Bab 8 - Asing Tapi Familiar

26.2K 3.4K 54
                                        


Aku mungkin termasuk satu dari segelintir orang yang menyenangi Jakarta, terlebih lagi saat malam hari di atas jam 9 seperti ini. Tidak ada kesemrawutan lalu lintas meskipun masih ramai dengan kendaraan, tidak ada lagi panas terik yang menaikkan emosi sampai ke ubun-ubun, dan juga hampir tidak ada yang terburu-buru karena dikejar waktu.

Namun Jakarta malam ini terasa berbeda. Dirga menyetir dengan tenang di sampingku. Aku hanya bisa menyenderkan badanku ke belakang dengan kepala ke samping. Dengan keadaanku saat ini, aku tidak mempunyai cukup tenaga untuk gugup atau salah tingkah. Yang kuinginkan sekarang hanya sampai di rumah secepatnya.

Ia sedang sibuk menggonta-ganti siaran radio. Sepertinya tidak ada lagu yang ia suka. Dirga pun beralih menyetel playlist dari dalam ponselnya sendiri yang terkoneksi lewat bluetooth. Setelah memilih beberapa lagu, tiba-tiba ada terdengar lagu Baby Shark yang sangat populer untuk anak-anak. Aku terkejut lalu melihatnya.

"Kamu punya bayi apa gimana?"

"Kakakku baru punya anak. Sekarang setahun umurnya. Aku pake lagu ini kalau lagi jagain dia. It works."

"Oh... Cowok atau cewek?"

"Cowok. Namanya Aras."

"I see. Seru ya pasti punya keponakan?"

"Iya, asal nggak disuruh ganti popok aja."

Ingin rasanya aku bertanya banyak hal mengenai keluarganya dan kehidupannya saat ini, tapi setiap kali aku mencoba, pikiranku selalu memberi peringatan dan alasan untuk menjaga jarak dengannya. Aku pun tidak lagi melanjutkan percakapan kami tentang keponakannya tersebut.

Perutku masih terasa mual dan kepalaku terasa semakin sakit setelah berada di mobil selama beberapa saat. Aku juga merasa Dirga sedikit ngebut. Entah cara menyetirnya memang seperti ini atau karena jalanan sudah cukup lengang. Tanpa pikir panjang aku menggapai lengan kirinya karena dorongan dari dalam diriku yang ingin mobil ini berjalan lebih lambat. Ia agak kaget lalu menoleh ke arahku.

"Sorry... agak pelan bisa, Ga?"

Ia tidak mengatakan apa pun tapi kini ia menyetir dengan lebih pelan.

Beberapa saat kemudian kami tiba di lampu merah. Dirga pun memberhentikan mobilnya. Tiba-tiba aku merasa ingin muntah. Hal ini memang kerap terjadi jika migrainku sudah cukup parah.

"Are you okay?" tanya Dirga.

Tentu saja tidak, ucapku dalam hati.

"Pengin muntah nggak?" tanyanya lagi.

"Dikit," jawabku lemah.

Kudengar ia menghela napas. "Nggak bawa minyak angin?" tanyanya lagi.

Sepertinya ia juga masih ingat bahwa aku biasa memakai minyak aromaterapi panas berbentuk roll-on untuk mengurangi migrainku. Aku pun menggeleng karena memang tidak kubawa. Sudah cukup lama sebetulnya aku tidak migrain.

Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Dirga pelan-pelan menepikan mobil ke depan sebuah minimarket. Mobil pun berhenti dan sudah terparkir dengan rapi.

"Bentar ya." Dirga turun dari mobil dan masuk ke dalam minimarket entah untuk membeli apa. Tinggallah aku sendiri di dalam mobil dengan mesin yang dibiarkan menyala.

Tidak lama kemudian, Dirga kembali dengan sebotol air mineral, minyak angin aromaterapi, dan sepotong cheesecake kemasan.

"Ini kalau mau isi perut."

"Thanks."

Dirga lalu membantu membuka botol air mineral yang dibelinya barusan sedangkan aku membuka minyak angin tadi untuk kuoleskan di sekitar tengkuk dan pelipisku.

NostalgiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang