Sepuluh

152 6 1
                                        

"Ragu"

~~~
Happy Reading...

Brukk!

Ali yang sedang berjalan terburu-buru menabrak seseorang di koridor gedung perkantoran. Ia hampir saja terjatuh, namun berhasil menyeimbangkan diri.

"Maaf, saya nggak senga—" Ali menghentikan ucapannya begitu matanya bertemu dengan mata orang yang ditabraknya.

"Ali?" Suara itu terdengar familiar, namun ia tak yakin.

"Sierra?" Ali menyebut nama itu dengan ragu. Gadis di depannya tampak jauh lebih dewasa, namun senyum manis dan mata cerah itu tak berubah.

"Hai, Li, apa kabar?" tanya Sierra seraya tersenyum manis, membetulkan sedikit tatanan rambutnya.

"B-baik, kamu apa kabar?" tanya Ali, merasa canggung sekaligus lega bisa bertemu dengan teman lamanya.

"Aku baik, Li. By the way, katanya kamu udah nikah ya?" tanya Sierra, polos. Ia mendengar kabar itu dari teman-teman mereka di media sosial.

Ali terdiam, senyumnya memudar. Pertanyaan itu menohoknya telak. Bagaimana tidak terkejut, bukannya Ali dan Puput itu saling mencintai? Lalu kenapa mereka gagal menikah? Berita yang beredar begitu cepat, namun detailnya tidak pernah jelas.

"Pernikahan aku gagal, Sie," ucap Ali lirih, suaranya sarat penyesalan.
Sierra membekap mulutnya terkejut.

"Sori, Li, aku nggak tahu. Kalau boleh tahu kenapa? Bukannya kalian saling mencintai ya?" tanya Sierra hati-hati, tak ingin menyinggung.

Wajah Ali berubah sendu mendengar pertanyaan Sierra. Ia tersenyum kecil, senyum pahit yang menyiratkan luka dalam.

"Semua salah aku, Sie. Makanya kita gagal menikah," ucap Ali, menatap ke lantai, menghindari tatapan Sierra.
Alis Sierra bertaut mendengar ucapan Ali yang tidak bisa ia mengerti. Salah apa Ali sampai pernikahan semegah itu bisa gagal?

"Aku selingkuh dari Puput," ucap Ali, seakan menjawab pertanyaan yang tertanam di pikiran Sierra. Suaranya begitu pelan, nyaris tak terdengar, namun cukup jelas untuk Sierra.

Mata Sierra membulat mendengar kejujuran yang tiba-tiba dari Ali. Ali selingkuh? Bukannya mereka saling mencintai? Ini sungguh di luar dugaannya.

Ali menunduk, tersenyum kecil, senyum yang penuh rasa bersalah. Ia tahu pasti gadis di depannya menjadi hilang respect kepadanya saat mendengar pengakuannya barusan. Ia sudah siap untuk itu.

"Maaf, Li, aku terlalu kaget dengar semuanya kalau kamu sama Puput gagal menikah. Padahal yang aku lihat kamu dan Puput saling mencintai," ucap Sierra, merasa tak enak hati karena ia telah bertanya terlalu dalam.

"Semua salah aku, Sie, dan sekarang aku kehilangan dia," ucap Ali, senyum miris kembali terukir di bibirnya. Ia mengangkat wajahnya, menatap Sierra dengan tatapan kosong.

"Aku kehilangan segalanya karena kebodohanku."

"Sabar, Li, bagaimanapun jika kalian berjodoh, kalian pasti akan kembali bersama," ucap Sierra, mencoba menghibur. Ia menepuk bahu Ali lembut, berusaha menyalurkan sedikit kekuatan.

"Takdir punya caranya sendiri, Li."

"Terima kasih, Sie," Ali mengangguk, sedikit lega karena Sierra tidak menghakiminya sekeras yang ia bayangkan.

"Aku duluan ya, Li. Senang bisa ketemu kamu lagi," Sierra tersenyum tipis sebelum beranjak pergi, meninggalkan Ali dengan semua penyesalan dan pikiran yang berkecamuk.

•••

Puput menatap rintik hujan dari jendela kamarnya. Suara gemericik air yang jatuh menenangkan, menciptakan melodi lembut yang mengiringi pikirannya. Tanpa sadar, sebuah senyuman terukir dari bibirnya.

Ingatannya melayang pada saat ia tengah berteduh dengan Rafael, sang tunangan. Semua tawa, cipratan air hujan, dan kehangatan susu jahe di warung kecil itu kembali terbayang jelas.

Apa mungkin jika dirinya bisa jatuh cinta secepat itu? Pertanyaan itu berkelebat di benaknya. Apa perasaan ini hanya sebuah rasa nyaman? Ia merenungkan, membedah setiap perasaannya. Nyaman adalah awal yang baik, tapi apakah itu cukup untuk membangun cinta sejati?

"Semoga aja aku bisa melupakan Mas Ali dan menggantikannya dengan kamu, Mas Fael," Puput tersenyum kecil, tulus, mengingat perlakuan manis yang dilakukan Rafael kepadanya. Rafael selalu ada, selalu sabar, dan selalu membuatnya merasa aman. Ia tahu Rafael mencintainya tanpa syarat.

Vivi yang sedari tadi memperhatikan sang adik tersenyum-senyum sendiri, kini berjalan menghampiri sang adik. Ia senang melihat Puput kembali ceria.

"Cieee yang lagi jatuh cinta," goda Vivi, mencolek pinggang Puput, membuat pipi Puput bersemu merah.

"Salah gak, Teh, kalau aku jatuh cinta secepat ini?" Tanya Puput pada Vivi, mencari kepastian dan dukungan dari kakaknya.

Vivi tersenyum, mengusap pundak adiknya lembut. "Nggak salah kok, sayang. Kamu berhak jatuh cinta sama siapa pun, yang penting kamu jangan sampai menjatuhkan hati kamu sama orang yang nggak tepat. Teteh nggak mau adik Teteh disakiti lagi," ucap Vivi, suaranya penuh kasih sayang dan ketulusan.

"Cinta itu datang kapan saja, Put. Terkadang, cinta terbaik datang setelah kita melalui masa-masa sulit."
Karena sebagai seorang kakak, Vivi ingin yang terbaik untuk adiknya. Ia telah melihat betapa hancurnya Puput dulu.

Semoga Rafael adalah orang yang tepat untuk adiknya, itulah batin Vivi, penuh harap. Ia percaya, kali ini Puput akan menemukan kebahagiaan sejati.


Bersambung...

Jangan lupa Vote dan Comment ya!

Takdir Cinta (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang