WARNING TYPO
Kedua orang tua Perth panik dan mencari tahu keberadaan anaknya. Nyonya dan Tuan Tanapon tahu Perth pergi saat mereka baru saja tiba di rumah. Saat itu Ibu Perth menanyakan keberadaan anaknya, lalu pelayan di rumah mengatakan jika Perth pergi sejak pagi dengan mengendarai mobil miliknya. Tuan Tanapon bertanya pada Mark yang memang satu-satunya sahabat yang di miliki Perth, tapi Mark tidak tahu keberadaan sahabatnya.
ibu Perth lalu menelpon Ayahnya, tapi Kakek Perth hanya mengatakan kepada Nyonya Tanapon untuk tidak khawatir. Tapi mereka tidak bisa diam saja, mereka sungguh cemas. Akhirnya kedua orang tua Perth memutuskan pergi ke rumah Ayah mereka pasti ada yang sedang disembunyikan.
Sesampainya di rumah Kakek, kedua orang tua Perth bergegas masuk dengan wajah yang sangat cemas. Tapi ia benar-benar tidak menemukan keberadaan anaknya, sedangkan Ayahnya hanya duduk dan memasang wajah santai.
“Ayah!! Ayah pasti tahu di mana Perth?”. Karena cemas dan khawatir Nyonya Tanapon meninggikan suaranya.
“Duduklah kalian dulu”. Nira sang putri mengerutkan dahinya, melihat Ayahnya yang sangat tenang.
“Apa Ayah menyembunyikan sesuatu lagi dariku?”. Nira sedikit meluapkan emosinya.
“Sayang~”. Ayah Perth mencoba meredam kemarahan istrinya, lalu membawanya untuk duduk.
“Ayah, apa yang sudah terjadi?”. Tanya Tuan Tanapon pada mertua sekaligus Ayah angkatnya.
Kris seorang yatim piatu dan tinggal di sebuah panti asuhan, saat Ayah Nira bertemu dengannya. Saat itu Kris yang berusia tiga belas tahun sedang berjualan koran di jalan. Karena melihat kegigihan anak seusia dengan anaknya. Ayah Nira membiayai seluruh keperluan Kris bahkan hingga ia melanjutkan perkuliahan di Amerika. Ya Tuan Tanapon memberikan nama belakangnya. Tanpa sepengetahuan Ayah Nira, anak gadis dan anak angkatnya menjalin kasih. Karena Kakek mencintai keduanya, tanpa perdebatan merestui hubungan mereka hingga pernikahan dan memiliki Perth.
“Kutukan ini harus di hentikan”.
“Jangan katakan Ayah mengorbankan Perth??”. Ucap Nira.
“Aku tidak mungkin mengorbankan Cucu ku”.
“Lalu mengapa Ayah membiarkan Perth”. Nira tidak bisa menahan air matanya.
“Perth sudah dewasa, Ayah sudah mengatakan semuanya pada Perth, dan Cucu ku benar semua ini harus di akhiri. Aku percaya pada Cucu ku, semua akan baik-baik saja. Perth datang bersama seseorang “.
Nira dan suaminya menatap Kakek.”. Mark?”. Tebak Kris
“Bukan”. Ya tentu saja karena Mark pun tidak tahu keberadaan Perth.
“Saint”.
“SAINT??”. Kedua orang tua Perth mengulang nama yang di sebutkan Ayah mereka.
“Dia anak yang akan menyelamatkan Perth dan melepaskan semua kutukan di keluarga kita”.
Kedua orang tua Perth menghela nafas lega, ini adalah berita paling baik yang mereka dengar.
“Apa anak itu memiliki tanda?”. Kakek mengangguk mengiyakan.
“Lalu di mana mereka?”. Tanya Ayah Perth.
“Mereka pergi ke villa milik keluarga kita”.
“DREAM HOUSE?”. Seru Nira. Ya keluarga mereka menamai villa itu dan nama itu di pilih oleh Nari.
“Ayah”. Ujar Kriss
“Ada apa nak?”
“Apa Perth tahu, seseorang yang memiliki tanda itu berati “. Tuan Tanapon tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
Kakek menggeleng pelan. “ kita akan cari jalan keluarnya”.
-----------------------------+++------------------------
Setelah makan malam, Perth menceritakan semua hal pada Saint. Semua tentang kutukan di dalam keluarganya, termasuk tanda merah yang ada di tangan Saint. Awalnya Saint tidak percaya, karena ia sempat menguntit Perth selama seminggu saat ia menghilang. Saint melihat Perth mendatangi seorang psikiater, dan Saint mengira Perth memiliki gangguan jiwa. Selama seminggu Saint mencari tahu tentang Perth untuk pekerjaannya, saat ia sudah setengah jalan. Memory memutar kehangatan Perth dan Kakek Tanapon yang ia rasakan. Saat itulah ia menyimpan berkas tentang Perth dan tidak akan melanjutkan menulis artikel tentang keluarga Tanapon.
