SIDE STORY II: Si Cantik Jadi Perawat

9.9K 746 14
                                        

Jam 1 pagi Jevan baru pulang dari kampus karena acara kepanitiaan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jam 1 pagi Jevan baru pulang dari kampus karena acara kepanitiaan. Matanya udah sepet dan pinggangnya pegal. Tapi begitu buka pintu apartemen, lampu di ruang tamu masih nyala. Laptop Harven masih kebuka dan kertas-kertas dokumen berserakan.

Sedangkam si direktur, tertidur di meja dengan kemeja yang lecek, mata sayu, dan napas berat.

"Sayang?" panggil Jevan pelan. Harven gak nyaut, tapi matanya membuka sebentar lalu tertutup lagi dengan keringat dingin dan wajah yang pucat banget.

Jevan langsung panik mode on. Hervan segera ditarik ke kamar, kemeja kerjanya dibuka, dan termometer menunjuk angka 38.9 derajat.

"Ya Tuhan, kamu ini manusia apa robot sih?!"

"Udah sakit, masih aja kerja. Kepala batu banget!"

Meskpun bibirnya ngomel, tangan lembutnya tetep cekatan buat nyiapin kompres, ngeganti baju Harven, dan masakin sup instan yang dicampur sayur seadanya. Jam 2 pagi, Harven akhirnya sadar karena matanya kebuka pelan. Hal yang pertama dia lihat adalah Jevan yang duduk di tepi kasur dengan hoodie kusut, rambut ikal yang acak-acakan, dan mangkok sup di tangan.

"Harven."

"Hm?"

"Kamu bangun? Mau aku suapin?"

"Aku bisa sendiri."

"Ngga bisa, kamu tuh nyaris mati di depan laptop." Harven mendesah kecil dan pasrah kalau di marahin sama Jevan. Jevan lalu nyuapin dia pelan, sesendok demi sesendok, tapi kadang dia ngedumel sendiri.

"Kerjaan tuh bisa nunggu, tapi kamu ngga boleh maksa diri sendiri gitu."

"Kalau kamu mati, nanti aku tinggal sama siapa? Sama laptop bauk kamu itu? Aku sih ogah."

Harven cuma liatin Jevan aja.

"Sayang."

"Apa?"

"Kalau nanti aku mati, kamu sedih atau tidak?"

"YA ELAH PAKE NANYA, SEDIH LAH KOCAK. Kamu tuh kenapa sih selalu ngebuat aku kesel dengan pertanyaan yang aneh itu. Sekarang ngeliat kamu sakit aja aku udah sedih sayaaang, jadi kamu harus cepet sembuuuh!"

Harven ketawa pelan.

Kemudian mereka tidur dalam satu selimut. Harven masih demam, tapi nafasnya udah stabil. Sedangkan Jevan masih ngambek, tapi tangannya ngga bisa lepas dari jari Harven.

Cinta bukan soal siapa yang kuat. Tapi siapa yang tetap tinggal di saat yang lain rapuh.

Jevan, si kecil ribut yang selalu penuh warna adalah pelipur dari segala letih Harven. Satu-satunya obat yang tak bisa diganti oleh resep apapun.

 Satu-satunya obat yang tak bisa diganti oleh resep apapun

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
𝐌𝐎𝐑𝐔𝐒 || 𝐇𝐄𝐄𝐉𝐀𝐊𝐄Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang