Enam

1.4K 92 3
                                        

"Senyummu, dan kehadiranmu adalah sesuatu yang sangat aku rindukan"
~~~

               Happy Reading...

Lima Tahun Kemudian...

Ali kini telah tumbuh menjadi seorang pria dewasa dengan karier yang cemerlang. Ruang kerjanya yang modern dan elegan di salah satu gedung pencakar langit Jakarta menjadi saksi bisu kesuksesannya.

Namun, di balik kesuksesan itu, ada kekosongan yang tak pernah terisi.

"Apa kabar, sayang?" tanyanya lirih, suaranya sedikit parau, seolah berbicara pada angin. Tangannya mengusap sebuah figura foto yang berdiri tegak di meja kerjanya. Foto seorang gadis tengah tersenyum manis, menutup mulutnya, dengan mata yang berbinar penuh kebahagiaan. Itu adalah foto Puput, foto yang selalu ia pandangi setiap kali merindukan gadis itu.

Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kerjanya yang empuk, memejamkan mata sejenak, membiarkan ingatan akan Puput membanjiri benaknya.

"Aku rindu kamu, sayang," lirihnya lagi, sebuah pengakuan yang hanya bisa ia ucapkan pada foto itu.

Brakk!

Suara pintu yang dibuka paksa dengan keras membuat Ali tersentak, buyar dari lamunannya. Ia membuka mata dan menghela napas panjang, sudah hafal dengan drama yang akan terjadi.

"Gue dulu yang masuk!" sebuah suara melengking terdengar.

"Gue dulu!" sahut suara berat lainnya.
Ali hanya bisa menggelengkan kepala melihat pemandangan di hadapannya. Kedua lawan jenis itu, Lily dan Dito, saling memandang tajam, seolah siap berperang.

Kemudian, mereka serempak mengalihkan pandangan sambil berdehem canggung, membetulkan pakaian masing-masing.

"Dasar cabe-cabean!" sindir pria itu, Dito, dengan nada meremehkan, melirik Lily dari ujung kaki hingga kepala.

"APA LO BILANG?!" sewot Lily, matanya melotot tajam, tangan kanannya sudah siap melayang.

"CABE-CABEAN!" Dito berkata tepat di hadapan wajah gadis itu, menekankan setiap suku kata, seolah ingin memprovokasi.

"Heh, dasar terong lo!" Lily, gadis berpakaian kantor rapi itu, menunjuk wajah Dito di hadapannya dengan jari telunjuknya.

"Gak apa-apa terong daripada cabe!" bela Dito, dadanya membusung bangga.

"Jadi terong aja bangga lo!" ketus Lily, memutar matanya malas, rambutnya yang tertata rapi sedikit berantakan akibat emosi.

"STOP! LILY, DITO!" Tegas Ali, suaranya terdengar berat dan dalam, menghentikan pertengkaran tak berujung itu. Ia sudah terlalu jengah dengan tingkah kedua bawahannya ini.

Lily dan Dito seketika mingkem, bibir mereka terkatup rapat, seperti anak SD yang tertangkap basah berbuat nakal. Aura serius dari Boss mereka sudah berbicara.

"Elo sih!" gumam Lily sambil menyenggol kaki Dito dengan kakinya yang dilapisi heels, menyalahkan Dito atas teguran Ali.

Dito melotot protes pada Lily. Kenapa gadis itu hobi sekali menyalahkannya?

"Asu lo!" gumam Dito, cukup keras untuk didengar Lily.

Lily menjulurkan lidahnya meledek, merasa menang.

Ali menghela napas, mencoba tetap tenang.

"Ada apa kalian ke ruangan saya?" tanyanya dengan wajah datarnya, namun ada nada lelah di sana.

"Begini, Pak Ali, kedatangan saya ke sini untuk memberitahu Bapak nanti siang harus meeting dengan perusahaan Art Corp," ucap Lily dengan nada formal, seolah pertengkaran barusan tidak pernah terjadi. Lily adalah sekretaris Ali di kantor.

Awalnya Ali tidak menginginkan wanita yang menjadi sekretarisnya, tetapi ia memikirkan bahwa Lily berbeda dengan wanita di luaran sana yang selalu menggodanya. Lily memang cerewet dan terkadang kekanak-kanakan, tapi ia profesional dan setia pada pekerjaannya.

"Dan Kamu, Dito?" tanya Ali, mengalihkan pandangannya pada Dito yang segera berdehem, merapikan kemejanya.

"Saya ingin memberitahu jika perusahaan di London sudah menerima kerja sama dengan perusahaan kita, Pak," ucap Dito, senyum bangga tersungging di bibirnya.

Dito adalah asisten Ali. Ali selalu menyuruh Dito untuk ikut dirinya ketika perjalanan bisnis ke luar negeri atau ke luar kota. Dan selalu menggantikan Ali disaat Ali sedang ada kepentingan. Dito adalah tangan kanan Ali yang paling ia percaya, meskipun sering adu mulut dengan Lily.

"Baik, terima kasih atas informasinya. Silakan ke ruangan kalian masing-masing!" ucap Ali, menunjuk pintu.

"Kami pamit undur diri, Pak," Lily dan Dito berkata serempak.

Ali berdehem menjawab perkataan Lily dan Dito. Mereka berdua kemudian keluar dari ruangan Ali, namun bisikan saling ejek masih terdengar sebelum pintu tertutup sempurna.

Ali kembali mempelajari materi untuk meeting nanti siang. Namun, pandangannya sesekali tertuju pada figura foto Puput di mejanya. Seberapa pun sibuknya ia, seberapa pun jauh ia melangkah, hati dan pikirannya selalu kembali pada gadis itu. Ia bertanya-tanya, bagaimana kabar Puput sekarang? Apakah ia sudah melupakannya?

Bersambung...

Jangan Lupa Vote dan Coment ya!

Takdir Cinta (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang