"Aku berharap minuman sialan itu bisa menyalurkan begitu frustasinya aku tanpa kamu"
~~~
Happy Reading
Botol minuman keras itu dihabiskan dalam sekali tegukan, cairannya membakar kerongkongan Ali. Pakaian kantornya yang tadinya rapi kini berantakan, kancing kemejanya terbuka, dasinya terlepas, dan rambutnya acak-acakan. Matanya merah dan bengkak, jejak air mata kering terlihat jelas di pipinya.
"Hiks, di mana kamu, sayang?" lirihnya, suaranya parau karena alkohol dan tangisan yang tak henti. Matanya terpaku pada sebuah figura foto yang menampilkan wajah Puput, gadisnya. Senyum Puput dalam foto itu terasa seperti siksaan.
"Bagaimana bisa aku melakukan hal setega itu, hiks, sama kamu, hiks?" Isakannya semakin keras, bahunya bergetar hebat. Penyesalan itu bagai racun yang perlahan membunuh dirinya.
Prang!
Botol kaca yang kosong itu dibantingnya ke dinding, pecah berkeping-keping, mencerminkan hatinya yang hancur.
"ALI BRENGSEK! HAHAH!" Ali tertawa miris, tawa yang penuh dengan keputusasaan dan rasa benci pada dirinya sendiri.
"Di mana kamu, sayang?" lirihnya lagi, kini ia merosot ke lantai, memeluk lututnya. Ruangan mewah di apartemennya terasa dingin dan kosong, sama seperti jiwanya.
"Perut aku sakit, sayang, karena terus minum minuman sialan ini," tubuhnya yang dulunya kekar dan penuh vitalitas, kini terlihat kurus dan bergetar hebat. Tangannya memukul dadanya berulang kali, berharap rasa sesak yang menghimpitnya segera hilang. Tetapi rasa sakit itu bukan dari fisik, melainkan dari lubuk jiwanya.
"Maafin Mas, sayang!" Ali menatap figura yang menempel di dinding, di sana terpampang potret Puput dan dirinya saat bertunangan. Mereka tampak begitu bahagia, begitu serasi. Sebuah kenangan yang kini terasa seperti mimpi buruk.
Mata Ali menatap tangannya, di sana masih tersemat cincin pertunangan mereka. Cincin yang dulu melambangkan janji setia, kini menjadi pengingat pahit akan kesalahannya.
"Maaf, sayang," tangannya mengusap lembut cincin itu, seolah menyentuh tangan Puput.
"Maafkan Mas yang bodoh ini."
Di tempat lain, di sebuah taman yang rindang di Bandung, suasana jauh berbeda. Cahaya matahari sore menyinari wajah cantik seorang gadis yang kini jauh lebih tenang dan dewasa.
"Puput, will you marry me?"
Gadis cantik itu menutup mulutnya tak percaya, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menatap pria di hadapannya, Rafael, pria yang selama lima tahun terakhir telah menjadi sahabat terbaiknya, sandarannya, dan kini… harapan barunya.
"Fael, maksudnya apa?" tanyanya, suaranya bergetar antara haru dan tak percaya. Jantungnya berdebar kencang, sebuah perasaan yang berbeda dari yang pernah ia rasakan dulu.
Pria tampan itu tersenyum manis, senyum yang menenangkan, kemudian membuka kotak beludru kecil berwarna biru tua yang berisi sebuah cincin berlian. Cincin itu berkilauan indah, mencerminkan ketulusan hatinya.
"Maukah kamu jadi teman hidup aku? Selalu ada di samping aku, suka maupun duka? Will you marry me, Puput?" ucapnya sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas, penuh keyakinan. Ia berlutut di hadapan Puput, menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
Air mata kebahagiaan akhirnya tumpah dari mata Puput. Ia mengangguk, tanpa ragu sedikit pun.
"A-aku mau, Fael!" ucapnya, suaranya tercekat.
Rafael tersenyum lebar, senyumnya mampu menerangi seluruh taman. Ia segera bangkit dan memeluk erat tubuh gadis itu, mengangkatnya sedikit dari tanah, berputar kegirangan. Sesekali ia mencium puncak kepala Puput, menyalurkan semua kebahagiaan yang ia rasakan.
Rafael melepaskan pelukannya, namun tangannya masih menggenggam erat tangan Puput. Ia meraih tangan Puput dan memasangkan cincin berlian itu di jari manis gadisnya. Cincin itu pas sempurna, seolah memang ditakdirkan untuknya.
Kemudian Rafael kembali memeluk tubuh Puput, kali ini lebih lembut, membiarkan Puput bersandar padanya. Pelukan itu dibalas erat oleh gadis itu, air mata masih mengalir, namun ini adalah air mata kebahagiaan yang sesungguhnya.
Rafael beberapa kali mengucapkan
"Terima kasih, terima kasih, sayang" di sela-sela pelukannya. Ia merasa seperti pria paling beruntung di dunia. Puput, setelah sekian lama menyembuhkan luka hatinya, kini bersedia membuka lembaran baru bersamanya. Sebuah lembaran yang penuh harapan dan kebahagiaan.
Maaf semuanya aku baru bisa Up sekarang! Jangan lupa baca ya!
Jangan lupa Vote dan Comen ya!
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Cinta (END)
RomanceHari Pernikahan Hari dimana seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan untuk Puput malah menjadi hari yang paling menyakitkan untuknya. Ali, sang tunangan membatalkan pernikahan mereka karena kembalinya masalalu yang masih dicintai oleh Ali...
