adalah
t e l a g a"Bagaimana? Sudah rampung?"
Kalau dipikir-pikir, saya hanya perlu menggeleng tanpa mengeluarkan suara untuk menjawab tanyamu. Tapi karena kamu telah mengulang pertanyaan yang sama sebanyak lima kali dalam satu jam terakhir ini, saya jadi enggan untuk menjawab. Toh, kamu sedari tadi duduk anteng di sebelah saya. Tidak mungkin kamu tidak melihat tangan saya yang masih sibuk menulis di atas kertas, 'kan? Ya, walaupun saya kebanyakan melamun dan merenung alih-alih segera menyelesaikan urusan ini.
Tapi, saya yakin kamu tahu saya belum bisa merampungkan ini, Kim.
"Saya punya satu pertanyaan. Tapi, saya hanya akan memberitahu kamu kalau kamu membiarkan saya istirahat sebentar. Kamu tahu, tulisan-tulisan ini membuat saya ingin muntah."
Sebelah alismu terangkat, menatap saya bingung. Tapi, kemudian kedua tanganmu bergerak menutup buku tebal berwarna merah delima milik saya yang terbuka. Serta membalik halaman-halaman sobekan kertas (yang isinya coretan dan gambar-gambar abstrak yang saya buat) supaya tidak terlihat oleh mata saya lagi. Ah, kamu juga meraih selembar daun yang jatuh di atas meja tempat kita menumpu sepasang lengan sedari tadi.
"Untuk apa?"
"Daun ini?" Kamu bertanya kembali sembari mengangkat selembar daun yang mulai menguning di sisi ujungnya.
Saya mengangguk. Menatap pucuk suraimu yang tampak antusias melambai pada tiupan sang bayu. Saya selalu suka ketika jemari tanganmu yang kerontang itu menyisir pelan surai legammu ke arah belakang. Kim, saya terkadang berpikir kamu laki-laki yang tampan jika saja kamu tidak terus-menerus meminta saya menulis semua yang ada di dalam kepala saya.
Puisi bagi saya, Kim, tak lebih hanyalah sebuah keberangkatan yang enggan pulang tanpa meraup kesedihan.
Dan saya tidak ingin isi kepala saya menjadi perbincangan tangkup-tangkup bibir yang tidak mengenal saya lebih baik dari kamu, atau bahkan tidak lebih baik dari puisi-puisi yang saya tulis di selembar tissue ketika saya sedang menunggu pesanan di kafe favorit kita berdua.
"Sekarang beritahu saya, apa pertanyaanmu?"
Suaramu mengembalikan atensi saya, dan saya melihat matamu, Kim. Mata yang jauh lebih meneduhkan dari warna hijau kemuning di selembar daun itu; yang kini menjadi pembatas buku tebal bersampul merah delima milik saya. Ujung daun itu terlihat dari sisi buku yang lain, lalu selayang pandang itu kembali pada matamu. Menguncinya.
"Apa bintang yang jatuh itu sudah pasti cinta kepada langit?"
Dan seperti respon yang selalu kamu beri ketika pertanyaan aneh dalam kepala saya unjuk gigi, kamu diam dan hanya menatap saya tanpa ekspresi sampai sekon sekon berikutnya. Saya pun demikian, memilih kembali membuka salah satu lembar sobekan, menggambar bola mata entah milik siapa, menunggu kamu membuka suara.
Saya selalu menunggu jawabanmu, Kim. Meski saya kerapkali acuh atas pertanyaan sendiri (karena saya tahu kamu sebenarnya tidak tahu jawabannya) saya akan tetap antusias dengan jawaban yang kamu buat-buat itu.
"Tidak ada bukti yang menyatakan kalau bintang yang jatuh sudah pasti mau untuk jatuh, Ra. Kamu tidak bisa menyimpulkan dia bintang yang mau jatuh hanya karena namanya bintang jatuh."
Sketsa bola mata masih tergarap separuh, kepala saya cepat menoleh pada pahatan wajahmu ketika kamu mengeluarkan suara. Saya tidak tahu apa yang kamu pikirkan sejak sekon sekon yang lalu, sehingga jawaban yang kamu keluarkan, sungguh lebih aneh dari pertanyaan yang saya ajukan.

YOU ARE READING
tangga rumput
Short Storysehimpun cerita pendek yang terinspirasi dari salah satu bab dalam buku "Bukan Kepala yang Kehilangan Rambut". [ tangga rumput - Bab 3 ] Halaman rumahku adalah telaga darah berwarna ungu. Baunya seperti ingatan masa lalu yang kau coba kubur secara...