. Ia segera berlutut di samping Ali, menepuk-nepuk pipinya.

"Ali! Bangun, Nak! Ali!"

"Ayah, ayo bawa Ali ke rumah sakit, Yah!" pekik Reta, air matanya mengalir deras. Ia menatap Arga dengan tatapan memohon.

"Ck!" Arga berdecak kesal, namun tetap menggendong tubuh Ali yang terkulai lemas. Kemarahan masih terpancar di wajahnya, namun insting sebagai seorang ayah tetap ada. Mereka bergegas membawa Ali ke rumah sakit yang sama dengan Puput, tanpa menyadari takdir sedang mempermainkan mereka.

Puput berjalan di papah oleh Gisela dan Vivi menuju lobi rumah sakit. Wajahnya masih pucat, namun ada sedikit kelegaan karena akhirnya ia diperbolehkan pulang setelah dirawat tiga hari.

Di belakang mereka, terdapat para perawat yang tengah mendorong sebuah brankar menuju ruang UGD, dengan tergesa-gesa. Diikuti oleh seorang wanita paruh baya yang tampak khawatir – Reta – yang terus berucap cemas. Sedangkan raut datar dari seorang pria paruh baya – Arga – terlihat di belakangnya, meskipun ada gurat khawatir yang samar di matanya.

Puput sempat menoleh, merasa ada sesuatu yang menarik perhatiannya, tetapi para perawat itu sudah melewatinya cukup jauh, terlalu cepat baginya untuk melihat dengan jelas siapa yang ada di atas brankar itu.

"Ayo sayang, Papa sudah di parkiran," ucap Gisela, mengusap punggung Puput lembut. Pertanyaan yang berputar di benak Puput segera terlupakan.

Puput mengangguk, mereka berjalan keluar dari rumah sakit menuju parkiran. Cahaya matahari siang terasa menyengat, kontras dengan suasana hatinya.

Rayhan turun dari mobil kemudian membantu putrinya untuk masuk ke dalam mobil. Ia mendudukkan Puput dengan hati-hati di kursi penumpang depan, memastikan Puput merasa nyaman.

Mobil pun melaju, meninggalkan pekarangan rumah sakit itu. Di sepanjang perjalanan, Puput hanya memandang keluar jendela dengan pandangan kosong, pemandangan kota Bandung yang seharusnya ramai terasa asing baginya. Pikirannya melayang jauh, kembali pada kenangan manis yang kini terasa begitu menyakitkan.
Kilas Balik

"Sayang mau ke mana?" tanya Ali saat melihat Puput beranjak dari duduknya di sofa ruang tamu Ali. Mereka sedang menghabiskan malam minggu bersama, menonton film.

"Aku mau ke dapur, Mas," jawab Puput, tersenyum manis. "Mau ambil minum."

"Jangan jauh-jauh dari aku, ya. Kamu di sini saja," Ali menarik Puput hingga Puput terjatuh di pangkuannya. Tangannya melingkar erat di pinggang Puput, menariknya semakin dekat. Aroma parfum Ali yang khas memenuhi indra penciumannya.

"Kenapa, Mas? Aku kan cuma ke dapur," ucap Puput, terkekeh pelan, menyandarkan kepalanya di dada Ali.

"Jauh dari kamu membuat aku takut," bisik Ali di telinga Puput, suaranya lembut dan penuh kehangatan.

"Takut?" Puput menatap Ali yang berada di belakangnya, alisnya terangkat.

"Takut kehilangan kamu," jawab Ali, mencium puncak kepala Puput dengan penuh sayang.

"Kamu adalah duniaku, Sayang."

Kembali ke Masa Kini.

Puput memejamkan matanya, bersandar ke jendela mobil. Air mata kembali menetes, membasahi pipinya. Kata-kata Ali di masa lalu kini terasa ironis, bahkan menyakitkan.

"Dan kamu sudah kehilangan aku, Mas." batin Puput, dengan suara yang bergetar dalam hatinya. Ia tidak tahu apakah ia akan pernah memaafkan Ali, atau apakah ia akan bisa melupakan rasa sakit ini. Yang jelas, ada batas yang telah Ali lewati, batas yang membuat Puput merasa tak akan pernah bisa kembali ke pelukan Ali lagi.


Bersambung...

Jangan lupa vote dan Coment ya!

Takdir Cinta (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang