●●●
Spesial Part for Siem Twins.
●●●
"Tim Jaguar akan berangkat dengan pesawat tempur atau kereta udara cepat?"
Mate Sim selaku kapten tim mencoba menyelaraskan jalannya dengan sang atasan, menjawab sebisanya. "Pesawat Tempur, Pak. Besok hari terakhir kami latihan sebelum terbang ke Mongolia." Ujar Mate.
Keduanya sampai di depan gedung, hari ini mereka akan bertolak ke rumah sakit angkata darat di kota Perth, Australia untuk penyuntikan vaksin sebelum bertolak ke negara berkonflik.
Tim Jaguar adalah tim pilihan pemerintah Australia berisi pasukan khusus dengan pelatihan ketat yang ditugaskan menjaga perbatasan Mongolia dengan China di Selatan dan juga Rusia di Utara.
Mate memberi hormat pada atasannya sebelum naik ke kereta udara milik tentara Datasemen 549.
Mereka memilih untuk menggunakan mobil cepat milik angkatan darat karena beberapa alasan. Sambil menikmati jalanan kota Perth para prajurit yang berjumlah kurang lebih 25 orang itu saling berbincang satu sama lain.
Tepat di lampu yang masih hijau mobil mereka berhenti dengan cepat, beberapa terpental dari tempatnya. Mereka menatap ke luar mobil dan memeriksa apa yang terjadi di luar sana.
Boom!
Suara ledakan di salah satu gedung di sisi kanan jalanan, pecahan kaca berjatuhan menghujani mobil-mobil di bawahnya. Selang beberapa detik setelah itu terdengar suara tembakan di beberapa lantai, kaca juga ikut pecah dan hancur akibat tembakan beruntun.
"Kurasa ini terorisme." Ujar salah satu prajurit, Alex.
Rekannya yang lain sekaligus wakil kapten tim Jaguar yaitu Corbyn mengangguk setuju. "Pelakunya menyebar di setiap lantai dengan tugas berbeda. Lantai ganjil untuk meledakkan bom skala sedang sedangkan lantai genap untuk melakukan penembakan massal." Ujarnya menganalisis.
Satu lagi, Jeremy, menggeleng pelan. "Tembakannya konstan dan seragam dengan kecepatan yang sama, itu bukan manusia. Mereka menggunakan robot pembunuh untuk menembaki orang-orang di lantai genap." Ujar Jeremy.
"Itu artinya—"
"—pelakunya tidak ada di dalam gedung." Ujar Mate sambil melirik ke arah robot pembunuh yang membuang salah satu mayat penembakan dari lantai tinggi.
Rekan yang ahli data komputer yaitu Hendrick membuka pemindai jarak jauhnya. Sensor dari cahaya itu memantulkan apa yang terjadi di dalam gedung.
"Lantai 14 didominasi pegawai keuangan dan jasa administrasi. Gedung ini adalah perusahaan farmasi terkemuka di Perth, milik seorang adik dari walikota Brisbane. Sementara pengeboman di gudang data. Kita tahu ini mengarah ke mana." Ujarnya menatap timnya serius.
Mate mengusap bawah bibirnya pelan, "Jaringan kartel narkoba." Ujarnya yakin. Semua juga setuju dengan jawaban kapten mereka itu.
Alex mengusap hidungnya yang bereringat. "Lalu bagaimana?" Tanyanya meminta solusi.
Corbyn selaku wakil kapten menunggu keputusan kaptennya. Mate pun mengangguk, "Anggap saja ini latihan terakhir sebelum pergi. Ambil yang bisa digunakan. Kartel biasanya punya mata-mata di sekitar gedung, tim A ke gedung utama, tim B di sebrang kanan, sisanya menyebar di tiap titik yang kemungkinan menjadi target selanjutnya. Lucas, cabut jika perlu." Ujar Mate kepada ahli penjinak bom mereka yaitu Lucas.
Keadaan memaksa mereka untuk berlatih di luar jadwal mereka. Dengan senjata seadanya mereka menunaikan tugas mereka menjaga stabilitas negara karena mereka berangkat dengan kendaraan umum milik datasemen mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
[3] Olympus : The Last Chance (END)
Fanfiction[OLYMPUS UNIVERSE #3] *CERITA LENGKAP* Hidup Olympus punya tiga babak; berlindung, memberontak, membuktikan. Kini ia berada di balik jeruji besi, namun kebenaran harus terungkap. Teman-teman, keluarga, dan seluruh masyarakat Mars memulai kudeta mer...
![[3] Olympus : The Last Chance (END)](https://img.wattpad.com/cover/258788532-64-k527100.jpg)