[𝐂𝐎𝐌𝐏𝐋𝐄𝐓𝐄]
Jevan terlalu ribut dan Harven terlalu diam.
...
Nikah kontrak? Jevan pikir itu cuma ada di drama televisi doang. Sampai dia dijodohin sama Harven Wicaksono, direktur yang ganteng, tajir, tapi nyebelin.
Harven suka aturan.
Jevan s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ada dua macam orang di dunia ini.
Yang menyusun hidupnya seperti bangunan dengan fondasi presisi atau yang menjalani hidupnya penuh dengan tawa.
Harven Wicaksono duduk di ruang kerjanya, tak ada bingkai foto atapun vas bunga. Bahkan jam dinding pun nyaris tak bersuara. Ia mengetik beberapa dokumen terakhir sebelum suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah pintu.
"Wow," gumam seseorang dari ambang pintu. "Ruanganmu kerasa lebih kaku dari playlist musik dosen pembimbing di kampusku."
Harven mengangkat wajahnya perlahan, di sanalah dia berada Jevan Maheswara. Laki-laki yang beridiri dengan menggunakan hoodie abu yang terlalu besar, tote bag bergambar anak anjing, dan rambut cokelat gelap yang agak ikal di bagian atasnya.
Matanya bening, senyumnya terlalu hidup, dan langkahnya seperti badai yang tersesat ke dalam sebuah museum. "Jevan." Hanya itu yang keluar dari bibir Harven.
"Oh, kamu Harven." Jevan berjalan pelan, lalu duduk tanpa diundang di atas kursi tamu berlapis beludru. "Calon suami yang katanya dingin banget ngalahin kulkas 45 pintu."
Harven tak tertawa, namun matanya menelisik dan menatap Jevan seperti sedang menilai lukisan yang terlalu mencolok untuk dipajang pada dindingnya kantornya. "Kontrak sudah disusun, jadi kita bisa langsung membahas perjanjiannya sekarang."
Jevan menghela napas. "Langsung? Ngga mau basa-basi dulu gitu?"
"Aku tidak suka basa-basi dan orang tua kita juga sudah menetapkan perjanjian ini jauh sebelum kamu bisa mengeja kata 'arsitektur' dengan benar."
Jevan tersenyum miring. "Aku bisa ngeja kata itu dari umur enam tahun. Tapi, ngga apa nice try, jokes nya lucu kok." Harven menyerahkan map cokelat tipis dan Jevan membukanya pelan. Di sana sudah tertulis segala hal yang membuat dua orang dengan tiba-tiba menjadi pasangan.
"Ini lucu sih," ucap Jevan."Kita nikah, tapi dengan syarat yang kelihatan ngga gen z banget."
"Tujuannya bukan cinta, kalau itu gen z yang kamu inginkan."
"Mungkin ngga buat kamu," bisik Jevan. "Tapi kamu harus tahu kalau hidup itu kadang suka usil, Harven."
Malam harinya, Jevan sudah berdiri di dalam apartemen barunya. Matanya menelusuri setiap sudut ruangan. Dinding apartemen yang berwarna abu, rak-rak yang tertata dengan simetris, serta lantai yang terasa seperti selalu dipel tiap malam.
Jevan mendekat dan duduk di lantai menyandarkan punggungnya ke sofa. Harven menatap laki-laki itu dari tempatnya berdiri. Ada sesuatu yang terasa asing... sesuatu yang sepertinya tak bisa ia bawa ke dalam rumus hidupnya.
Malam itu, keduanya tidur di ruang yang sama bukan sebagai kekasih ataupun teman, hanya sebagai dua orang yang sama-sama bingung tentang bagaimana caranya mencintai dalam dunia yang terlalu terencana.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.