"Tentang Kamu yang selalu hadir dimimpiku"
~~~
Happy Reading...
Senyuman itu, senyuman yang paling ia rindukan selama ini. Sebuah senyuman yang mampu meluluhkan setiap sudut hatinya, senyuman yang kini hanya bisa ia lihat dalam alam mimpinya.
"Sayang?"
Gadis ber-dress biru muda itu tersenyum manis, senyum tulus yang memancarkan kebahagiaan, kemudian berjalan menuju pria itu dengan riang, langkahnya ringan seolah tak memijak bumi.
"Mas!" teriaknya senang, suaranya merdu bagai melodi yang telah lama Ali rindukan.
Greb!
Pria itu memeluk erat gadis di dalam pelukannya, seakan takut jika ia melepaskan pelukannya, wanita di pelukannya ini akan menghilang. Aroma tubuh Puput yang khas, kelembutan rambutnya, semua terasa nyata.
"Mas rindu, sayang!" Pelukannya mengerat, ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Puput, seolah ingin menyimpannya.
"Aku juga rindu sama Mas Ali!" Puput membalas pelukan Ali tak kalah erat, menyandarkan kepalanya di dada Ali, mendengarkan detak jantungnya yang berpacu kencang.
Ali melepaskan pelukannya perlahan, kemudian menangkup kedua pipi gadis itu dengan tangan gemetar. Matanya menatap lekat wajah Puput, mencoba memastikan ini bukan hanya ilusi.
"Ini kamu, sayang?" Tangannya yang kekar mengusap pipi berisi gadis itu, merasakan kelembutan kulitnya.
"Ini aku, Mas," ucapnya tersenyum manis, hingga lesung di sebelah kiri bibirnya terlihat. Tangannya yang mungil mengusap lengan Ali, seolah menenangkan.
"Maafin Mas, sayang!" lirih Ali, suaranya bergetar menahan tangis. Ia menggenggam erat tangan Puput, jemarinya mengunci jemari Puput, tak ingin lagi melepasnya.
Puput menunduk, senyum di wajahnya memudar, membuat Ali semakin waspada. Jantungnya mencelos, takut jika ini hanyalah mimpi dan ia akan terbangun.
"S-sayang?" ucap Ali was-was, suaranya hampir tak terdengar.
Puput mendongak, kemudian tersenyum manis, senyum yang meyakinkan, membuat Ali menghela napas lega. Ketakutannya sedikit mereda.
Ali kembali memeluk Puput erat, mendekapnya dalam dekapan yang seolah tak ingin berakhir, membuat gadis cantik itu terkekeh pelan. Suara kekehan Puput adalah musik terindah bagi Ali.
"Sayang?!" panik Ali saat tubuh Puput tiba-tiba menjadi samar-samar, seperti asap yang tertiup angin. Pelukannya terasa kosong.
"Mas," bisik Puput, suaranya mulai menjauh.
"PUPUT!"
"SAYANG!"
Teriak Ali saat tiba-tiba tubuh Puput perlahan menghilang, lenyap begitu saja dari pelukannya, dari pandangannya. Ruangan itu kembali terasa dingin dan kosong.
"SAYANG!"
Keringat dingin membasahi tubuh Ali. Pria itu sontak membuka matanya dan langsung terduduk di ranjangnya. Napasnya terengah-engah, jantungnya berdegup kencang seperti habis berlari maraton.
Apa itu barusan?
Apa ia baru saja bermimpi bertemu dengan gadis yang ia cintai itu? Mimpi yang terasa begitu nyata, namun berakhir dengan kehampaan yang menusuk.
Ali memejamkan matanya, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar. Namun, setetes air mata lolos dari matanya, membasahi pipinya.
"Aku rindu kamu, Sayang," lirihnya, suaranya parau. Kerinduan itu kini terasa begitu menyiksa, mimpi itu hanya memperparah lukanya.
•••
Sementara di sisi lain, di kota Bandung yang dingin, seorang gadis tengah melamun, tanpa menghiraukan sang tunangan yang mengajaknya bicara. Tatapannya kosong, menembus dinding restoran.
Apa kabar dia di sana? Apa dia baik-baik saja? Apa dia makan dengan teratur? Pikiran tentang Ali selalu saja muncul, meskipun ia berusaha keras untuk melupakannya. Lima tahun telah berlalu, dan luka itu masih ada, meskipun sudah tertutup oleh kebahagiaan baru.
Setetes air mata lolos dari mata sipit itu, mengalir perlahan di pipinya. Ia membayangkan jika orang yang tengah ia pikirkan saat ini tengah hidup bahagia dengan wanita pilihannya itu, seperti yang dulu ia bayangkan untuk dirinya dan Ali. Ia tahu Ali dulu meninggalkannya untuk Pira, dan ia berasumsi Ali pasti sudah hidup bahagia dengan wanita itu.
"SAYANG!" Teriak Rafael, suaranya sedikit keras, membuat Puput tersentak kemudian menoleh pada sang tunangan, tersadar dari lamunannya.
"Kamu kenapa melamun?" tanya Rafael, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Matanya menatap Puput lekat-lekat, menyadari kesedihan di mata tunangannya.
Puput menyeka air matanya dengan cepat, kemudian menggeleng, berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Aku nggak apa-apa kok," ucapnya tersenyum meyakinkan, senyum yang tak sampai ke matanya.
"Cuma… sedikit lelah."
Rafael sontak mengangguk mengerti, meskipun ia tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran Puput. Namun, ia tak ingin mendesak. Ia percaya Puput akan bercerita padanya jika sudah siap.
"Ayo kita pulang sekarang, sebentar lagi larut," ajak Rafael, bangkit dari kursinya. Ia mengulurkan tangannya pada Puput.
Puput mengangguk, kemudian merangkul tangan Rafael erat, merasakan kehangatan dan ketenangan yang dipancarkan pria itu. Mereka berjalan keluar dari salah satu restoran di Bandung itu, melangkah menuju masa depan yang telah mereka rencanakan bersama, masa depan tanpa Ali. Namun, kenangan itu, seperti benang tipis, masih saja menghubungkan mereka berdua.
Bersambung...
Maaf ya kalau aku baru update sekarang.
Jangan lupa Vote dan Coment ya biar aku semangat update ceritanya!
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Cinta (END)
RomanceHari Pernikahan Hari dimana seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan untuk Puput malah menjadi hari yang paling menyakitkan untuknya. Ali, sang tunangan membatalkan pernikahan mereka karena kembalinya masalalu yang masih dicintai oleh Ali...
