Warning typo
Di tengah guyuran hujan, Saint pasrah atas hidupnya. Ia memejamkan mata lalu pegangan tangan pun lepas. Ia sudah siap terjatuh ke dalam sumur.
“SAINT!!”. Teriakan seseorang, dengan cepat meraih tangan Saint dan memeganginya dengan kuat.
Saint membuka matanya, tangan ini. Tangan ini, Tangan Perth. Tangan yang menariknya ke luar benar-benar Perth. Saint menatap tak percaya, dia tidak akan mati malam ini setidaknya.
Dengan kuat, Perth menarik Saint keluar dari sumur. Cukup sulit dan butuh tenaga ekstra agar Perth bisa mengeluarkan Saint.
Saint pun akhirnya berhasil keluar, Perth langsung memeluk erat Saint. Nafas mereka terengah-engah, Saint menangis bahkan tubuhnya bergetar.
Perth menjauhkan tubuhnya, menatap khawatir Saint. Mengusap salah satu pipi milik Saint untuk memastikan keadaannya.
“Perth “. Sendu Saint, air mata keluar bercampur tetesan air hujan.
Perth kembali mendekap tubuh Saint yang masih terduduk di tanah.
“Kau akan baik-baik saja”. Perth pun ingin menangis
Perth mengangkat tubuh Saint dan menggendongnya. Mereka segera meninggalkan sumur tua itu. Saint sudah tidak sanggup berjalan, tubuhnya terasa lemah.
Perth tidak tidur di kamarnya, ia memilih tidur di sofa panjang yang terletak di ruang keluarga, kamar yang Saint tempati terletak dekat. Jika Saint meninggalkan kamarnya, pasti ia akan melewati ruangan keluarga.
Saat Saint keluar dari kamarnya, Perth sudah memejamkan matanya, ia merasa benar-benar lelah Ia mendengar suara tawa seorang wanita, suara itu terdengar jelas meski jauh. Perth yang terbangun langsung mengecek kamar Saint. “Tidak ada”, Saint tidak ada di kamarnya. Dengan langkah tergesa-gesa, Perth menuju pintu belakang. Pintu itu terbuka, lalu ia berjalan keluar sambil meneriakkan nama Saint. Perth pun melihat pintu pagar besi terbuka, dan ia semakin yakin. Saint pasti masuk ke dalam sana, ke tempat di mana terdapat sumur tua. Sialnya hujan semakin deras, tidak ada penerangan.
Perth mendengar suara Saint dan ia akhirnya memilih berlari. Perth sempat di kejutkan oleh seekor kucing yang tiba-tiba saja melompat di depannya. Perth mendekati sumur dan melihat Saint sudah bergantung di dalam sumur.
-
Perth membantu Saint mengganti pakaiannya dengan baju milik Perth. Saint di bawa masuk ke dalam kamar milik Perth di lantai dua. Setelah membantu Saint merebahkan tubuhnya, Perth segera membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
“Kenapa kau pergi ke sana?”. Tanya Perth saat mereka sudah berada di atas ranjang.
“Maafkan aku~, saat aku ingin mengambil air di dapur, aku mendengar suara yang memanggilku, suara itu semakin menarik ku agar aku mendekatinya. Aku bahkan tidak sadar jika sudah berada di bibir sumur.
Perth mendekat, membawa Saint masuk ke dalam dekapannya.
“Jangan pernah pergi ke mana pun selain bersama ku”. Saint hanya mengangguk.
“Perth~”.
“Ya”.
“Ada apa?”. Tanya Perth saat Saint hanya diam saja. Perth menjauhkan kepala Saint.
“Tidak ada~”. Saint kembali memeluk Perth.
“Tidurlah, kau harus istirahat”.
“Eem”. Saint kembali memejamkan matanya. Ia merasa mimpi buruk tidak akan kembali jika Perth bersamanya.
Saat Saint memejamkan matanya, Perth memikirkan sesuatu. Setelah kehadiran Saint, mimpi buruknya yang dulu tidak pernah lagi terjadi. Hantu yang selalu mengikutinya pun sudah tidak pernah muncul. Perth pun semakin jarang bertemu dengan hantu lain. Apa ini pertanda kutukan akan hilang atau apa yang di alami Perth berpindah pada Saint.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Waktu sudah berlalu selama 2hari, setelah kejadian waktu itu di rumah Kakek Tanapon. Perth tidak ingin menahan Saint lebih lama di rumah Kakek nya. Saint pulang keesokan harinya setelah insiden di sumur tua. Kakek pun sudah di ceritakan begitu juga dengan kedua orang tua Perth yang tahu tentang kejadian kala itu.
Saint sama sekali tidak berniat mundur sekalipun, ia sudah tidak peduli jika dirinya harus mati. Saint sudah menyadari akan perasaannya pada Perth. Pria berkulit putih itu mengakui pada dirinya sendiri jika ia mencintai Perth. Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh, tapi Saint tidak ingin membohongi dirinya sendiri.
Saint sudah kembali dengan pekerjaannya, artikel untuk berita yang akan di terbitkan Saint sudah menyelesaikannya. Hanya tinggal memberikan file pada atasannya. Saint memang sudah menghentikan niatnya untuk membuat berita tentang keluarga Tanapon. Ia sangat menyayangi keluarga itu, sebagai gantinya Saint membuat artikel berita tentang keluarganya sendiri. Di sisa hidupnya, ia ingin semua kebenaran terungkap. Saint ingin mengembalikan reputasi Ayahnya. Karena pamannya setelah mengambil alih kekayaan milik kedua orang tuanya, menyebarkan rumor jika Ayah Saint pebisnis kotor. Setidaknya ia melakukan hal yang berharga untuk kedua orang tuanya sebelum mati.
