[𝐂𝐎𝐌𝐏𝐋𝐄𝐓𝐄]
Jevan terlalu ribut dan Harven terlalu diam.
...
Nikah kontrak? Jevan pikir itu cuma ada di drama televisi doang. Sampai dia dijodohin sama Harven Wicaksono, direktur yang ganteng, tajir, tapi nyebelin.
Harven suka aturan.
Jevan s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langit hari itu berwarna biru muda seperti lembaran kertas yang belum disentuh oleh warna. Lantas di tengah hiruk pikuk kampus Arsitektur, Jevan adalah tinta pertama yang mendarat di atasnya dengan berani, cerah, dan terkadang sedikit menyimpang.
Akan tetapi, ia selalu mencuri perhatian.
"Kak Jevan! Kak Jevan, makasih banget kemarin udah mau bantu ngerevisi desain layout. Tadi aku dapet nilai A, SUMPAH SENENG BANGET!" Suara mahasiswa semester tiga bernama Jessa menggema di lorong studio, disambut dengan senyuman manis dari Jevan yang seperti biasa selalu hangat.
"Bagus dong. Tapi inget ya, jangan males sketch ulang. Kadang desain terbaik tuh dateng dari coretan ke lima belas, bukan yang kedua." Ia berjalan dengan cepat dan tote bag-nya memantul ringan di bahu."Kak Jev, bulan depan jadi ikut kompetisi arsitektur yang ada di Jepang?"
"Jadi dong! Udah lama aku ngga jalan-jalan ke luar negeri. Aku tuh butuh udara yang isinya ngga bau deadline doang," jawabnya sambil tertawa lalu Jevan disambut dengan sapaan dari teman-teman seangkatannya yang lain.
Semua orang tahu siapa Jevan. Ia seperti legenda yang hidup di jurusan Arstitektur, bukan karena wajahnya yang tampan atau populer, namun karena bakatnya yang mengagumkan dan tak bisa disangkal kehebatannya.
Karyanya selalu beda, selalu diluar kendali, dan tak pernah berada dalam garis lurus.
Saat ini, Jevan sedang duduk di tengah ruang praktik yang berisik. Tangan kanannya sibuk mencoret maket, sementara tangan kirinya memegang handphone untuk membalas pesan dari si Direktur Es, yang dengan alasan tidak jelas mulai sering bertanya hal-hal kecil pada Jevan.
"Kamu pulang jam berapa?"
"Jangan lupa makan."
"Kamu punya kebiasaan meninggalkan gelas kotor di dapur. Tolong bersihkan."
Jevan membaca pesan terakhir dan tertawa kecil. "Galak banget," gumamnya. Tapi entah kenapa wajahnya menghangat. Jay, teman Jevan yang berada di sebelahnya menoleh. "Kenapa lo senyum-senyum sendiri?"
Matahari sudah semakin turun ke barat dan Jevan baru sampai di apartemen. Ia masuk pelan-pelan, mendapati Harven sedang duduk di ruang tengah dengan laptop di pangkuannya.
"Kamu pulang lebih awal," kata Harven tanpa melihat.
"Aku kangen kasur."
Harven mengetik beberapa detik, sebelum akhirnya ia menutup laptopnya. "Aku sudah memesan makan malam. Kurasa kamu butuh sesuatu yang hangat."
Jevan berhenti dari kegiatan melepas sepatunya lalu menatap Harven dengan mata yang sedikit ragu. "Kamu tuh aneh. Kayak tiba-tiba nyebelin, abis itu nyuruh-nyuruh, terus sekarang tiba-tiba perhatian?"
"Aku tidak perhatian."
"Terus apa?"
"Aku hanya tidak ingin melihatmu jatuh sakit. Akan merepotkan jika harus membawamu ke rumah sakit saat tengah malam." Jevan tertawa kecil. Ia menggantungkan tote bag-nya, lalu melangkah ke dapur. "Gaya ngomong kamu tuh udah kaya robot aja tau."
"Setidaknya aku konsisten."
"Justru itu masalahnya, Harven."
Mereka makan malam di meja panjang yang awalnya hanya dipakai Harven untuk kerja. Jevan makan dengan cepat. "Oh iya, aku ada kompetisi ke Jepang bulan depan, jadi finalis buat ngewakilin kampus."
"Sendirian?"
"Sama tim sih, tapi tetep aja capek. Aku ngga suka naik pesawat lama-lama." Harven hanya mengangguk. Tapi ada sesuatu dalam caranya menatap Jevan, seolah ingin mengatakan bahwa jangan pergi terlalu jauh.
Malam semakin larut, Jevan masih berdiri di balkon membiarkan angin malam merayapi wajahnya. Pikirannya melayang pada kegiatannya hari ini, pada kelas yang ramai, pada lomba yang akan datang, dan pada seseorang yang diam-diam mulai ia pikirkan saat malam terlalu sepi.
Dari balik kaca, Harven memperhatikannya. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap siluet Jevan di bawah cahaya bulan. "Aku tak pernah menyukai kekacauan, entah kenapa... aku mulai takut kehilangan keributan ini." guman Harven.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.