Bab 10 - Akhir Pekan

24.5K 3.1K 15
                                        

Jika biasanya aku baru bangun sekitar jam 9 atau jam 8, di pagi Sabtu kali ini aku sudah mandi dan berpakaian di pukul 7.30. Tentu saja bukan untuk olah raga, melainkan volunteering acara kantor. Ya, aku memutuskan untuk ikut daripada bengong di rumah dan memikirkan yang tidak-tidak. Apalagi ternyata Edo dan Rifni juga ikutan. Kalau Arisha? Dari dulu ia sudah mengatakan bahwa Sabtu adalah hari yang sakral untuk tidur dengan tenang sepanjang hari, bukan hanya untuk 'balas dendam' setelah lima hari bekerja, tapi juga persiapan untuk bermalam minggu sampai pagi.

Sebentar lagi aku akan dijemput Azi. Sumpah aku nggak meminta untuk dijemput, tapi kemarin ia menanyaiku apakah aku jadi ikut volunteering ini dan menawarkan tumpangan. Kalau dipikir-pikir sih aku memang enggan untuk bawa mobil sendiri—mobil papaku, takutnya mengantuk. Apalagi rumah Azi juga cukup dekat dengan rumahku, bukan di Probolinggo atau Banyuwangi misalnya, yang  butuh waktu berjam-jam untuk ke Lebak Bulus sini.

Pukul 7.35, Azi mengirimkan pesan.

Azi: Udah di depan ya.

Aku pun langsung keluar rumah dan mendapati sebuah mobil sedan hitam terparkir di depan pagar.

Aku membuka pintu mobil. "Hai, sori ya nunggu lama."

Azi mengernyit. "Emangnya 2 menit itu waktu yang lama ya buat lo, Bi? Oke, maafnya diterima."

Aku memandangnya bingung.

"Dari gue WA sampai lo muncul di depan pagar tadi itu paling cuma 2 menit."

"Oh... iya ya? Hehe. Gue memang udah siap sih, tadi lagi nunggu aja di depan tivi." Aku pun juga bingung sendiri kenapa tadi bilang 'sori nunggu lama'. Mungkin sudah terbiasa basa-basi seperti itu setiap kali dijemput orang.

"Hebat. Biasanya cewek kalau dijemput mesti nunggu 2 jam dulu baru keluar."

"Haha. Pengalaman ya?"

Azi tertawa kecil. "Tapi udah sarapan kan?"

"Umm, lo?" Aku dan Azi lihat-lihatan. Lalu sama-sama menggeleng pelan.

"Mau nyari sarapan dulu?" tanyanya.

"Telat nggak nanti?"

"Yang ringan aja... Nasi uduk mau?"

Aku tertawa. "Nasi uduk tuh ringan ya buat lo? Kirain roti atau apa gitu..."

"Kan lo sukanya itu. Kalau croissant entar nggak kenyang lagi?"

"Oh iya, memang."

"Lagian nggak lucu kan kalau volunteer-nya pingsan, entar anak-anak di sana yang malah volunteering buat ngangkat lo ke rumah sakit."

Aku tertawa lagi. "Ironis sih kalau gitu."

Rasa-rasanya aku semakin nyaman dengan Azi saat ini. Aku bisa merasakan ia ternyata sedikit lebih konyol dari yang aku kira sebelumnya. Entah karena kami mulai dekat, atau aku yang tidak terlalu peduli sebelumnya. Jujur saja, Azi bukan hanya pribadi yang charming ketika baru kenal, tapi juga semakin menarik ketika mengenalnya lebih jauh. Apalagi aku bukan perempuan yang bisa gampang tertarik dengan laki-laki hanya dari penampilan fisik maupun status sosial.

Kami pun menyempatkan sarapan nasi uduk gerobakan yang parkir di depan sebuah ruko yang masih tutup.

"Oya, nanti gue turun duluan aja, Zi..." Aku mengatakan pelan, tidak yakin apakah akan membuatnya tersinggung. Tapi ia hanya menjawab dengan santai, "oke." Aku hanya tidak ingin turun dari mobil berbarengan, takut disangka yang nggak-nggak sama volunteer lain. Syukurlah Azi sepertinya juga mengerti.

Kami telah sampai di depan gerbang sekolah. Aku turun dari mobil dan Azi lanjut mencari parkir.

