Empat

1.4K 96 6
                                        

"saat ini tujuan pertamaku adalah mendapatkanmu kembali"

~~~

Happy Reading...

Mobil yang dikendarai oleh Ali berhenti di depan sebuah rumah dua lantai bercat biru muda. Jantungnya berdebar kencang, antara harapan dan ketakutan.

Ali keluar dari mobilnya, dengan langkah ragu ia mengetuk pintu bercat putih itu.

Tok…tok…tok.
"Sayang!" teriak Ali, suaranya serak. Ia mengintip pada jendela samping pintu, berharap melihat bayangan Puput di dalam.

Tok…tok…tok.

Ali kembali mengetuk pintu itu, kali ini sedikit lebih keras. Tapi tidak ada tanda-tanda orang yang akan membuka pintu bercat putih itu. Keheningan rumah itu terasa menusuk, seolah menertawakan kebodohannya.

"SAYANG, AKU TAHU KAMU DI DALAM!" Teriak Ali, suaranya pecah.

"AKU TAHU KAMU MENDENGARKU!"

"MAAFKAN AKU SAYANG, AKU MENYESAL!" Ia berteriak lagi, lebih keras, berharap suaranya menembus dinding dan sampai ke hati Puput.

"AKU SALAH! AKU SANGAT SALAH!"
Ali menggedor pintu itu dengan brutal, tangannya memukul-mukul kayu, matanya sudah berkaca-kaca. Ia tidak ingin kehilangan Puput. Tidak setelah semua yang ia sadari. Rasanya seperti ada sesuatu yang tercekat di tenggorokannya, membuatnya sulit bernapas.

"SAYANG, PUPUT!" Ali kembali berteriak memanggil Puput, namanya terucap penuh keputusasaan.

"TOLONG KELUAR! BICARA DENGANKU, SAYANG!"

"Sayang, aku mohon keluar," lirih Ali, suaranya kini melunak, penuh permohonan. Ia menatap sendu pintu rumah Puput, seolah pintu itu adalah satu-satunya penghalang antara dirinya dan kebahagiaannya.

"Berikan aku kesempatan untuk menjelaskan, sayang. Kumohon."
Sepasang mata di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari sana memandang Ali dengan tatapan penuh arti. Matanya tajam, tidak ada sedikitpun simpati di sana.

Ia melihat betapa frustasinya Ali, bagaimana pria itu memohon dan menggedor pintu dengan putus asa. Tapi itu tidak sebanding dengan apa yang dirasakan adiknya saat ini, Puput.

Ya, dia adalah Vivi. Vivi berniat membawa baju ganti untuk Gisela ke rumah, tapi ia melihat sebuah mobil yang ia kenali berada di halaman rumah orang tuanya. Jantungnya bergemuruh marah begitu menyadari siapa pemilik mobil itu.

Vivi sangat membenci pria itu. Pria yang sudah membuat adiknya menangis, pria yang sudah menghancurkan kebahagiaan adik kesayangannya, bahkan membuatnya pingsan. Vivi merasakan kemarahan yang mendalam, membakar habis semua sisa simpati yang mungkin ia miliki.

Bahkan Vivi bahagia melihat keterpurukan pria yang tengah menangis di depan rumahnya itu. Biar saja Ali merasakan sedikit dari apa yang dirasakan Puput. Ini adalah karma, pikirnya dingin.

Vivi menjalankan kembali mobilnya menuju rumah sakit, tak ingin membuang waktunya melihat adegan menyedihkan itu.

Sedangkan di sisi lain, Ali berjalan dengan lemas menuju mobilnya. Bahunya merosot, keputusasaan merayapi setiap langkahnya. Dia akan kembali lagi nanti untuk meminta maaf pada Puput, bertekad untuk tidak menyerah.

"Maafkan Mas, Sayang," bisik Ali pada dirinya sendiri, suaranya dipenuhi penyesalan.

"Mas mencintai kamu, dan Mas harus mendapatkan kamu kembali." Ia mengepalkan tangannya.

Katakan saja Ali egois. Menginginkan Puput kembali setelah menyakitinya begitu dalam. Tapi ia baru menyadari betapa berharganya Puput baginya, dan ia tidak akan melepaskannya begitu saja.

Ali memasuki mobilnya, memandang rumah itu sekilas sebelum menjalankan mobilnya kembali. Di benaknya, ia sudah menyusun rencana untuk memenangkan kembali hati Puput.

Puput menatap senja di balik jendela ruang inapnya dengan pandangan kosong. Warna jingga keemasan yang dulu ia cintai kini terasa hambar, bahkan menyakitkan.

Dia teringat saat dulu bersama Ali, sebelum semuanya hancur seperti sekarang.

Flashback

Puput berdiri di atas balkon apartemen Ali sambil melihat langit jingga yang terbentang luas. Angin semilir menerpa rambutnya.

"Langitnya indah ya?" ucap Ali sambil memeluk Puput dari belakang, dagunya bersandar di bahu Puput, menghirup aroma rambut gadisnya.

"Kamu jangan jadi senja ya," ucap Puput tanpa menatap Ali, matanya masih terpaku pada cakrawala. Ada nada sendu di suaranya.

Ali mengerutkan kening. "Kenapa? Senja kan indah?" tanyanya, sedikit bingung.

"Iya, senja itu memang indah," ucap Puput, memandang langit jingga di atasnya, warnanya yang memukau perlahan memudar.

"Tapi nggak semuanya yang indah akan berakhir indah," ucap Puput, suaranya terdengar jauh.

"Contohnya Senja, datangnya cuma sesaat karena malam telah merampasnya. Jadi aku mohon jangan pernah jadi senja ya, indah tapi… sesaat." Puput menatap Ali dari samping, mata mereka bertemu. Ada kekhawatiran yang tersirat dalam sorot matanya.

Kembali ke Masa Kini
Air mata Puput menetes saat sekilas bayangan tentangnya dan Ali hadir bagai rekaman di ingatannya. Kata-kata itu, janji-janji itu, semua kini terasa ironis.

"Kamu itu indah, tapi hanya sesaat," gumam Puput lirih, dengan air mata yang terjatuh membasahi pipinya. Ia merasakan sesak di dadanya, seolah senja itu kini telah merampas semua kebahagiaannya. Ia tidak tahu apakah ia akan bisa merasakan indahnya senja lagi, ataukah hatinya akan selamanya diselimuti kegelapan.

Ia menutup matanya, berharap kenangan itu menghilang, berharap ia bisa melupakan Ali dan semua rasa sakit yang dibawanya. Tapi bagaimana mungkin ia melupakan cinta pertamanya?

Bersambung...

Jangan lupa Vote dan Coment ya!

Takdir Cinta (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang