Tiga

1.4K 106 6
                                        

"Penyesalan terbesarku adalah saat aku melepaskanmu demi dirinya"
~~~

Happy Reading...

Ali berdiri di depan pintu apartemen milik Pira, tangannya terangkat mengetuk pintu unit apartemen itu. Denyut jantungnya berpacu, membayangkan senyum bahagia Pira saat melihat kejutan yang ia bawa.

Tok…tok…tok.

Satu detik… dua detik… masih tidak ada sahutan dari dalam. Ali mengerutkan kening, sedikit bingung.

Pira bilang dia akan ada di apartemennya hari ini.
Ali menatap bucket bunga mawar merah di tangannya sambil tersenyum, membayangkan wajah bahagia Pira melihat kejutan darinya.

Ia bahkan sudah menyiapkan beberapa kalimat manis untuk Pira, meminta maaf atas segala keraguan dan keterlambatannya.
Tangannya terangkat mengetuk kembali pintu itu, kali ini sedikit lebih keras.

Tok…tok…tok.

Ceklek.

Pintu terbuka, menampilkan seorang pria bertelanjang dada dan hanya memakai boxer. Rambutnya sedikit acak-acakan, seolah baru bangun tidur atau baru saja melakukan sesuatu yang intens. Wajahnya menunjukkan sedikit kekesalan karena terusik.

"Cari siapa ya?" tanya pria itu, menatap Ali dari atas hingga bawah dengan tatapan menyelidik, seolah Ali adalah pengganggu.

Ali merubah raut terkejutnya menjadi datar kembali. Jantungnya bergemuruh, firasat buruk mulai merayap.

"Saya mencari Pira," ucap Ali dingin, suaranya berusaha tetap tenang, namun ada getaran samar di sana.
Pria itu tersenyum tipis, senyum yang entah mengapa terasa mengejek.

"Ada urusan apa Anda mencari istri saya?" tanyanya, membuat Ali semakin terkejut mendengar penuturan pria itu. Kata 'istri' bagai palu godam yang menghantam kepalanya.

"Istri?" cicit Ali, bibirnya nyaris tak bergerak. Dunia seolah berhenti berputar.

Pria itu mengangguk, sorot matanya tajam, seolah mengukuhkan klaimnya.

"Ya, aku Rendi, suami Pira."

Rahangnya mengeras setelah mengetahui kenyataan sebenarnya mengenai wanita yang masih dicintainya. Bucket bunga di tangannya terasa memberat, seolah mengejek kebodohannya. Ada rasa sakit yang menusuk, bercampur dengan amarah yang mendidih.

"Siapa Say—yang?" cicit Pira, suaranya sedikit serak, muncul dari balik punggung Rendi. Wajahnya yang baru bangun tidur tampak terkejut saat melihat kehadiran Ali di apartemennya. Matanya membulat, menatap Ali dengan horor.

"A-ali?" gumamnya, tidak terdengar jelas di telinga Rendi, namun cukup jelas bagi Ali.

Rendi mengerutkan kening, menatap Pira dengan tatapan bertanya.

"Kamu mengenalnya, Baby?" tanyanya sembari melingkarkan lengannya di pinggang Pira, memeluknya posesif.

Pira tersentak, tatapannya beralih antara Ali dan Rendi. Wajahnya memucat.

"A-aku tidak mengenalnya!" jawabnya cepat, terlalu cepat. Nada suaranya sedikit meninggi, ada kepanikan yang jelas.

Deg.

Mengapa rasanya sangat menyakitkan saat melihat kenyataan yang baru saja diketahuinya? Seolah ada seribu jarum menusuk ulu hatinya. Ali mengepalkan tangannya, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Selama ini ia membuang Puput demi wanita ini? Wanita yang sekarang berani menyangkal perkenalan mereka?
Ali berdecak, senyum sinis tersungging di bibirnya mendengar perkataan Pira yang seolah-olah tidak mengenalnya. Padahal, Pira yang datang mengemis-ngemis untuk kembali dengannya, datang dengan air mata dan janji-janji palsu. Kenangan itu kini terasa pahit di lidahnya.

"Sepertinya saya salah apartemen," ucap Ali, suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi. Ia menarik napas dalam, berusaha mengendalikan diri.

"Kalau begitu saya permisi," lanjutnya, tanpa menunggu jawaban, ia segera berlalu dari hadapan Rendi dan Pira, memunggungi pemandangan menyakitkan itu.
Pira menghela napas lega setelah Ali berlalu dari hadapan mereka. Tubuhnya sedikit lemas.

"Ayo, sayang, kita masuk!" Pira menggandeng tangan Rendi, menariknya memasuki apartemennya kembali, seolah tak ada yang terjadi. Mereka berdua sama sekali tidak tahu betapa dalam luka yang baru saja mereka torehkan di hati Ali.

Ali melempar bucket bunga di tangannya ke dalam tempat sampah yang berada di parkiran, tangannya gemetar, amarah dan kekecewaan meluap. Bunga-bunga mawar merah itu kini tergeletak tak berdaya, sama seperti perasaannya. Ia kemudian memasuki mobilnya, membanting pintu dengan keras, dan mengemudikannya dengan kecepatan penuh, menembus jalanan Majalaya yang ramai, seolah ingin melarikan diri dari kenyataan.

Ali menghentikan mobilnya di pinggir jalan, di tempat yang sepi, jauh dari hiruk pikuk kota. Tangannya memukul setir dengan kesal, melampiaskan frustrasi yang membuncah.

"Arrrghhh!" Ali menjambak rambutnya frustrasi, wajahnya kusut, matanya terpejam erat. Kenapa ia sebodoh ini? Kenapa ia baru menyadari semuanya sekarang?

Tiba-tiba, sekelebat bayangan Puput dengannya hadir, membanjiri benaknya. Ingatan-ingatan manis itu kini terasa bagai siksaan.

"Mas, jangan pernah tinggalin aku ya," Puput menatap Ali dengan mata berbinar, penuh cinta dan kepercayaan. Mereka sedang duduk di bangku taman, di bawah pohon rindang.

"Nggak akan! Dan nggak akan pernah!" Ali memeluk Puput dari samping, mencium puncak kepalanya, berjanji sehidup semati. Janji yang kini terasa begitu kosong.

"Aku cinta kamu, Mas."

Cup.

Puput mencium pipi Ali sekilas, membuat Ali tersenyum manis, membalas kecupan itu dengan kehangatan.

"Mas juga cinta kamu," ucap Ali, tulus, dari lubuk hatinya.

Puput tersenyum manis, menatap Ali dengan binar cinta di matanya, sebuah pandangan yang selalu mampu menenangkan badai di hati Ali.

Ali membuka matanya, genangan air mata tampak di sana. Ia tersenyum getir saat membayangkan wajah Puput yang tengah tersenyum padanya. Betapa polos dan tulusnya gadis itu.

Tapi senyumnya memudar saat mengingat apa yang telah ia lakukan, pasti melukai gadis itu. Ia sudah menyakiti Puput begitu dalam, menghancurkan hari terpenting dalam hidupnya. Penyesalan itu menghantamnya telak.

"Maafkan Mas, sayang," lirih Ali, suaranya bergetar, penyesalan menggantung di setiap katanya. Ia kemudian menjalankan kembali mobilnya, kali ini bukan untuk melarikan diri, melainkan menuju kediaman Puput, berharap masih ada kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Hatinya dipenuhi harapan tipis, bercampur ketakutan akan penolakan. Ia tahu, jalan yang akan ia tempuh sangatlah terjal.

Bersambung...

Jangan lupa Vote dan Coment ya!

Takdir Cinta (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang