"Selamat datang."
Jantungku sontak berdebar kencang sewaktu menyadari siapa pengunjung yang baru saja melangkah masuk. Thomas melempar senyum ramah padaku, kemudian beranjak menuju rak tempat kopi instan dipajang. Persis seperti yang biasa dia lakukan. Mataku terus mengikutinya selagi lelaki itu memutari rak, menuju rak lainnya. Setelah mengambil beberapa barang, dia membawanya di kedua tangan menuju meja kasir.
"Hanya ini?" tanyaku, meraih satu per satu barang kemudian memindai harganya.
"Yeah." Thomas menatap nominal yang tertera di layar, kemudian mengeluarkan dompet dan menarik keluar beberapa lembar uang. "Ngomong-ngomong, kau tinggal di sekitar sini?"
Ini topik yang tak disangka-sangka. "Yah, sekitar sepuluh menit kalau berjalan kaki," jawabku, berusaha mempertahankan nada bicaraku tetap datar. Faktanya, jantungku terus melompat-lompat tak beraturan di balik rongga dadaku hingga rasanya sulit untuk berbicara dengan normal.
"Ah, pantas saja beberapa hari yang lalu aku seperti melihatmu." Dia menyeringai. "Kukira aku salah lihat."
Aku mendongak, mengunci tatapannya. Seperti biasa, matanya berbinar penuh semangat. "Kau juga tinggal di dekat sini?"
"Yup. Bukan tempat yang menyenangkan, ya kan?" balasnya, masih mempertahankan kontak mata denganku.
Aku sudah setahun bekerja sebagai kasir di supermarket kecil ini, dan sudah bertemu dengan banyak pelanggan, tapi dia adalah satu-satunya orang yang menatap mataku selagi berbicara. Pelanggan lain umumnya bahkan tak mau repot-repot berbasa-basi denganku.
Sejak hari dia menatap mataku, aku memutuskan kalau dia adalah orang yang istimewa.
Itu hanya hal kecil yang tak berarti, memang. Aku tahu. Tapi perlakuannya membuat kehadiranku terasa nyata.
Selama ini, aku termasuk dalam kategori orang-yang-tak-dianggap-ada. Contohnya saja di sekolah. Aku selalu terlupakan ketika pembagian tugas kelompok. Tak jarang pula ketua kelas mengiraku tak masuk, padahal aku sedang berdiri di sebelahnya. Sedangkan di supermarket tempatku bekerja selepas lulus SMA ini, pelanggan selalu menganggapku seakan aku ini mesin, bukannya manusia. Mereka datang, meletakkan barang yang mereka beli, membayar, kemudian pergi. Sering kali bahkan tidak mengucapkan terima kasih. Itu adalah rutinitas membosankan yang harus kujalani setiap hari.
Namun, rutinitas membosankan itu berubah ketika Thomas datang sekitar enam bulan yang lalu. Awalnya tidak ada yang berbeda. Kemudian, setelah membayar, dia menatap mataku dan mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Sejak itu, kami beberapa kali terlibat obrolan kecil yang tidak penting selagi dia menungguku menghitung total barang belanjaannya. Kalau boleh jujur, sering kali aku tergoda untuk menganggap kami teman.
Masalahnya, cara kerja dunia tidak sesederhana itu.
Hanya karena seseorang bersikap ramah padamu, bukan berarti mereka menganggapmu teman. Bisa saja itu hanya bagian dari kepribadian mereka yang cenderung bersikap ramah pada semua orang yang mereka temui.
Aku cukup tahu diri untuk tidak berpikir kalau dia menganggapku teman, terutama dengan status ekonomi kami yang cukup berbeda. Pernah secara tak sengaja dia menjatuhkan kartu tanda pengenal karyawan miliknya. Dari situ aku tahu kalau dia bekerja di perusahaan yang cukup besar. Selain itu, ponsel serta jam tangan yang dia kenakan semuanya adalah merek ternama yang sering diklankan di televisi. Dari situ saja aku sudah tahu kalau kami berbeda. Dan sesuatu yang berbeda tidak dapat menjadi teman.
Tapi, di sinilah dia. Menatapku dengan tatapan bersahabat seolah-olah kami adalah teman.
