[4] Apa Kabar Teman Lama?

614 180 105
                                        

●●●

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

●●●

"Kakimu sudah sembuh?"

Winther menaikkan sandaran kasurnya dan mengangguk, kakinya diberi penyangga karena terluka parah akibat kejadian di Gedung Merah itu. Luka akibat tusukan itu ternyata menginfeksi kakinya, mau tak mau ia pun harus di rawat di rumah sakit.

Pria dengan jas mahal itu hanya mengangguk kemudian pergi keluar, sebelumnya ia berpesan kepada penjaga anaknya untuk memperhatikan anak gadisnya itu. Pria itu adalah ayah dari Winther, tak banyak bicara saat menjenguk putri satu-satunya itu.

Winther menghela napasnya, entah sampai kapan ayahnya akan memusuhinya dan menganggapnya sebagai malapetaka salam keluarga. Memikirnya setiap saat membuat Winter lelah, ia bahkan mengidap kesulitan tidur sejak saat itu.

"Nak Winther, saya izin ke kamar mandi." Ujar sang penjaga yang biasa ia panggil sebagai Suster Rowa. Winther pun mengangguk dan kemudian menyalakan televisi dengan tombol di sampingnya.

Acara di televisi belum seperti biasanya, lebih banyak laporan politik dan keadaan Mars saat ini. Dua bulan setelah kejadian membuat Mars masih dalam tahap transisi, belum lagi kasus pembunuhan Sang Kunci Rubi yang membuat pasang mata menghakimi semua pihak.

Winther pun merasakan tenggorokannya kering, ia pun mencoba mengambil air di atas nakas di sampingnya namun ternyata nihil. Gadis itu pun menoleh ke arah kamar mandi, Suster Rowa belum juga keluar dari sana.

"Sus, bisakah lebih cepat? Aku ingin minum." Ujarnya ke arah kamar mandi.

Dari arah kanan seseorang menyodori Winther segelas air, gadis itu menoleh dan kemudian terdiam menerima gelas kaca yang di berikan kepadanya itu.

"Jhane ..."

Jhane melepaskan gelasnya kemudian menyuruh Winther untuk meminum airnya terlebih dahulu, ia pun kemudian menyeret kursi yang berada di samping kasur Winther dan di gunakan untuk duduk.

Winther meminum airnya dengan ragu-ragu, namun Jhane hanya diam saja sampai akhirnya gadis itu minum dengan baik.

"Aku dengar kau juga ada di Gedung Merah saat kejadian itu. Dan aku ingin kau memberikan kesaksian sejujur-jujurnya kepadaku, bisa?" Tanya Jhane sambil tersenyum.

Jhane pun menyandarkan tubuhnya sambil menghela napasnya dalam-dalam, "apakah kau bertemu dengan Olympus di Gedung Merah saat kejadian?" Tanya Jhane.

Winther pun menggeleng cepat, raut wajahnya berubah cepat. "Tidak, aku ke Gedung Merah awalnya karena menemui ayahku, bertemu dengan Sang Kunci Rubi." Ujarnya sedikit bergetar.

Alis Jhane pun naik mendengarnya, "oh, kau juga berada di sana? Bersama Sang Kunci Rubi di ruangannya? Wow, kebetulan sekali. Apa yang kau lihat di dalam sana? Sebuah pembunuhan?" Tanya Jhane lagi.

Tangan Winther mulai berkeringat habis-habisan. Ia pun membasahi bibirnya beberapa kali karena gugup, ia salah ucap saat di mintai keterangan.

"Sebetulnya aku di ruangan lain saat itu, aku sudah selesai urusannya pada saat itu. Aku tidak tahu apa-apa. Bukan hakmu juga memaksaku." Ujar Winther.

[3] Olympus : The Last Chance (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang