[𝐂𝐎𝐌𝐏𝐋𝐄𝐓𝐄]
Jevan terlalu ribut dan Harven terlalu diam.
...
Nikah kontrak? Jevan pikir itu cuma ada di drama televisi doang. Sampai dia dijodohin sama Harven Wicaksono, direktur yang ganteng, tajir, tapi nyebelin.
Harven suka aturan.
Jevan s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Angin mengetuk jendela dengan suara lembut. Hujan tidak deras, tapi cukup untuk membuat langit tampak seperti laut yang jatuh. Harven duduk di ruang tengah, laptop terbuka, tapi matanya tak benar-benar membaca.
Ia hanya sesekali suka mencuri pandang ke arah Jevan, yang tidur dengan posisi meringkuk di sofa. Jevan mengenakan kaus putih kebesaran dan celana pendek yang terlalu tipis untuk malam sedingin ini.
Harven menghela napas.
Diam-diam, ia mengambil selimut dari kamar, lalu menarik selimut secara perlahan, dan menutup tubuh Jevan dengan hati-hati. Namun, saat ia hendak berbalik, tangan Jevan menggenggam jemarinya.
Jevan bergumam pelan. "Jangan pergi..." Sebelum Harven sempat menarik diri, Jevan sudah menarik tangannya dengan pelan dan tubuhnya juga ikut ditarik.
Dalam hitungan detik Harven sudah terduduk di sofa sempit itu. Jevan yang masih setengah sadar menyandarkan kepala ke dadanya serta menyusupkan dirinya ke pelukan Harven seperti anak kucing yang tengah mencari kehangatan.
Lantas, keesokan paginya Jevan terbangun lebih dulu. Ia membuka matanya pelan-pelan, menyadari posisi kepalanya yang bersandar di dada Harven, dan posisi tangan Harven yang melingkar di pinggangnya.
Detik itu juga wajahnya memerah karena panik dan bingung. Namun, saat ia hendak menjauh, Harven yang ternyata sudah terbangun berbisik pelan.
"Jangan bergerak dulu."
Jevan membeku. "Kamu udah bangun?"
"Dari tadi."
"Terus kenapa ngga bangunin aku?"
"Aku ingin tahu seperti apa rasanya."
"Rasanya?"
"Memeluk seseorang dan tidak ingin melepaskannya." Lalu Jevan hanya tertawa karena ini pertama kalinya ia melihat Hervan mencoba untuk menggodanya. "Kamu ngga bakat godain orang deh."
Beberapa hari kemudian di dalam studio kampus, Jevan sedang menyelesaikan desainnya dengan wajah serius. Rambut ikalnya berantakan dan wajahnya sedikit kotor terkena arang sketsa.
Sementara itu di seberangnya, Samuel kembali datang. Kali ini, ia membawa dua botol teh dingin.
"Lo udah selesai?" tanya Samuel lembut.
"Dikit. Tapi desain gue beberapa ada yang tinggal dirender doang sama ini lagi satu masih gue arsir. Lo mau liat?" Mereka berdiri berdekatan, terlalu dekat. Samuel mencondongkan tubuhnya sedikit untuk menatap layar laptop Jevan dari belakang pundak.
Seperti biasa dari kejauhan Harven melihat semuanya lagi dan malam harinya di apartemen, Harven tampak lebih diam dari biasanya. Bahkan saat Jevan datang, Harven tidak lagi mengatur posisi sandal Jevan yang terbalik.
"Ada yang aneh?" tanya Jevan akhirnya.
"Kamu selalu dekat dengannya." Baik, Jevan sepertinya paham siapa yang dibahas.
"Dia cuma pembimbing lomba, Harven."
"Apakah dia lebih dari itu?"
Jevan terdiam. "Kamu nanya sebagai apa, sebagai suami kontrak? Atau..."
Harven menatapnya. "Sebagai seseorang yang mulai jatuh cinta padamu dan benci ketika melihatmu merasa nyaman dengan orang lain."
Gila, Jevan sepertinya sudah mulai gila akibat seorang Harven Wicaksono.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.