“Jika kau tidak percaya, besok aku akan mengajak mu menemui Kakek”. Saint hanya terdiam, ia sulit mencerna semua Cerita Perth.
Pertemuan mereka berdua seperti takdir yang memang sudah di rancang.
“Tapi mengapa aku?? Aku bahkan tidak memiliki kekuatan apa pun kecuali kemampuan melihat hantu”. Saint berdiri dari duduknya, semua membingungkan.
“Tenanglah”. Perth memutar tubuh Saint lalu memeluknya. “ Kita cari tahu bersama, aku harap kau mau membantu ku”. Perth melepaskan pelukannya lalu mengusap kedua pipi Saint dengan lembut.
“Aku takut~ aku bahkan tidak tahu cara menghadapi roh”. Saint memasang wajah sendu.
“Aku bersamamu, aku akan menjagamu emm~”. Saint membalas senyuman yang di berikan Perth. Mendengar kalimat yang Perth katakan, membuat hatinya terasa hangat. Saint tidak pernah merasakan hal semacam ini setelah kedua orang tuanya meninggal. Hanya Bon yang selalu memperhatikan Saint.
Malam pun sudah larut, Perth dan Saint tertidur di kamar yang terpisah. Lampu ruang tamu di matikan dan kamar masing-masing pun hanya di terangi lampu tidur.
Tuk
Tuk
Tuk
Suara langkah kaki terdengar, Saint yang terusik membuka matanya. Jendela kamar terbuka hingga gorden berkibar karena tertiup angin yang cukup kencang.
Tanpa melihat ke arah luar, Saint menutup kembali jendela tersebut. Namun suara orang yang berjalan menginjak lantai terbuat dari kayu masih terdengar jelas. Saint pun memberanikan diri keluar dari kamarnya. Dengan langkah pelan ia menelusuri ruangan yang gelap dan hanya di sinari cahaya bulan dari luar.
“Perth~”. Panggil Saint dengan suara yang pelan. Saint berjalan sembari mengedarkan penglihatannya.
“Perth~ apa itu kau?”. Saint berjalan menuju arah belakang rumah.
Suara sayup-sayup semakin jelas saat Saint beberapa langkah lagi mendekati daun pintu. Dengan ragu tangannya meraih knop pintu, perlahan ia mulai memutarnya.
Wooooosh
Angin kencang menetapkan wajahnya, saat Saint membuka pintu tersebut dan....
Brug
Saint terjungkal ke belakang, sesosok makhluk mencekik lehernya dengan sangat kuat.
Dengan nafas terengah, Saint mencoba melepaskan tangan yang ada di lehernya. Kakinya oun bergerak tidak karuan menendang apapun.
“Le_pas”. Suara saint hampir tidak terdengar. Air mata sudah mengalir di sudut bibirnya. Nafasnya sudah hampir habis.
“Lepas~~hiks~~”. Semakin kuat Saint mencoba lepas, semakin tangan itu mencekiknya.
“Perth~tolong aku~~”.
“Saint!! Saint!!”. Seru Perth.
SAINT!!!”. Perth berteriak sambil mengguncang tubuh Saint dan berhasil.
Saint saat dan terbangun, dengan nafas yang memburu dan keringat yang bercucuran.
“Kau mimpi buruk?”. Tanya Perth yang sangat khawatir.
Saint masih terdiam tak menjawab, ia sibuk mengumpulkan pasokan oksigen. Selama hidupnya Saint baru mengalami mimpi buruk seperti ini. Ia merasakan ini semua seperti nyata.
“ini minumlah “. Perth menyodorkan air putih dan Saint pun meminumnya.
“Sudah lebih baik?”. Saint hanya mengangguk.
“Kau hanya bermimpi buruk, lanjutkan tidurmu “. Saint Perth akan beranjak, Saint menggenggam tangan Perth. Sehingga yang empunya kembali berbalik.
“Aku takut sendiri, bisakah kau menemaniku?”. Perth tersenyum lalu kembali duduk di sisi tempat tidur dan mengusap kepala Saint.
“Aku akan menemani mu, kembalilah tidur”. Saint kembali berbaring lalu Perth menyelimutinya.
“Kau mau ke mana?”. Tanya Saint Saat Perth kembali membalikkan tubuhnya.
“Aku akan tidur di sofa, jangan khawatir. Aku tidak akan meninggalkan mu”. Saint membeku menatap ke arah Perth. Soroti matanya memancarkan ke tidak relaan.
“Ini memang terdengar berlebihan, tapi tidak bisakah kau tidur bersama ku di sini??”. Saint menggigit bibir bawahnya, ia takut Perth menolak keinginannya. Jujur Saint benar-benar merasa ketakutan.
“Baiklah aku akan tidur di sampingmu”. Perth naik ke atas kasur dan masuk ke dalam selimut yang sama.
Saint merasa panas di kedua pipinya, entahlah mengapa ia tiba-tiba menjadi malu seperti ini. Ayolah kalian sama-sama pria, tidur Bersama bukan hal yang aneh. Saint perlahan menarik selimut hingga menutupi lehernya.
“Apa aku harus menyalakan lampu?”. Tanya Perth.
“Ti_tidak usah”. Jawab Saint gugup.
“Aku sudah disini, apa kau masih merasa takut?”. Tanya Perth saat melihat Saint menutupi tubuhnya dan hanya menyisakan kepala.
“Tidak!! Aku baik-baik saja”. Saint langsung membelakangi Perth dan Perth hanya menggeleng lalu menyamankan tubuhnya.
Menit demi menit berlalu, Saint masih belum bisa memejamkan mata. Saat ia melirik sisi sebelahnya, sepertinya Perth sudah tertidur. Tidur bersama Perth seperti lebih membuatnya gelisah di banding dengan gangguan tadi.
Saint merasa hawa dingin menyentuh kulitnya, membuat bulu kudunya merinding. Ia berbalik menghadap Perth yang tidur terlentang. Perlahan Saint menggeserkan tubuhnya menjadi sedikit lebih dekat pada Perth. Sekali lagi Saint tidak pernah merasa setakut ini.
Saint memiringkan tubuhnya menghadap Perth. Lalu terperanjat langsung memeluk Perth saat ada suara kucing melompat dari atas. Perth yang belum terlalu pulas mengembangkan senyuman. Saint bahkan menyandarkan kepalanya di atas dada Perth.
Tubuh Perth bergerak ke arah samping, tentu otomatis Saint pun bergerak mengikuti. Perth memeluk tubuh saint dan mendekapnya dengan mata yang masih tertutup. Saint meski detak jantungnya sulit di kontrol, ia tetap menerima perlakuan Perth. Rasa takut yang di rasakan menghilang, ia seperti memiliki tempat untuk bertumpu sekarang.
Meski dengan suasana menyeramkan, tapi malam ini adalah malam penuh kedamaian untuk Perth dan Saint. Entah takdir apa yang menghubungkan mereka berdua.
Di lain tempat kedua orang tua Perth menginap di rumah Kakek, mereka berharap Perth datang menemui mereka dan membawa Saint. Jika benar Saint bisa melepaskan kutukan itu, Ibu Perth akan sangat berterimakasih, meski mungkin nanti Nira akan menjadi orang yang egois karena cinta dan memperjuangkan kebahagiaan untuk anaknya.
Pagi menjelang, Saint masih tertidur dan Perth sudah sibuk di pantry menyiapkan sarapan untuk mereka. Hanya sarapan roti panggang dan teh hangat tidak memakan waktu yang lama. Setelah meletakkan hasil masakan tak lama Saint muncul dengan rambut yang berantakan citi khasnya saat bangun dari tidur.
"Selamat pagi". Sapa Perth dengan senyum.
" Pagi". Jawab saint sambil menguap dan berjalan menuju meja makan.
"Apa kau tidak berniat mencuci mukamu?". Ucapan Perth membuat nyawa Saint langsung berkumpul.
Saint sudah biasa dengan penampilannya yang berantakan setelah bangun tidur, ia akan ke dapur hanya untuk
Minum air putih atau kembali berbaring di sofa. Pekerjaannya selalu membuatnya begadang. Tapi sekarang dia sedang bersama Perth bukankah ini hal yang memalukan.
Saint memamerkan deretan gigi kelincinya dan langsung berjalan cepat menuju kamar mandi. Melihat Saint seperti itu adalah hiburan tersendiri untuk Perth.
Pria dominan itu akan menunggu Saint selesai, untuk menikmati sarapan pertama mereka berdua.
Maaf ya belum bisa kasih horor yg tegang🥰
Tetap di nanti votenya.
Admin event firma_afika IfaDita OrionBlue_008 TanPerthofc_ WinAshaa
KAMU SEDANG MEMBACA
the curse of roses (END)
HorrorAku bukan orang gila, aku yakin mimpi yang selalu muncul, pasti memiliki arti. Ada sesuatu yang keluarga ku sembunyikan, dan apapun itu aku harus mencari tahu jika mawar merah simbol besarnya rasa cinta, lalu bagaimana dengan mawar hitam..??
