[𝐂𝐎𝐌𝐏𝐋𝐄𝐓𝐄]
Jevan terlalu ribut dan Harven terlalu diam.
...
Nikah kontrak? Jevan pikir itu cuma ada di drama televisi doang. Sampai dia dijodohin sama Harven Wicaksono, direktur yang ganteng, tajir, tapi nyebelin.
Harven suka aturan.
Jevan s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari ini adalah hari Final Presentasi, Jevan keluar dari kamar mandi dengan setelan formal berwarna biru tua yang lembut. Kemeja putih tipis membentuk lekuk tubuhnya, dan celana berbahan kain yang tampak manis di kakinya.
Rambutnya disisir setengah rapi, dan parfum vanilla-nya melayang pelan di udara.
Harven, yang sedang duduk membaca dokumen terdiam. Matanya mengikuti Jevan dari atas hingga ke bawah dengan lambat.
"Kamu ngeliatin aku?" tanya Jevan sambil membetulkan jam tangannya.
"Tidak," jawab Harven dengan cepat.
Jevan nyengir. "Terus kamu ngeliatin apa barusan sampe mikir keras gitu?" Harven menutup dokumen yang ia pegang dan berdiri mendekat. Ia menatap Jevan dari jarak yang terlampu sangat dekat hingga bibir mereka bisa salih bertemu.
"Aku sedang berpikir, bagaimana cara menyembunyikanmu dari semua mata yang akan menatapmu hari ini."
Jevan mematung, jantungnya kembali meledak dan otaknya seketika lupa caranya bernapas.
"Aku bangga padamu, Sweetheart..." bisik Harven.
Setelah presentasi final selesai, juri mengatakan bahwa desain Jevan sangat memukau. Kata-katanya rapi dan ekspresi Jevan sangat tenang padahal jantungnya nyaris meledak. Apalagi saat melihat Harven yang berdiri di belakang ruangan, mengenakan jas gelapnya, dan menatap Jevan seolah-olah dunianya hanya punya satu orang untuk dikagumi hari itu.
Saat semua sudah selesai, Jevan segera berlari keluar gedung, dan menghirup udara segar.
Sebelum ia sempat memanggil nama kesayangannya, Harven sudah mendekat.
Tanpa sepatah kata, Harven menariknya ke dalam pelukan. Perlu kalian ketahui, Hervan melakukannya di depan semua orang, di antara para wartawan dan panitia, serta di tengah kota asing yang tidak tahu apa-apa tentang mereka.
Harven tidak peduli.
Tangannya memeluk pinggang Jevan erat.
Kepalanya bersandar di bahu Jevan.
Seperti dunia terasa kecil sekali untuk mereka berdua.
Mereka berdua lalu berjalan di antara lampu toko dan aroma ramen yang menyeruak. Jevan membawa jaket di bahunya, sementara Harven berjalan satu langkah di belakang sambil diam-diam memperhatikan orang-orang yang selalu melirik ke arah Jevan.
"Kok kamu jalannya dibelakang kayak bodyguard gitu?" tanya Jevan.
"Karena kamu terlihat seperti terlalu mudah untuk diculik."
"Kamu tuh kalau cemburu bilang, aku jadi gemes sendiri tau~"
"Diam."
Jevan tertawa. Lalu, tanpa aba-aba, dia menyentuh pipi Harven dengan lembut. "Ini balesan untuk pelukan tadi siang."
Tanpa aba-aba, Jevan langsung mencium Hervan tepat di pipi kanannya."Hmm, aku kasih bonus deh karena kamu selalu lucu pas lagi cemburu." Kemudian Jevan sekali lagi mencium pipi kiri Harven, dan sang korban hanya bisa mengerjap dengan mata yang sedikit melebar.
Lalu Harven membalas dengan mengecup dahi Jevan malu-malu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.