Jika Satu Sentuhan Saja

11.9K 1.1K 12
                                        

Siang ini Jevan sedang memasang tirai baru yang ia beli tanpa seizin Harven

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Siang ini Jevan sedang memasang tirai baru yang ia beli tanpa seizin Harven. Warna biru lembut, dengan motif awan tipis seperti langit yang sedang bermimpi.

"Jangan bilang kamu yang membelinya," suara Harven terdengar dari belakang.

"Hehe, kamu udah terlanjur ngelihat," jawab Jevan sembari tetap menjepit kain tirai ke rel. "Bagus, kan? Biar ruangan ini ngga kelihatan kayak ruang rapat kantor kamu."

"Itu mengganggu estetika."

"Itu bikin ruangan ini hidup, Harven." Tiba-tiba saat Jevan hendak turun dari bangku, ia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Lantas tangan Harven dengan cepat memeluk pinggang Jevan.

Sepersekian detik dunia terasa berhenti.

Jevan ada di pelukan Harven dan napas mereka nyaris bertaut. "Aku ngga jatuh kok," bisik Jevan, malu. "Tapi aku tetap tak ingin kamu terjatuh," balas Harven.

Jevan menatap matanya dan Harven tidak menghindar. Seandainya satu langkah lebih dekat lagi, mungkin bibir mereka akan bersentuhan.

Tapi tidak, karena ini bukanlah kisah yang terburu-buru.

Ini kisah yang menunggu.

Angin sore menyapa wajah Jevan yang tengah duduk di taman kampus, bersama salah satu senior lombanya atau laki-laki bertubuh tinggi, artistik, dengan mata hangat dan suara rendah bernama Samuel dan mereka tampak sangat akrab.

Akan tetapi, di balik kaca mobil hitam yang mengkilap, ada Harven melihat semua itu. Tangannya mengepal di atas setir dan matanya menatap tajam, tapi bukan marah.

Cemburu.

Pertama kalinya seorang Harven Wicaksono merasa kesal akan sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.

Jevan baru kembali ke apartemen saat matahari sudah berganti dengan bulan. Namun, ia langsung mendapati Harven yang sedang duduk di ruang tengah.

Sendiri, seolah menunggu Jevan.

"Oh? Kamu ngga tidur?"

"Sama siapa kamu tadi?"

Jevan mengangkat alis. "Loh, kamu nyari aku ke kampus tadi? Kenapa ngga bilang?"

Harven menatapnya lama.

"Jawab."

"Tadi aku lagi latihan sama Kak Samuel. Final lombanya bentar lagi, dia pembimbing aku dan kita emang deket, Harven."

"Seberapa dekat?"

Jevan terdiam. "Kamu cemburu, ya?"

Harven tak menjawab.

Tapi terlihat dari caranya menatap terlalu tajam dan caranya diam terlalu lama sudah cukup menjadi jawaban. Jevan mendekat seperti hujan pertama yang tak ingin mengagetkan bumi. "Aku cuma deket sama dia sebagai senior aja kok. Tapi kalau pulang, aku pasti ke kamu, Harven."

Kata-kata itu membuat dada Harven retak. Tapi bukan karena luka.

Karena hangat.

Mereka saling menggenggam tangan. Hanya jemari Jevan yang menyusup pelan ke tangan Harven yang dingin.

Harven tidak melepaskannya.

Jari mereka saling menggenggam. Sunyi menyelimuti, tapi rasanya lebih bising dari lagu dj. Karena jantung mereka berdetak terlalu keras, terlalu dekat, dan terlalu jujur.

 Karena jantung mereka berdetak terlalu keras, terlalu dekat, dan terlalu jujur

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
𝐌𝐎𝐑𝐔𝐒 || 𝐇𝐄𝐄𝐉𝐀𝐊𝐄Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang