Cinta yang Tidak Lagi Ditahan

8.7K 902 20
                                        

Hari minggu dengan sore dan cuaca mendung, Jevan duduk di lantai menggambar konsep baru desainnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hari minggu dengan sore dan cuaca mendung, Jevan duduk di lantai menggambar konsep baru desainnya. Pensil yang berada di tangan kanan serta kaki disilangkan. Tampak sebuah noda hitam tergores di pipinya, sebaliknya Harven hanya berdiri memperhatikan dari balik dinding.

Jantungnya berdebar.

Bukan karena Jevan terlihat cantik. Namun, karena Jevan adalah rumah yang sekarang merupakan tempat di mana semuanya terasa ringan.

Harven mendekat dan berjongkok di sampingnya.

"Kamu sudah berada selama tiga jam di sini," katanya.

"Bentar, dikit lagi."

Saat Jevan menoleh, mata mereka pun bertemu. "Ah... bibir sialan itu." pikirnya.

Tubuh mereka berada sangat dekat sampai Jevan dapat berbisik, namun nyaris tak terdengar. "Kapan ya aku bisa ngerasain bibir ini." ucapnya sembari menyentuh bibir Harven dengan tangannya.

Harven terdiam.

Lalu dengan perlahan, dia mulai menyentuh pipi Jevan, menggeser sedikit pensil dari tangannya, dan mengecup bibir manis itu.

Ahng Hnggh

"Har—hngh... kasih aku napas—AH" Harven semakin memperdalam ciumannya seolah tidak mendengar permintan dari Jevan. Ia melumat lidah Jevan dengan cepat membuat si manis semakin terangsang.

"Harven—haaa ah... EH MAU KEMANA, TURUNIN." Sekejap dalam satu tarikan, Jevan sudah berada di dalam gendongan Harven. "Lanjutnya di kamar saja, lantainya dingin."

Keesokan paginya, Jakarta tampak cerah dan Jevan bangun lebih dulu. Entah kenapa hari itu meskipun pinggangnya teras sakit, tetapi ia ingin memasak sesuatu untuk sarapan.

Matahari semakin menyusup ke dalam dapur, memantul pada gelas, dan punggung Jevan yang kini hanya memakai kaus tipis.

Harven masuk ke dapur, matanya masih separuh tertutup. Jevan menoleh. "Loh, kamu udah bangun?"

"Aku merindukanmu, sayang." Harven mendekat lalu merangkul Jevan dari belakang, dan memeluknya dengan erat.

Jevan tertawa. "Harven, aku lagi masak!"

"Hm."

"Kamu nyebelin, pinggang aku lagi sakit tau." Harven hanya tertawa kecil mendengar gumaman Jevan.

"Sayang, setelah ini satu ronde lagi saat mandi boleh?"

"KAMU MAU AKU SIRAM MINYAK?"

"KAMU MAU AKU SIRAM MINYAK?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
𝐌𝐎𝐑𝐔𝐒 || 𝐇𝐄𝐄𝐉𝐀𝐊𝐄Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang