Chapter 14: Bulls Eye

39 1 0
                                        

#Yuk, yuk! Author ga bosen-bosen ingetin Readers buat follow dan vote cerita ini yaaa. Happy reading :)

Sabtu pagi aku sengaja bersepeda ke rumah Windu. Aku sedang ingin didengarkan. Windu juga pengen dengar. Pas kan?

Semalam Mas Danar memastikan waktu kedatangannya. Jam 11. Oke, noted.

"Siapkan mental, Dhi."goda Windu sambil meletakkan segelas jus jeruk di depanku.

"Udah disiapin dari seminggu lalu, Win." Aku langsung menikmati jus yang disuguhkan.

Segaar... selain karena jusnya, setelah bersepeda memang badan rasanya segar. Angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku saat bersepeda adalah obat mujarab untuk penatnya otak.

"Kamu harus cari cara supaya komunikasi ga selesai hari ini, Dhi."

"Iya, tahu."jawabku singkat sambil mengedipkan sebelah mataku.

"Yoga ngajak ke pemancingan nih."kata Windu. Yoga adalah pacar Windu. Hubungan mereka termasuk awet. Tak lama aku dan Bayu jadian, Windu dan Yoga pun menaikkan level hubungan pertemanan mereka. Berarti udah hampir 5 tahun.

"Kapan Yoga pulang Jogja? Jam berapa janjian? Kamu udah mandi? Pemancingan mana? Yang biasanya kita kumpul?"aku memberondong Windu.

"Kayak kaset rusak deh..."gerutu Windu. Kami tertawa bersama. Obrolan kami pun berlanjut sekitar setengah jam.

Jam 9 aku pamit pulang untuk bersiap-siap. Kukayuh sepeda sambil bersenandung riang.

Tepat jam 11.00 motor Mas Danar terdengar memasuki pekarangan rumah. Jantungku berdegup kencang.

"Siang, Mba Dhiya."sapanya saat melihatku di pendopo.

"Siang Mas Danar. Duduk dulu deh Mas, minum teh."sambutku manis.

Mas Danar mengikuti pintaku. Dia berjalan ke arahku dan menempati kursi di sebelah meja.

"Ga masuk kerja mba?"tanya Mas Danar membuka perbincangan.

"Lagi ga lembur Mas. Proyeknya udah jalan semua, jadi tinggal inspeksi aja." Aku meneguk tehku.

"Arsitek tuh rumit kan Mba?"tanya Mas Danar.

"Pasti Mas Danar penasaran ya, kenapa cewek mau jadi arsitek?"senyum kukembangkan.

"Ga juga sih Mba. Profesi apapun cewek juga berhak, kadang kan malah lebih unggul dari kami para cowok."jawabnya kalem.

"Kalo tekun apapun ga rumit kok Mas. Kerjaan Mas Danar kan juga ga kalah rumit."sanjungku.

Pembicaraan kami memang masih terkesan basa-basi, tapi menurutku ga ada masalah. Toh masih penjajagan dulu.

"Ukiran yang dimaksud, di bagian mana ya Mba?"akhirnya mas Danar menuju inti pembicaraan hari ini.

"Pinggiran meja, Mas."jawabku.

Mas Danar tampak manggut-manggut. Tampaknya dia lagi berpikir desain ukiran yang cocok buat pinggiran meja Simbah.

"Bisa langsung di desain ga Mas? Maaf baru bilang sekarang. Barusan aja Dhiya dikasih tahu Simbah."kataku lagi. Kulihat Mas Danar menyunggingkan senyuman.

Ihhh... gemes deh. Senyumnya manis banget!

Tahan, Dhiya... Tahan.

Tanpa sadar tanganku mengelus dada. Mas Danar tampak heran dengan tingkahku.

"Kenapa?"tanyanya.

"Enggak Mas, gak papa."kukembangkan senyum menghindari pertanyaan lebih lanjut.

Dua Puluh Empat [END]Stories to obsess over. Discover now