SIDE STORY I: Jevan Menghilang

8.8K 800 16
                                        

Jam 6 pagi apartemen mereka yang biasanya penuh suara kini sunyi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jam 6 pagi apartemen mereka yang biasanya penuh suara kini sunyi. Biasanya jam segini Jevan udah ribut nyari celana, ngeluh soal sarapan, atau sengaja muter lagu keras-keras buat bangunin Harven.

Tapi hari itu tidak ada apa pun.

Tidak ada Jevan dan Harven terbangun karena kasur disebelahnya terasa dingin.

Dia masih tenang.

Mungkin Jevan pergi ke kampus pagi-pagi. Namun, tidak ada chat ataupun notes kecil di kulkas.

Jam 8 pagi, Harven mulai merasa resah.

Ia mencoba menghubungi Jevan.

[08.03] harven: Sayaaaaang, kamu lagi di mana?

[08.14] harven: Jev?

[08.30] harven: Kamu lagi ngapain?

Belum dibaca dan tidak centang dua.

Jam 10 pagi, Harven mencoba menghubungi kampus Jevan. Namun, asisten dosen bilang Jevan tidak ada kelas hari ini. Temen-temen kompetisinya juga bilang Jevan tidak aktif di grup chat.

Jam 11 siang, Harven mulai menghubungi semua teman-teman Jevan. Lalu, jam 12 siang Harven muterin kota sendiri, dia nyari Jevan ke tempat langganan kopinya, studio kampus Jevan, bahkan taman belakang galeri tempat Jevan biasa ngebuat sketsa.

Namun nihil, baru kali Harven sadar bahwa dia benar-benar bisa hilang arah tanpa Jevan.

Jam 3 sore, Harven dengan terpaksa pulang ke apartemen berharap bahwa Jevan sudah kembali. Langkahnya terasa lemas, kondisi ruang tamu masih sama, peralatan dapur masih kotor dan selimut yang berantakan di sofa.

Anehnya, saat dia masuk ke dalam kamar tidur terdapat sesuatu di atas meja kecil itu. Sebuah benda baru. Sebuah kanvas kecil yang ditutup kain putih dan diatasnya terdapat catatan. "Selamat 1 tahun tinggal bareng. Tunggu aku sampe sore ya. Aku ngga hilang kok, jangan panik sayaaang!"

Harven terdiam. "Jevan..." Ia membuka kainnya dengan pelan dan pupil matanya membesar saat melihat lukisan dengan wajah Harven alias wajahnya sendiri.

Serta di sudut bawah lukisan itu tertulis,

"Cinta itu bukan cuma hadir, tapi membuat sebuah tempat pulang yang dapat ditunggu. Selamat karena telah menjadi rumahku, Harven."

Pintu apartemen terbuka dan Jevan muncul dengan rambut ikalnya yang berantakan sembari membawa bunga matahari.

"Hervan? Aku balik, maaf ya sinyalnya jelek banget tadi—" Harven langsung menarik Jevan ke dalam pelukan. "Jangan pernah pergi seperti itu lagi."

"Ya ampun, aku cuma keluar setengah hari sayang."

Pada akhirnya lukisan itu dipajang di kamar. Harven lagi-lagi meminta tidur sambil dipeluk Jevan. Meski sempat kehilangan Jevan walau sebentar, itu cukup untuk membuat Hervan sadar.

Cinta bukanlah hal yang besar.

Tapi seseorang yang kecil dan jika ia tidak ada, maka dunia ikut hancur.

Tapi seseorang yang kecil dan jika ia tidak ada, maka dunia ikut hancur

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
𝐌𝐎𝐑𝐔𝐒 || 𝐇𝐄𝐄𝐉𝐀𝐊𝐄Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang