Waktu yang Tak Lagi Menahan Rindu

9.6K 934 15
                                        

Hari ini adalah hari di mana Jevan akan pergi ke Osaka untuk mengikuti kompetisi yang sebelumnya ia sebutkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari ini adalah hari di mana Jevan akan pergi ke Osaka untuk mengikuti kompetisi yang sebelumnya ia sebutkan. Akan tetapi, entah karena suatu alasan Harven pada akhirnya menerima tawaran Jevan untuk menemaninya selama seminggu di Osaka dengan usaha bujuk rayu Jevan tentunya.

"Kalau nanti aku ngantuk di pesawat, kamu harus biarin aku tidur di bahu kamu," kata Jevan sambil menarik koper ungunya. Jevan menggunakan hoodie berwarna kelabu, celana longgar, dan wajah tanpa riasan tapi tetap terlihat seperti lukisan hidup yang diselipkan ke dunia nyata.

Harven meliriknya sekilas. "Kamu bisa tidur di mana saja."

"Tapi aku lebih suka tidur di bahu kamu, ya meski keras-keras gitu tapi nyaman sih."

"Itu bukan pujian."

Saat berada di dalam pesawat Jevan tidur lebih cepat dari dugaannya sendiri. Tanpa bertanya apapun, ia langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Harven. Harven membiarkan hal itu, bahkan ia menolehkan wajah pelan dan menatap Jevan yang terlelap. Lalu pelan-pelan ia mencium pucuk kepala Jevan.

"Tidurlah dengan nyaman."

Mereka mendapat hotel dengan satu kamar dengan dua tempat tidur. Anehnya, hanya ada satu selimut yang bisa mereka gunakan. Karena seperti biasa Jevan berpura-pura kedinginan dan secara tidak sengaja menyusup ke sisi kasur Harven sambil membawa bantalnya.

"Boleh ya..." bisiknya. "... cuman malam ini kok, hehe~"

Harven menghela napas. "Terserah. Tapi berhenti menendangku sewaktu tidur."

"Aku ngga nendang kamu, itu aku lagi mimpi main bola tau. Kamu gitu aja ngga ngerti, gimana sih."

Keesokan paginya Jevan bangun lebih dulu. Tapi tak ingin bergerak karena lengannya dipeluk oleh sebuah tangan yang terasa berat namun hangat milik Harven. Harven masih tidur, napasnya pelan, dan wajahnya tampak tenang.

Jevan menatapnya lama hingga wajahnya sendiri terasa panas. "Mendingan gue buru-buru mandi daripada hilang akal, go fast Jevan."

Sesampainya di lokasi kompetisi, Jevan berdiri bersama para peserta lainnya. Ia mempresentasikan desainnya dengan suara yang tenang, meski jantungnya berkompetisi dengan waktu. Di belakang panggung Harven berdiri mengenakan jas hitam, tangannya menyilang, dan wajah tanpa ekspresi.

Tapi saat seorang juri memuji Jevan dan salah satu peserta asing berambut pirang mencoba mengajak Jevan berbicara terlalu lama, raut wajah Harven berubah.

Sangat tidak suka.

Sekarang mereka sudah kembali ke hotel, namun Jevan merasa ada yang aneh.

"Kamu keliatannya lagi marah ya?" tanya Jevan di lift.

"Tidak."

"Kamu lagi ngambek, kah?"

"Tidak."

"Kamu lagi cemburu?"

Diam.

Jevan menoleh. "Harven."

"Aku tidak suka saat orang lain melihatmu dengan tatapan seperti ingin memilikimu. Padahal aku sendiri saja belum punya keberanian untuk benar-benar bisa memilikimu, itu membuatku merasa kesal."

Kalimat itu cukup membuat jantung Jevan berdegup kencang lagi, tapi dengan perasaan yang manis.

Ia menggenggam tangan Harven. "Kalau kamu mau... kamu mungkin bisa. Tapi dengan satu syarat kalau kamu harus bisa jujur dengan perasaan kamu sendiri, Harven."

Harven tak mengatakan apa pun.

Lalu malam harinya saat mereka hendak tidur, ia menarik Jevan ke pelukannya tanpa menunggu Jevan yang biasanya meminta terlebih dahulu.

Harven hanya memeluknya erat.

Harven hanya memeluknya erat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
𝐌𝐎𝐑𝐔𝐒 || 𝐇𝐄𝐄𝐉𝐀𝐊𝐄Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang