Sebelas

25 3 0
                                        

"Rasa yang perlahan Mulai hadir tanpa diduga.."

~~~

Happy Reading...

Setelah pertemuan tak terduga dengan Ali di koridor gedung perkantoran, Sierra jadi berpikir keras. Sebuah ide, atau mungkin harapan, mulai tumbuh di benaknya.

Apa boleh dia memperjuangkan perasaannya lagi, apalagi saat mengetahui jika pria yang ia sukai itu tidak jadi menikah? Jantungnya berdesir setiap kali mengingat wajah Ali yang tampak terluka.

Dulu, ia selalu mengubur dalam-dalam perasaannya karena Ali sudah bersama Puput. Tapi sekarang? Keadaan sudah berbeda. Ia tahu Ali menyakiti Puput, tapi di sisi lain, ia juga melihat betapa hancurnya Ali.
Sierra duduk di meja kerjanya, menopang dagu dengan tangan.

"Kalau memang Ali tidak bahagia dengan pilihannya dulu, dan sekarang sendirian..." gumamnya pada diri sendiri.

"apakah ada kesempatan untukku?"

Ia menarik napas dalam, memikirkan segala kemungkinan. Tentu saja, ia tidak akan melakukan apa pun yang bisa menyakiti Puput lagi, teman lamanya. Tapi, bagaimana jika ia bisa membawa kebahagiaan untuk Ali?

"Sie, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Risa, rekan kerja Sierra, yang baru saja kembali dari pantry.

Sierra tersentak, pipinya sedikit merona.

"Eh, nggak apa-apa, Ris. Cuma lagi mikir project baru." Ia berusaha mengalihkan pembicaraan, belum siap berbagi isi hatinya.

"Oh, project apa? Kayaknya seru banget sampai senyum-senyum begitu," goda Risa, mengambil tempat duduk di samping Sierra.
Sierra terkekeh canggung.

"Bukan project kantor sih, lebih ke project pribadi." Ia menatap layar komputernya, namun pikirannya masih melayang pada Ali. Haruskah ia mencoba mendekati Ali lagi? Atau itu terlalu egois?

•••

Sementara di sisi lain, Puput yang mulai mencintai Rafael, kini tengah menyiapkan outfit untuk kencan mereka akhir pekan ini. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya saat ia membayangkan tawa Rafael.

"Merah atau biru ya?" gumam Puput, memegang dua dress berbeda. Ia menoleh pada Vivi yang sedang membaca majalah di tempat tidur.

"Teh, menurut Teteh, bagusan pakai yang mana?" tanya Puput, mengangkat kedua dress itu.
Vivi melirik dari balik majalahnya.

"Tergantung mau ke mana, Dek. Tapi dua-duanya bagus kok, kamu cantik pakai apa aja." Ia tersenyum jahil.

"Cie, udah mikirin penampilan buat Mas Fael ya?" Puput tertawa, pipinya bersemu merah.

"Ish, Teteh! Kan biar mood kencan makin bagus." Ia kemudian memilih dress berwarna biru.

"Teh, aku beneran ngerasa... nyaman banget sama Fael. Aku ngerasa bisa jadi diriku sendiri."

Vivi melipat majalahnya, duduk tegak, menatap adiknya dengan lembut.

"Itu bagus, Put. Kenyamanan itu penting dalam hubungan. Kamu juga pantas bahagia."

"Tapi... apa ini beneran cinta ya, Teh? Atau cuma rasa nyaman aja?" Puput menatap Vivi, ada sedikit keraguan di matanya.

"Aku takut salah lagi."
Vivi menghela napas, meraih tangan Puput dan menggenggamnya.

"Cinta itu kan banyak bentuknya, sayang. Awalnya mungkin nyaman, lalu tumbuh jadi sayang, terus jadi cinta yang dalam. Yang penting, Fael membuatmu bahagia, kan? Dia bikin kamu merasa aman, dihargai?"
Puput mengangguk mantap.

"Iya, dia selalu perhatian, selalu sabar sama aku, dan dia nggak pernah maksa aku buat melupakan masa lalu. Dia malah bantu aku buat sembuh."

"Nah, itu dia. Kalau kamu merasa tenang dan bahagia saat bersamanya, kalau kamu melihat masa depanmu dengannya, mungkin itu memang cinta, Put," kata Vivi, menepuk pipi adiknya.

"Jangan terlalu banyak berpikir, rasakan saja. Hati itu nggak bisa dibohongi." Puput tersenyum tulus.

"Aku harap juga begitu, Teh. Aku pengen banget bisa bener-bener move on dan mencintai Fael seutuhnya."

"Pasti bisa, sayang. Teteh yakin itu," Vivi memeluk adiknya erat.

"Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan, Put. Fael adalah pria baik."

Puput membalas pelukan Vivi, hatinya terasa lebih ringan. Ia tahu, ia harus melangkah maju. Masa lalu biarlah berlalu. Ia kini punya Rafael, dan ia akan belajar mencintainya sepenuh hati.

Bersambung...

Jangan lupa Vote dan Comment ya!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 16, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Takdir Cinta (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang