Saat Hati Tak Bisa Lagi Bersembunyi

11.9K 1.2K 65
                                        

Hati itu aneh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hati itu aneh.

Ia bisa menyimpan sesuatu selama berbulan-bulan dalam diam. Tapi saat waktunya tiba, hanya karena satu kalimat, satu tatapan, atau satu senyuman semuanya meledak, pecah, dan tak bisa lagi disembunyikan.

Begitulah Jevan dan begitu pula Harven.

Jevan membuka pintu kulkas, memicingkan matanya sambil bergumam, "Kenapa stok es krim stroberiku hilang, ya? Jangan bilang..." Harven pun muncul dari arah ruang kerja, masih dengan pakaian tidur satin berwarna abu-abu gelap dan wajah yang tanpa dosa.

"Es krim itu sudah expired dua hari yang lalu, jadi aku membuangnya."

Jevan mematung. "Harven."

"Hmm?"

"Kamu barusan udah ngusir belahan jiwaku please."

"Itu sampah, Jevan."

"Itu kenangan, Harven."

Harven hanya berjalan lewat sambil membawa kopi. Tapi matanya mencoba menahan senyum kecil yang muncul. Senyum yang belum ingin dilihat siapa pun, tapi tak bisa disembunyikan.

Jevan melihatnya.

Tampak Jevan tengah duduk di bawah pohon besar dekat gedung Arsitektur. Buku sketsa terbuka di pangkuannya, pensilnya menari, menciptakan bayangan ringan dan lengkungan yang lembut.

Ia sedang membuat desain taman terbuka, yakni sebuah ruang yang mengundang orang untuk duduk dan jatuh cinta pada matahari sore.

Tapi pikirannya tidak berada di taman. Pikirannya berada pada pria yang tadi pagi membuang es krim kesukaannya, yang tidur dengan wajah tampan paripurna, dan yang selalu menata gelas sesuai dengan tingginya masing-masing.

Pikirannya ada pada Harven.

"Gue gila," gumamnya sendiri.

"Udah dari dulu," timpal Sena yang tiba-tiba datang dari belakang.

Jevan melirik. "Gue serius, Sen." Sena duduk di sebelahnya, bersandar di batang pohon. "Lo mulai baper ya."

Jevan diam.

Lalu berkata dengan pelan seolah takut jika mengucapkannya terlalu keras, "Kalau iya?"

Sena tersenyum. "Mungkin, ngga semua cinta harus dimulai dengan rasa suka, Jevan. Kadang, rasa terbiasa datang duluan, lalu rasa nyaman sampe lo ngga bisa bayangin dunia tanpa dia nantinya."

Jevan menatap sketsanya.

Taman terbuka itu tiba-tiba terasa seperti Harven. Tenang, teratur, namun menyimpan ruang untuk seseorang yang ingin tinggal lebih lama.

Sesampainya di apartemen, Jevan duduk di sofa membaca ulang hasil desainnya sambil mendengarkan musik dengan pelan. Sedangkan Harven duduk di meja makan, seperti biasa tenggelam dalam dokumen bisnisnya. Namun sesekali, matanya terangkat mengamati Jevan.

"Aku suka desain yang kamu buat untuk kompetisi yang akan dilaksanakan di Jepang," ucap Harven tiba-tiba.

Jevan menoleh, kaget. "Kamu udah bilang itu lebih dari 50 kali, kalau yang terbaru udah liat?"

"Aku tak buta, Jevan."

"Kita harus catet tanggalnya sekarang, ini sejarah baru karena ternyata kamu diem-diem suka ngeliatin aku."

Harven menutup laptopnya.

"Entah kenapa desainmu... aku ingin melihatnya dibangun."

Jevan diam tak berkedip, hatinya terasa hangat.

Di tengah malam yang sunyi, Jevan kembali berdiri di balkon menatap lampu kota yang berkedip-kedip seperti bintang yang tersesat. Angin menggerakkan helaian rambutnya dan dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang belum sempat ia beri nama.

Harven berdiri di ambang pintu balkon hanya memperhatikannya dalam diam.

"Kamu takut jatuh cinta, ya?" tanya Jevan tiba-tiba dengan suara yang lembut.

"Aku takut membuat orang yang kucintai merasa terkurung."

Jevan menoleh dan matanya menatap dalam. "Kalau aku bilang kalau aku rela tinggal di penjara yang kamu bangun sendiri, asal kamu mau nemenin aku di dalamnya. Kamu bakalan bilang apa?"

Harven tidak menjawab.

Akan tetapi ia melangkah maju, lalu berhenti di samping Jevan. Mereka berdiri berdampingan. Malam itu, tak perlu ada ciuman maupun pelukan. Karena malam itu, mereka sudah saling mengerti akan keadaan masing-masing.

 Karena malam itu, mereka sudah saling mengerti akan keadaan masing-masing

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
𝐌𝐎𝐑𝐔𝐒 || 𝐇𝐄𝐄𝐉𝐀𝐊𝐄Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang