Lokasi obrolan ringan pukul 7 malam bersama wakil direktur mengejutkan, -Krystal Jung nama lengkapnya, terjadi di sebuah kafe, nggak terlalu jauh dari kantor. Jennie tiba kembali, bergabung di meja pesanan setelah bawa kertas pesanan pada kasir.
Krystal senyum, sambil perhatikan Jennie. Dari tadi sibuk sendiri. Dia seolah punya cara untuk melakukan kegiatan demi menghindari obrolan. Orang ini dari tadi pelit omongan, banyak diam dan bengongnya. Krystal seharusnya nggak salah orang 'kan ya, bahwa dialah manusia yang dimaksud punya ide cemerlang soal proyek terbaru. "Aku udah baca proposal kamu soal proyek itu." Krystal beranikan diri memulai, karena sangat nggak munggkin sebaliknya, Jennie keliatan malas dan bosan.
"Ide itu awalnya dianggap mentah sama pemimpin perusahaan Mahal Cita." Muka Abi pas hari itu memang sedap buat dibalas bogem. Dia kritiknya pedas kebangetan, ternyata diam-diam malah simpan dan promosi di belakang. "Menurut lo, ide itu gimana? Mentah juga?"
Masalahnya, ide ini langsung menarik perhatian bos utama kantor. Krystal akan sangat yakin Jennie luar-biasa karena dalam sekali baca, bos galak dan perfeksionis nggak ada lawan itu justru langsung setuju buat Krystal jalin kerja sama. Katanya, dia melihat peluang luar-biasa meski risikonya pun nggak sedikit. "Nggak mentah, buktinya ada yang mau jalin kerja sama soal proyek itu." Krystal kemudian mengeluarkan laptop mungil dari dalam tas. Dinyalakan dan dengan lihai dia menuju halaman utama dari berkas yang akan mereka bahas. "Cuma, aku di sini mau membahas sedikit soal pengurangan risiko di ide proyek dari kamu, itu."
Oh.. Krystal mungkin berpikir sama kayak Abi. Perihal risiko. Jennie mengangguk, menganggap risiko adalah hal paling wajar dalam bisnis.
"Penggunaan promosi kamu di sini bisa termasuk promosi skala besar."
Betul, Jennie setuju. Krystal menjeda, namun tarikan napasnya buat Jennie lumayan tegang menunggu. Nggak tau kenapa situasi konsultasi skripsi mirip di Abi, terasa di sana, meski Krystal memakai suara lembut dan jerengan senyum dia yang konsisten anggun. Tetap aja, sering menegangkan.
"Di sini mungkin kamu harus memperkecil skala promosi, karena mengingat ini proyek pemasaran produk baru, dan bukan produk besar dan ternama."
"Bukannya bagus promosi diperkuat?" Maksudnya, semakin besar iklan, pengaruhnya juga datang ke produk itu sendiri. Jennie lumayan nggak ngerti kerja pikir dari bisnis lokal. Kayak, pelit. Padahal produk sendiri. "Gue udah berusaha membaca keadaan pasar di Indonesia sendiri. Penggunaan iklan yang masif, apalagi berbasis data dan internet, sangat mudah gapai gen muda. Apalagi produk ini bermacam alat elektronik kan, ya?"
"Betul." Krystal rupanya setuju, tapi Jennie masih memajang tekukan kening, dia tau Krystal akan menyela idenya, mirip Abi. "Masalahnya, biaya kerja sama dari produksi alat dan promosinya malah saling berat-beratan." Tipekal lokal, takut rugi. Jennie mengangguk-angguk, dia lumayan capek juga sih buat berdebat. "Kita tertarik soal kerja sama ini, cuma ada sedikit masukkan dari kami, soal promosi itu. Itu aja, kok."
"Oke. Noted."
Lalu situasi kikuk datang lagi, untungnya kedatangan pesanan berupa satu kopi hitam permintaan Jennie dan segelas teh hijau pesanan Krystal datang menengahi. Selain itu bau cake rasa serupa jadi teman menarik di samping minuman.
Jennie menyesap kopinya, luar-biasa segar sampe pening di tengah jidat lumayan memudar.
Krystal kelihatan tersenyum. "Aku baca riwayat kamu." Bos perfeksionis di kantornya itu nggak akan mempertaruhkan biaya besar pada orang tanpa minat dan bakat. Krystal jadi tau Jennie Kim merupakan lulusan strata dua di salah satu universitas ternama Selandia Baru. Krystal tau juga Jennie adalah mantan dari pemimpin baru Mahal Cita. Lewat media sosial tua, yang kayaknya pemiliknya lupa kata sandi. Ada foto lucu dari kedua insan nggak jadi jodoh di dalam beranda jauh di tahun-tahun itu. Sebenarnya lucu, Krystal sempat bayangin seandainya mereka masih bersama. "Jauh banget ambil kuliahnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
About Chu!
FanfictionSoal bagaimana Jennie ga bisa lirik cewek lain selain Jisoo