"Orangtuaku berencana menjual rumah mereka," lanjut Thomas, menyadarkanku dari lamunan. "Mereka bosan kebanjiran."
Lingkungan tempat tinggal kami sebenarnya tidak terlalu buruk--jika saja tidak terlalu sering diterpa banjir setiap kali hujan datang. Sebagai solusi, beberapa rumah akhirnya direnovasi menjadi lebih tinggi. Tapi tidak halnya dengan rumah yang kutempati bersama orangtua dan kakakku. Kami tidak memiliki cukup biaya untuk merenovasinya, jadi yang dapat kami lakukan hanyalah pasrah setiap kali banjir menerjang.
"Jadi kalian akan pindah ke mana?"
"Masih belum tahu." Dia mengulurkan sekaleng kopi instan padaku. Itu varian terbaru dari salah satu merek kopi instan favoritku. Aku melihat iklannya di televisi beberapa hari lalu, tapi belum membelinya lantaran masih menunggunya didiskon. "Kau belum coba yang ini, kan?"
Di beberapa kali kesempatan, aku memang pernah menyebutkan kalau aku menyukai kopi instan juga sepertinya. Tidak kusangka dia ingat. Dengan pipi menghangat, aku menyambut kaleng kopi pemberiannya.
"Trims," gumamku, tak dapat menahan munculnya seringai di wajahku. Benar-benar sulit untuk tidak menganggapnya teman. Terutama setelah apa yang dia lakukan untukku beberapa hari setelahnya.
Hari itu dimulai dengan biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang berbeda. Bahkan tidak banyak pelanggan yang datang. Aku menghabiskan hampir sepanjang malam menonton televisi yang menayangkan drama percintaan dengan akhir tragis. Ketika aku hampir tertidur di kursiku, pintu supermarket terbuka dan seseorang melangkah masuk. Wajahnya tidak terlihat jelas lantaran mengenakan masker dan topi berwarna hitam. Namun kelihatannya lelaki itu berusia sekitar awal tiga puluhan.
Mataku otomatis melirik jam. Pukul satu subuh. Kendati supermarket kami buka dua puluh empat jam, tidak biasanya ada pelanggan yang datang selarut ini. Kami yang mendapat giliran jaga malam umumnya lebih sering menghabiskan waktu dengan menonton televisi hingga pagi. Jadi ini pelanggan yang langka. Mudah-mudahan saja dia bukan pemabuk yang mencari minuman beralkohol. Aku belum pernah bertemu pemabuk, tapi rekan kerjaku pernah. Pemabuk gila itu mengambil dua botol bir dan menolak membayar. Bahkan sampai mengancam akan membunuh rekanku jika terus dipaksa membayar. Pada akhirnya, rekanku mengalah dan menggunakan uangnya sendiri untuk mengganti dua botol bir itu.
"Selamat datang," sapaku, beranjak bangkit dari kursi.
Lelaki itu tidak menyahut. Dia hanya melirikku sekilas, kemudian berjalan lurus, menuju rak paling ujung. Aku mengernyitkan kening. Rak di ujung berisi barang pecah-belah yang tidak menarik. Apa yang kira-kira dia cari di sana, pada jam seperti ini?
Dia kembali beberapa saat kemudian. Tanpa alasan yang jelas, intuisiku mendadak menyerukan tanda bahaya sewaktu menyadari benda apa yang berada di tangannya. Meski jarang, ini bukan pertama kalinya ada orang yang datang untuk membeli pisau dapur. Namun, membeli pisau pada jam seperti ini... entahlah. Rasanya seperti ada sesuatu yang salah. Barangkali situasi yang sepi di sekitarku juga turut mendukung. Aku sendirian, dan manajer kami sudah pulang dari jam delapan. Jika terjadi sesuatu yang buruk, tidak ada yang dapat membantuku.
Ketakutanku terbukti ketika lelaki itu tiba-tiba menodongkan pisau di tangannya ke arahku. "Berikan seluruh uang yang ada di sini!" serunya.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Switch
Short StorySetiap harinya, kita membuat banyak keputusan. Terkadang, kita membuat keputusan yang baik. Sesekali barangkali kita akan membuat keputusan yang buruk. Atau, bisa juga kita membuat keputusan yang menyangkut hidup-mati orang lain. Apa yang sebenarnya...