Saat Jarak Tak Terdefinisikan

15.2K 1.3K 21
                                        

Hujan turun tipis seperti gerimis yang malu-malu tapi tak tahu kapan harus berhenti

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hujan turun tipis seperti gerimis yang malu-malu tapi tak tahu kapan harus berhenti. Langit Jakarta muram dan di dalam apartemen lampu ruangan yang temaram menyisakan bayangan lembut di setiap sudut-sudut dinding.

Harven duduk di ruang tengah menatap layar laptopnya yang terbuka, matanya kosong. Sejak sore Jevan belum pulang. Biasanya anak itu sudah berisik soal makanan, cerita lucu yang terjadi di kampus, atau sekadar menyentuh segala hal yang tak seharusnya disentuh.

Tapi malam ini terasa sunyi.

Kesunyian selalu membuat Harven berpikir terlalu banyak.

Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Harven akhirnya membuka ponselnya. Jari-jarinya bergerak dengan ragu mengetik pesan lalu menghapusnya.

Kamu di mana?

Hapus.

Sudah makan?

Hapus lagi dan akhirnya yang ia kirim hanya,

Pulang, hujan akan turun dengan deras malam ini.

Namun, Jevan tidak membalas.

Jam sepuluh malam pintu apartemen terbuka pelan. Jevan masuk dengan langkah gontai. Wajahnya pucat dan rambutnya basah oleh hujan. Ia menurunkan tote bag dengan gerakan pelan lalu segera menjatuh tubuhnya ke sofa. Napasnya pendek dan bahunya naik-turun dengan cepat.

Harven berdiri.

"Kamu kehujanan?"

Jevan tidak menjawab.

"Kamu bahkan belum makan," suara Harven sedikit meninggi.

"Jevan."

Saat pria itu mendekat, barulah ia tersadar bahwa kulit Jevan terasa hangat.

"Kamu demam," gumamnya, hampir seperti menyalahkan dirinya sendiri karena memarahi Jevan tadi. Jevan hanya memejamkan mata. "Aku lagi capek aja. Terus tadi... latihan lomba, sama... deadline... kampus."

Suaranya menghilang dan tubuhnya menggigil.

Harven panik, namun kepanikannya tidak seperti orang lain. Ia hanya bergerak dengan cepat. Harven segera mengambil handuk basah, kemudian menurunkannya ke kening Jevan.

"Aku sudah bilang jangan terlalu memaksakan diri."

"Tapi, aku suka kesibukan," gumam Jevan pelan dengan mata yang setengah tertutup. "Aku takut kalau berhenti sebentar, aku bakalan ngerasa sendiri lagi."

Harven yang biasanya tak memberi reaksi apa pun, tiba-tiba menunduk.

"Kamu tidak sendiri."

Beberapa jam kemudian Jevan masih tertidur di sofa, tubuhnya dibalut dengan selimut, dan napasnya mulai lebih stabil. Harven duduk di dibawah membiarkan punggungnya menyandar ke sisi sofa.

Ia menatap wajah Jevan yang pucat. Wajah yang biasanya ramai, kini diam seperti sketsa yang belum diberi warna. Harven menyentuh tangan Jevan pelan memastikan suhu tubuhnya sudah turun.

"Kenapa kamu bisa semudah itu membuatku kerepotan?" gumamnya.

Entah sejak kapan ada senyum tipis yang muncul di wajah Harven. Sangat tipis nyaris tak terlihat dan senyum itu hanya muncul untuk satu orang. Keesokan paginya Jevan terbangun perlahan. Ruang tengah masih hening, namun di atas meja ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang sangat rapi.

Buburmu tinggal dihangatkan. Obat sudah kupindahkan ke laci. Jangan pergi ke kampus hari ini, dan jangan sentuh es di kulkas. – H

Jevan tersenyum, ia tahu secara perlahan-lahan batas itu mulai retak.

Jevan tersenyum, ia tahu secara perlahan-lahan batas itu mulai retak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
𝐌𝐎𝐑𝐔𝐒 || 𝐇𝐄𝐄𝐉𝐀𝐊𝐄Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang