"Sayang, abang hari ini lembur." Elang sedang mematut dirinya di depan cermin kamar, sementara Rea masih berbaring telanjang di balik selimut.
Tidak mendapat balasan, Elang menoleh, lalu berjalan menuju ranjang dan duduk di tepinya. Tangannya mengusap rambut Rea yang sedikit lepek.
"Kenapa? Ada yang sakit?" tanyanya lembut.
"Nggak kenapa-kenapa, Bang. Aku baik-baik saja. Abang pergilah, sudah telat banget ini."
Rea mencoba menghindari belaian Elang di kepalanya.
"Yang bikin telat kan kamu. Abang harus melayani kamu dulu tadi habis bangun tidur, baru abang bisa bersiap-siap buat kerja."
Ucapan Elang terdengar menggoda, disempurnakan oleh kedipan mata dan senyum miring di wajahnya.
"Apaan sih, Bang?" Pipi Rea bersemu merah. Telinganya terasa panas seperti terbakar.
Elang terkekeh. Tangannya menyusup ke dalam selimut dan mengusap punggung wanita itu.
"Tapi kamu nggak apa-apa abang tinggal sampai malam, kan?" tanyanya lagi penuh perhatian.
"Iya, nggak apa-apa, Bang. Biasanya juga begitu, kok," jawab Rea cuek.
"Kamu nggak usah ngampus." Titah Elang tak terbantahkan. Tatapannya menusuk manik mata Rea.
"Aku ada kelas siang, Bang. Nggak apa-apa, masih ada waktu buat istirahat." Rea berharap Elang sedikit melunakkan hatinya. Ia harus ke kampus hari ini.
"Tapi nggak apa-apa kalau kamu banyak gerak? Nggak sakit?" Nada suara Elang terdengar penuh kekhawatiran.
"Nggak, Bang. Udah sih, Bang. Sana. Rea malu kalau ditanya begituan."
Elang tersenyum sambil mengusap pipi Rea dengan ibu jarinya. "Baiklah. Abang kerja dulu ya, Sayang."
Ia bangkit, lalu menunduk menyatukan bibirnya dengan bibir Rea. "Istirahat saja dulu. Kalau masih sakit, nggak usah ke kampus juga nggak apa-apa. Abang nggak akan marah," ucapnya lembut di atas bibir Rea.
"Hmmm," gumam Rea sambil menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Melihat tingkah wanita itu, Elang hanya tersenyum simpul sebelum menutup pintu kamar perlahan.
Sepeninggal pria itu, Rea membuka kembali selimut yang menutupi wajahnya. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. Rea tidak menyangka hubungan mereka akan bergerak secepat ini. Ia sungguh bahagia, tetapi tidak dapat memungkiri bahwa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, entah apa.
Rea tahu Elang adalah pria yang penuh kontrol terhadap dirinya sendiri, penuh perhitungan, dan selalu berhati-hati. Namun, akhir-akhir ini pria itu terasa berbeda. Seolah kehilangan sebagian kendali atas dirinya. Ada bagian dalam diri Rea yang bahagia melihat perubahan itu, tetapi ada juga bagian dirinya yang merasa bahwa semua ini tidak benar.
Dering ponsel membuyarkan lamunannya.
Rea mengernyit saat melihat nama Elang tertera di layar.
"Ya, Bang? Ada yang ketinggalan?" Suara serak Rea menyapa gendang telinga Elang.
"Tidak. Abang cuma mau mengabari kalau abang sudah sampai di kantor," jawab Elang lembut dari seberang.
"O-oh, oke, Bang." Rea kikuk. Ia bingung harus bereaksi seperti apa menghadapi Elang yang semakin sulit ditebak.
"Kamu masih belum bangun?" tanya Elang lagi.
"Iya, Bang. Rea masih tiduran." Tanpa sadar, Rea memilin ujung selimut yang menutupi dadanya. Senyum tipis menghiasi bibirnya, sementara pipinya kembali memanas.
"Ada yang sakit?" Nada suara Elang langsung berubah panik.
"Nggak, Bang. Aku baik-baik saja. Abang bisa kerja dengan tenang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Faded (END/REVISI)
RomanceCerita Dewasa. 18+ Rea dan Elang tumbuh sebagai anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua yang seharusnya melindungi mereka. Sejak kecil, keduanya hidup di panti asuhan, saling mengisi kekosongan yang tidak pernah mampu diberikan oleh keluarga. Bag...
