Gio memarkirkan motornya di garasi. Menghela napas sejenak sebelum akhirnya beranjak. Memasuki rumah yang bisa di bilang sangat mewah. Rumah yang selama hampir 18 tahun ini dia tempati. Menjadi saksi bisu segalanya. Tangisnya, tawanya, semuanya.
Saat dia menapakan kaki di ruang keluarga, dia mendapati kehadiran seseorang. Seseorang yang amat dia benci. Seseorang yang menyebabkan semua dunianya berubah.
Tanpa menghiraukan orang itu, Gio melanjutkan langkahnya menuju kamar. Dia enggan. Sangat enggan bertemu apalagi bicara dengan orang itu. Namun, baru saja Gio menginjak anak tangga ke-empat, sebuah suara menginterupsi, membuat Gio menghentikan langkahnya.
"Gio!"
Gio berbalik, menatap orang itu malas. Seharusnya, orang itu tau jika Gio enggan berbicara padanya.
"Apa?" Gio mendekat. Sebenarnya Gio tidak harus juga untuk meladeni orang itu, tapi Gio masih memiliki tatakrama. Meskipun dia membenci orang itu, Gio harus tetap menghormatinya. Bagaimanapun juga, dia adalah kelurganya--Omnya.
"Om ingin membicarakan sesuatu sama kamu." Sukma Wirakusumo Valerin nama orang itu. Dia adalah adik dari Ayah Gio.
Gio mendelik. Gio tau omnya itu akan berbicara tentang apa. Karena, setiap kali Sukma datang kemari, dia selalu membicarakan masalah itu. Perusahaan keluarga Valerin. Perusahaan yang ditinggalkan oleh kakek juga ayahnya.
"Perusahaan biar om yang megang, jangan kamu." Sukma berbicara tegas, menatap Gio datar.
"Kenapa?" Gio bertanya, tentu saja. Perusahaan itu di percayakan untuknya oleh mendiang kakek dan ayah. Lalu, kenapa Sukma ingin mengambilnya? Padahal Sukma sudah memiliki perusahaannya sendiri.
Sukma mendengus. "Kamu masih anak SMA, Gio. Belum waktunya kamu memimpin sebuah perusahaan besar milik keluarga Valerin," katanya.
"Trus, kalo saya masih SMA kenapa? Masalah?" Gio kembali bertanya. Menatap omnya itu dingin, tanpa ekspresi. Ayolah, Gio muak membicarakan ini.
"Tentu saja masalah! Kamu masih ingusan! Kamu hanya anak SMA berandalan yang taunya hanya main dan main. Mana sempat kamu mengurus perusahaan sebesar itu! Jadi, jalan terbaiknya adalah dengan memberikan kekuasaan perusahaan pada om."
Gio berdecih. Jalan terbaik katanya? Jalan terburuk mah, iya! Omnya pikir Gio tidak tahu tujuan dan maksud dari itu semua. Gio tahu. Omnya itu hanya ingin menguasai semua harta keluarga Valerin yang sebagian besar di tinggalkan untuknya.
"Buktinya perusahaan baik-baik aja, kan, di urus sama saya selama ini? Tidak pernah ada masalah sedikitpun." Gio berjalan lebih mendekat pada omnya yang tengah duduk di sofa seperti seorang raja.
"Om kira saya nggak tau tujuan om, ya? Saya tau, om." Gio berujar santai, terkekeh sinis saat melihat reaksi Sukma.
"Maksud kamu apa?!" Sukma berdiri dari duduknya. Menatap nyalang Gio seakan-akan tatapan itu akan membunuh Gio saat itu juga.
"Om ngelakuin ini semua, buat nguasain harta keluarga Valerin, kan?" Pernyataan Gio tersebut membuat tangan Sukma terkepal kuat. Menahan seluruh emosi yang bergemuruh dalam dadanya.
"Om, berhenti. Om udah punya bagiannya tersendiri, ngapain mau ambil punya saya? Apa perusahaan om nggak cukup besar? Jangan di butakan oleh harta, om."
Sukma tertawa. Tawa yang terdengar menyebalkan di telinga siapa saja yang mendengarnya, terutama Gio.
"Kamu tanya ngapain, kenapa? Karena sebagian besar harta keluarga Valerin kamu yang pegang! Kamu pikir, saya ngapain harus susah-susah bunuh kakak saya sendiri kalo bukan karena semua ini?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
SENIOR JUTEK (On Going)
Teen FictionKata Kiera, Gio itu kayak cuaca. Suka berubah-ubah dan nggak bisa di tebak. Kata Kiera, Gio itu devinisi 'Dakjal' yang sesungguhnya. Dia udah suka, eh, Gionya malah nggak. Dan kata Kiera juga, Gio adalah manusia terkuat yang pernah ada di hidupnya...