***

Acara volunteering berjalan dengan lancar selama tiga jam. Kira-kira ada sekitar 20 karyawan dari berbagai divisi yang terlibat sebagai relawan hari ini. Anak-anak terlihat senang mengikuti materi yang kami berikan. Ah, ternyata sesekali menjadi seorang pengajar menyenangkan juga, walaupun tidak mudah, tapi ada kepuasan tersendiri ketika bisa memberikan suatu kontribusi positif ke lingkungan sekitar.

"Pulang naik apa, Bi? Taksi?" tanya Edo ketika acara sudah selesai.

"Mmm... Belum tahu sih."

"Ke GI yok. Mau nggak?"

"Atau lo mau pulang sama mas yang itu ya?"

Edo menunjuk ke Azi yang sedang istirahat, agak jauh dari kami. Aku pun langsung grogi.

Edo dan Rifni malah tertawa. Sepertinya buat mereka 'guyonan' tersebut lucu.

"Jangan lah, bau keringet gitu. Mending kalau lo udah mandi," ucap Rifni.

Duh. Bener juga sih. Jangan-jangan aku sudah bau keringat lagi setelah kegiatan seharian tadi? Nggak bawa baju ganti pula!

Aku pun melihat penampilanku saat ini yang sudah lusuh dengan kulit yang terasa lengket. Sungguh aku tidak ingin berada dalam satu mobil dengan Azi. Baunya pasti terasa.

Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Azi. Aku melihatnya dari jauh, ia sedang melihatku juga.

Azi: Bi... Mau pulang jam berapa?

Aku: Gue pulang sama Edo sama Rifni aja, Zi. Mereka ngajak ngopi dulu.

Azi: Oh gitu.

Aku melirik ke Azi di seberang sana yang masih duduk dan sedang menatap layar ponselnya. Aku tidak tahu apa isi pikirannya saat ini, tapi entah kenapa aku mulai merasa tidak enak. Bagaimanapun juga kami pergi bersama-sama pagi tadi.

Aku: Mau ikut?

Please say no, please say no...

Azi: Boleh.

Hmmm.

Aku melihat ke arah Edo dan Rifni. Aku mesti bilang apa ke mereka? Masa tahu-tahu bilang kalau Azi mau ikut?

"Kenapa, Bi?" Rifni melihatku heran. Sepertinya aku memberikannya pandangan kosong dari tadi.

Aku pun jadi gelagapan.

"Oh, anu.. Umm... Boleh ngajak Azi nggak?"

Edo dan Rifni terpana. Lalu mereka menoleh ke Azi yang duduk sekitar 10 meter dari kami. Lalu mereka melihatku lagi.

"Azi?" Serempak mereka bertanya dengan nada penasaran.

"I-iya... Gue tadi basa-basi ngajak dia. Kan memang kami berdua temanan."

"Yakin cuma teman?" Rifni berseloroh.

"Ya iyalah, memang apa? Kakak adek?!" semprotku tidak mau kalah.

"Yaudah, santai saja kali Bi. Eh, tapi nih gue pesenin ya, jangan sia-siain kesempatan. Si Azi itu udah bachelor paling eligible di perusahaan kita! Nggak usah sok cool cuma mau 'temenan' sama Azi. Temenan tuh cukup sama kita berdua." Edo tertawa. Sepertinya puas sekali menceramahiku.

Dasar mulut-mulut empang ikan mujair, nggak ada filternya! Baru juga ngajak Azi ngopi, gimana lagi kalau mereka tahu aku sama dia berangkat bareng pagi ini? Langsung digotong ke KUA kali.

Aku menarik napas. Entah kenapa orang lain melihat kami seperti lagi pedekate, padahal aku sendiri masih hanya mau berteman akrab dengan Azi.

Sesungguhnya aku memang agak kikuk dengan situasi seperti ini. Terakhir kali aku dekat dengan  seorang cowok sekitar 5 bulan yang lalu. Itu pun—seperti biasa—tidak berlanjut karena bagiku cowok tersebut tidak begitu membuatku nyaman, walaupun lumayan.

"Oke. Tapi inget ya, JANGAN NORAK," seruku.

Edo dan Rifni tidak berkata apa-apa, hanya menyeringai lebar seakan baru menang taruhan.

NostalgiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang