Chapter 13: Janjian

42 0 0
                                        

#Hai hai, Readers... vote dulu ya sebelum baca. Follow juga akun aku. Semoga dalam waktu dekat upload cerita baru. Semangati terus ya, Readers. Happy reading :)

POV Danar

Hari ini setengah hari terasa cepat berlalu. Pekerjaan finishing juga sudah kuselesaikan. Sayangnya hari ini tak kulihat sosok Dhiya. Simbah cerita kalo Dhiya lagi ada rapat penting di kantor.

"Katanya kantornya mau join kerjaan apa gimana gitu, Simbah ga terlalu paham."kata Simbah saat aku akan pamit pulang.

Padahal aku tak menanyakan secara langsung, tapi Simbah sepertinya tahu isi pikiranku.

Dan, berakhir sudah kisahku dengan gadis Bernama Dhiya itu. Tanpa sempat mengonfirmasi perasaanku dan bagaimana kabarnya setelah kejadian sore itu, berakhir begitu saja. Kupikir tak ada lagi kesempatan.

Pikiranku bahwa semua telah usai, tiba-tiba terbantah dengan munculnya sebuah panggilan di ponsel. Nama Dhiya terpampang di sana. Segera kusambar ponsel dan kutekan tombolnya.

Suara gadis yang selama beberapa hari ini mengganggu pikiran terdengar merdu di telinga.

"Halo, Mba Dhiya?"sapaku yang tak bisa menyembunyikan rasa girang. Aku juga heran kenapa bisa begini. Biasanya aku selalu bisa bersikap tenang dan professional di depan pelanggan. Entah kenapa di depan gadis ini rasanya berbeda. Pikiran sering kacau, otak blank, kadang mau berucap pun banyak pertimbangan untuk memilih kata-kata.

Kali ini telepon darinya benar-benar membuatku senang. Meskipun alasannya adalah meja makan lagi, tak apalah. Mungkin dari situ aku akan dapat kesempatan yang lebih baik untuk mengajaknya ngobrol atau makan?

Simbah menginginkan ukiran tambahan di meja makan, entah di bagian yang mana. Aku tak sempat berpikir untuk menanyakan di bagian mana yang mau ditambahkan. Entah saking senangnya atau saking tak sabarnya mau ketemu lagi dengan Dhiya.

"Datang dulu aja deh. Biar bisa balik lagi."putusku.

Aku menjanjikan datang di hari sabtu. Sengaja. Karena seingatku, Dhiya libur di hari Sabtu.

Setelah mendengar suara gadis itu rasanya hati ini berbunga-bunga. Sudah lama tak kurasakan perasaan ingin selalu dekat lawan jenis. Dulu aku pernah jatuh cinta, tapi kali ini rasanya berbeda. Seorang gadis Bernama Dhiya rupanya begitu memberi kesan istimewa padaku. Mungkin karena aku juga sudah masuk ke usia yang digolongkan dewasa. Menurut orang-orang tua, jika kita sudah menginjak usia dewasa, maka segala sesuatu pastinya merupakan hasil pemikiran serius. Dikaitkan dengan kematangan berpikir dan pengalaman hidup yang menempa kita agar tumbuh pemikiran yang lebih bijaksana.

Entah apakah Dhiya adalah jodoh yang kucari-cari atau bukan, yang pasti aku akan berusaha sekuat tenaga mendapatkannya. Usaha maksimal agar aku tak menyesal nantinya.

POV Dhiya

Rasa aneh itu masih terbawa hingga hari ini. Padahal Mas Danar sudah menyelesaikan tugas reparasinya 2 hari lalu. Sudah berlalu. Iya, berlalu.

Kenapa ada rasa menyayangkan gitu ya?

"Dhi, jadi desain plumbingnya yang mana ni? Pak mandor dah mau eksekusi." Suara Reza membuyarkan lamunan.

"Hah?" aku tergagap.

"Kenapa? Laper ya? Bengong aja."ledek Reza.

"Ga! Nih yang final. Udah sekalian sama DED-nya kok." Kusodorkan gulungan kertas desain yang semalam udah kuperiksa dengan teliti. Reza menerimanya dan ngeloyor pergi menemui mandor proyek.

"Apa sih yang kamu pikirkan, Dhiya? Kerja nih!" Rutukku pada diri sendiri.

Pulang kerja pun rasa aneh itu masih ada, padahal kupikir kalo badan udah penat maka akan lupa. Geregetan rasanya, pengen menghilangkan rasa aneh itu, tapi gimana?

"Kamu ada rasa tuh."komentar Windu. Siang itu kami berdua ketemuan di café Arion, depan kantorku. Kebetulan Windu ada tugas audit sekitar kantorku, sekalian mampir. Udah lama kami ga main keluar bareng gini. Ya kali ini agak nyuri-nyuri waktu sih. Alasan ke boss, "penting banget".

"Hah?" aku tak percaya dengan penerawangan Windu.

"Rasa apa? Malu?" terakhir masih kuingat peristiwa "promosi" itu.

"Bukanlah... ni anak naif banget sih."gerutu Windu.

Kugelengkan kepala, "Ga mungkin rasa suka kan?"

Windu tertawa "Nah tuh mulai paham perasaan sendiri. Udah deh... akui aja. Ga usah gengsi gitu. Mas Danar itu emang mengesankan."

"Tapi kan aku ga kenal-kenal banget sama dia."protesku.

"Sebatas kenal juga kan bisa bikin penasaran pengen tahu lebih banyak."bantah Windu.

"Iya juga sih... aku juga merasa Mas Danar selama ini selalu jaim kalo di depan pelanggannya. Apa iya dia orangnya bisa jujur apa adanya? Kenapa aku tertarik orang macam ini? Aneh aja buatku." Aku menyesap jus manggaku.

"Kamu kan ga tau Mas Danar yang sebenarnya. Jangan langsung dihakimi gitu dong." Bela Windu.

Tiba-tiba ponselku berdering. Kulihat nama Simbah di layarnya. Aku memberi tanda dengan tanganku ke Windu untuk minta waktu sebentar.

"Iya, Mbah?"jawabku.

"Nduk... Simbah mau nambah ukiran di meja makan. Bisa panggil Nak Danar lagi?"suara simbah di seberang telepon membuatku merasa sangat bahagia.

"Bisa, Mbah. Dhiya nanya dulu ya ke Mas Danar, bisanya kapan."jawabku sumringah. Windu tersenyum-senyum ke arahku sambil mengunyah kentang gorengnya.

Simbah mengakhiri panggilan telepon. Aku langsung menggenggam tangan Windu yang belepotan saus sambal, kalo bukan karena aku lagi senang aku bakal jijik.

"Aku harus janjian lagi sama Mas Danar, Win."

"Ciee... yang matanya berkilauan... iya iya. Sana kirim pesan. Atau telepon aja sekalian buat obat rindu denger suaranya."goda Windu, membuatku sedikit tersipu.

Ish... Dhiya! Kok kamu bisa tersipu gini?

Kami berpisah, Kembali ke kantor masing-masing. Menyelesaikan sisa pekerjaan hari itu. Tak sabar rasanya ingin segera konsen bikin janji sama Mas Danar.

Sore itu habis mandi, udah wangi, kuposisikan duduk di ranjang, bersiap menghubungi Mas Danar. Iya aku tahu, udah mandi atau belum ga ngaruh kalo nelepon orang.

Kutatap layar lama. Nama di layar itu membuatku berdebar tak karuan. Kuhirup udara dalam-dalam... memenuhi paru-paruku dengan oksigen banyak-banyak, berharap degup jantung ini ga terlalu mengganggu nada suaraku.

Kupencet tanda telepon di layar setelah beberapa saat.

"Halo, Mba Dhiya?" suara di seberang membuat jantungku Kembali berdegup kencang.

"Ha... Halo Mas Danar. Maaf mengganggu, Mas."jawabku yang ternyata lumayan lancar. Ada rasa lega sesaat.

"Enggak, mba. Ada masalah sama mejanya?"tebak Mas Danar.

"Bukan masalah sih, Mas, hanya saja Simbah ingin nambah ukiran. Kapan Mas Danar bisa ngerjainnya?"jawabku. Kuremas selimut, seperti lagi nunggu pengumuman kelulusan aja nih tegangnya.

"Oh gitu... Sebentar ya." Sejenak sunyi, tampaknya Mas Danar melihat jadwalnya.

"Kalo minggu depan, hari Sabtu, bisa?"tanya Mas Danar.

Sabtu? Yess!! Aku kegirangan. Pas banget hari itu aku libur. Biasanya kan aku lembur di hari Sabtu. Terimakasih, Tuhan.

"Bisa, Mas."jawabku cepat.

"Oke deh, untuk waktunya, nanti saya kabari lagi ya Mba. Soalnya Sabtu pagi saya ada janji juga sama klien."

"Oke."jawabku singkat namun aku merasa nadanya terlalu terlihat kalo aku lagi senang. Agak menyesal gitu sih. Kan gengsi juga kalo sampai Mas Danar tahu aku tuh sangat menantikan pertemuan ini.

Percakapan kami berakhir.

Kutatap layar lagi. Kok cuma 4 menit 3 detik ya? Durasi panggilantelepon yang menurutku terlalu singkat. Tapi lumayanlah daripada 1 menit.


Dua Puluh Empat [END]Where stories live. Discover now