AboutChu! (12) Harus Gimana

1.3K 166 77
                                        



































































Berangkatnya dari pagi, tapi sampe sore gini, nggak ada satupun kerjaan berhasil Jennie sabet. Karena memang nggak bakal mudah broo, dia lamar kerja dengan modal iming omongan doang.

Pasal ijazah, itu nggak ada di tangan, semua data yang memenuhi buat lamar kerja semua ada di rumah, dan Mama sempat mewanti Jennie untuk jangan dulu datang ke rumah. Katanya beberapa mata-mata abi nya Jisoo sering pantau di sana.

Dengerin sampe dipantau gini, Jennie tambah nggak enak sama Mama, dan pastinya Abinya Jisoo. Sebelumnya Mama cerita abinya Jisoo datang. Marah, pasti. Dengan lantang dia yakin Jisoo dibawa Jennie, jadi bokap si pacar maksa orang tua Jennie buat Jisoo dibawa pulang.

Tau nggak, rasa tremor dibadan makin menggila. Jujur, baru sekarang Jennie merasa diburon mafia kelas kakap.

Mau pergi ke Seulgi juga nggak enak, tuh anak sibuk ngurus keluarga kecilnya, pergi ke Moonbyul juga rasanya minim harapan, dia anak perantauan, kampung halaman jauh, duit ditangan seadanya, nggak mungkin minta bantuan ke Moonbyul juga.

"Kalo gini modelannya, kalah telak gue sama Taeyong." Halte jadi persinggahan sementara Jennie dari semua kelelahannya seharian ini. Dari tadi kepala sibuk bandingin diri. Taeyong, atau Jennie. Dua orang yang sangat beda latar belakangnya.

Iya, Jisoo sempat cerita soal Taeyong dan segala bobot yang cowok itu miliki. Asli sih, cerita hidupnya sekilas mirip anak darah biru. Garis keturunan hartawan, katanya juga pewaris tetap beberapa perusahaan, lulusan sarjana Belanda berpredikat cumlaude, anaknya juga baik, sopan, asik dan pastinya sefrekuensi dengan abinya Jisoo. Hal paling penting adalah Taeyong nggak ada jejak kenakalan kek Jennie.

Mengetahui fakta itu, Jennie cuma bisa limpahin resahnya ke doa aja.

Langit sekarang ini emang lagi mendung, jadi nggak heran bisa tiba-tiba turun hujan. Cahaya petang dari barat juga bersemu merah. Mendukung suasana Jennie duduk makin termenung. Bukan duduk diam berpikir lagi sih, ini udah pada batas nelangsa.

Jadi kangen Jisoo dia.

Karena otak sampe sekarang masih buntu. Nggak ada persiapan sama sekali pas dia bawa Jisoo. Waktu itu isi kepala panik, hatinya tentu bersuara nggak mau Jisoo jatuh ke tangan orang lain, jadi keputusan bawa pikachu nya ini pun konsekuensinya acak-adut.

Misi bawa Jisoo jauh dari rencana perjodohan ini tuh cuma memperpanjang waktu mereka bareng aja, masa depan mereka berdua gimana? Nggak tau, Jennie nggak berani berspekulasi.

"Emang mau sampe kapan gini, Jen?" Layar hp Jennie nyala, sambil ngeluh sendiri, sambil itu juga mandangin foto Jisoo yang lagi senyum. "Masa kita cuma jadi cerita pengalaman pacaran aja sih Chu?" Beruntung halte kosong. Jennie udah macam orang berpekara, ngomong, senyum, sedih sendiri.

"Kayaknya emang harus bawa pulang kamu Chu." Sumpah, Jennie nggak ikhlas pas bilang itu.





























...
























Jennie balik ke kosan sekitar jam 10 malam. Sore itu biar dikata rasa putus asa udah menuhin isi otak, dan hati, setidaknya dia dapet kerja. Ini bukan perkara ngumpul mahar doang, tapi emang ekonomi keluarga udah patah, dia jadi tumpuan harap mama satu-satunya sekarang.

About Chu!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang