Chapter 3: Hati Simbah

82 1 0
                                        

Bruuakk!! Prang!! Prang!! Krompyang!!

Pagi itu kegaduhan terjadi. Apa pasal?

"Aduuuh.... Piye ikiiii... (bagaimana ini)", keluh Mbok Yem sambal mondar-mandir dari ruang tengah ke arah kamar Simbah Mar.

Aku yang baru selesai mandi, keluar ke ruang tengah dan mataku mendapati sosok Mbok Yem yang tergesa lalu lalang.

"Suara apa barusan itu, Mbok?", tanyaku.

Mbok Yem menghentikan Langkahnya dan memandangku. Tampak di wajahnya gurat kecemasan yang membuatku mendekatinya.

"Anuuu... itu.... Itu loh Nduk...", Mbok Yem terbata dan hanya mampu mengacungkan telunjuknya ke arah ruang makan.

Pupil mataku melebar. Kaget. Meja makan kesayangan Simbah sudah rubuh dan beberapa hidangan di meja tumpah ruah ke lantai ruang makan. Pecahan piring dan mangkuk tampak juga di sana.

"Rubuh, Mbok?", tanyaku bodoh. Sebenarnya lebih ke meyakinkan diri sendiri bahwa meja yang begitu kokoh itu kini rebahan di lantai.

"Iya, Nduk. Simbah sedang ke pasar sama Bulikmu. Nanti kalo pulang pasti kaget." Ucap Mbok Yem bergetar karena cemas.

Maklumlah, beliau pasti takut Simbah marah jika tahu perabot kesayangannya itu sudah hancur, dan bukan hancur di tangannya sendiri.

Aku tersenyum, "ga papa, Mbok... Nanti Dhiya carikan tukang reparasi"

Mbok Yem berbinar, "ada to yang bisa perbaiki meja gitu?", tanyanya polos.

"Ada lah, Mbok. Nanti Dhiya bantu Mbok Yem bilang sama Simbah. Pasti Simbah mengerti kok. Kan meja itu emang sudah tua, Mbok." jawabku. Mbok Yem manggut-manggut dan tampak raut mukanya sudah tenang Kembali.

Tak berapa lama, suara motor Bulik Sum terdengar.

"Nah, itu dia Simbah sama Bulik."kataku. Tanpa aba-aba, Mbok Yem berjalan beriringan denganku ke arah pendopo.

"Simbah, dari pasar, beli apa ni?", tanyaku manja. Simbah tampak sumringah menunjukkan tentengannya.

"Banyak nih. Simbah beli ayam kampung, sudah lama ga masak opor." Sahutnya.

"Mmm... anu... Mbah. Yem mau minta maaf."tiba-tiba Mbok Yem angkat bicara. Simbah meletakkan belanjaan dan duduk di kursi yang ada di pendopo.

"Kenapa pagi-pagi ngomong "Maaf"?", tanya Simbah heran sambil menatap Mbok Yem.

"Tadi pagi setelah Simbah berangkat ke pasar, saya nyiapin sarapan di meja makan. Terus...."Mbok Yem ragu melanjutkan kata-katanya dan menatapku.

"Meja Simbah rubuh."lanjutku. Simbah terdiam.

Aku. Mbok Yem, dan Bulik Sum tegang menahan napas kami.

"Oalah... kirain ada apa. Yem, meja itu memang sudah tua. Kalo rubuh ya memang sudah umurnya."jawab Simbah sambil tertawa kecil.

Jawaban simbah membuat kami bertiga lega.

Sore itu pulang dari kerja, kulihat Simbah melamun di pendopo sendirian. Raut mukanya tampak sangat sedih. Aku jadi teringat kejadian pagi ini, tak mungkin Simbah tak sedih dengan nasib meja makan kesayangannya itu.

Kuparkir sepedaku dan berjalan santai ke arah Simbah. Beliau belum menyadari kehadiranku sampai Ketika aku berdiri di sampingnya. Beliau tampak kaget, lalu tersenyum.

"Sudah pulang, Nduk? Kerjaan lancar?"tanyanya.

"Iya Mbah, lancar. Minggu depan udah mulai pembangunan", jawabku.

"Syukurlah, Nduk." Simbah meraih cangkir teh di mejanya.

"Simbah kepikiran meja makan ya?", tanyaku hati-hati.

"Meja itu peninggalan Kakek buyutmu. Beliau sendiri yang membuat meja makan itu." Jawabnya.

Mata Simbah menerawang jauh, seakan sedang mengenang sosok ayahnya itu.

"Simbah, besok Dhiya kan libur, jadi ada waktu buat cari tukang reparasi perabot", kataku semangat, berharap Simbah berhenti merasa sedih.

"Kalo tak ada, yo ga papa ya, Nduk. Rasah ngoyo (Jangan memaksakandiri)", jawab Simbah dan seulas senyum menghias wajahnya membuatku sedikitlega.

Dua Puluh Empat [END]Where stories live. Discover now