Siang ini Saint akan makan siang dengan Bon. Saint ingin menghabiskan waktu yang berharga bersama orang-orang yang baik padanya. Bulan purnama akan terjadi besok malam dan Saint akan bersiap.
“Kau bisa pesan apa pun yang kau mau”. Ucapan Saint, mereka berada di salah satu restoran lokal.
“Benarkah?”. Wajah Bon sangat sumringah.
“Tentu saja”. Bon langsung membaca buku menu dan pelayan menulis semua pesanannya.
Saint tidak memesan, ia meminta Bon memilihkan apa pun makanan untuknya.
“Bon, aku harap kau bisa hidup lebih baik”. Mendengar kalimat Saint, Bon menghentikan mulutnya yang sedang mengunyah.
“Tentu saja, aku akan hidup dengan baik”. Bon tersenyum ke arah Saint. “Kau mengatakan hal seperti, seakan ingin pergi jauh saja”.
Saint tersenyum lebar, ia kembali memakan makanannya. Hari ini ia akan pulang lebih awal, Perth akan menjemput.
Sekian lama hidup, dan merasa kekosongan tapi akhirnya Saint merasakan kehidupan. Tapi mengapa ini semua harus ia rasakan dengan waktu yang singkat? Mungkin benar kata pepatah, “UNTUK MENDAPATKAN KEBAHAGIAAN PASTI ADA SESUATU YANG HARUS DI KORBANKAN”.
Waktu menunjukkan pukul 5sore, Perth sudah menunggu Saint sejak setengah jam yang lalu. Melihat Perth yang sudah berdiri di depan gedung, Saint memberikan senyum terbaiknya.
“Kau terlihat bahagia sekali?”. Tanya Perth sambil mengusap rambut kecokelatan milik Saint.
“Tentu saja, aku di jemput oleh seorang Perth Tanapon “. Bangga Saint dan membuat Perth terkekeh.
Mereka akan menuju flat milik Saint, setelahnya Perth mengajak Saint mengunjungi rumah kedua orang tua Perth. Ibu dan Ayahnya meminta Perth untuk membawa Saint. Ini adalah hari pertama dan terakhir untuk Saint menginjakkan kaki di rumah Perth nanti.
“Masuklah Perth, maaf jika flat ini kecil dan tidak nyaman untukmu”.
“Jangan seperti itu, flat mu terlihat lebih nyaman daripada rumah besar milikku “. Perth duduk di sofa kecil.
Flat milik Saint memang kecil, ruang tamu dan dapur menjadi satu ruangan dan hanya di batasi dengan meja bar yang tidak terlalu besar. Hanya ada satu kamar dan di sebelah kamar ada kamar mandi.
“Kau bisa menunggu sebentar, aku akan mandi dan bersiap”. Ucap Saint, menaruh secangkir kopi panas di atas meja kecil lalu pergi meninggalkan Perth menuju kamar mandi.
Sepeninggalan Saint, Perth menatap flat kecil itu. Lalu ia beranjak saat melihat foto keluarga. Di foto itu sepertinya Saint bersama kedua orang tuanya. Perth melihat foto Saint yang berhasil meraih gelar sarjana di atas dinding. Wajahnya tersenyum. Kemudian dengan rasa penasaran, Perth mendekat pada meja nakas. Banyak tumpukkan kertas dan laptop yang terbuka. Perth melihat beberapa lembar kertas yang tidak tersusun rapi, ia pun mengambilnya berniat membereskan.
Perth tak sengaja melihat foto dan namanya tercetak di atas kertas. Ia pun membaca ketikan yang ada di kertas itu. Matanya membulat dan ia pun tercengang. Isi kertas itu tentang dirinya, bahkan ada laporan tentang Perth yang mendatangi seorang psikolog. Perth kemudian membuka lagi ada nama perusahaan tempat Saint bekerja. Perth tersenyum remeh lalu meletakkan kertas itu asal di atas meja.
“Jadi ternyata Kau sepicik ini”.
Saint keluar dari kamar mandi sudah rapi dengan bajunya, karena sebelum masuk kamar mandi Saint sudah membawa baju ganti. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
“Maaf membuat mu menunggu lama”. Ucap Saint pada Perth yang sedang bersandar pada meja nakas miliknya.
Perth tidak menjawab, pandangannya datar pada Saint. Saint pun diam di tempat saat Perth tersenyum aneh.
“Kau mengikuti ku untuk artikel mu?”. Tanya Perth, menunjukkan kumpulan kertas yang berisi tentangnya.
“Tidak Perth!! , itu tidak seperti yang kau kira”. Saint yang panik mulai mendekat.
“Lalu apa maksud mu?”. Suara Perth memang tidak tinggi, tapi Saint bisa melihat rahangnya mengeras dan sorot mata yang tajam.
“Ini sudah jelas, kau mengambil beberapa fotoku, lalu menulis semua tentang diriku di atas kertas ini!! Tak ku sangka kau sepicik ini”. Perth meremas ujung kertas itu hingga kusut.
“Ku mohon dengarkan aku dulu”. Saint semakin mendekat lalu mencoba mengambil kertas yang ada pada Perth. Namun Perth lebih dulu bergerak menjauhi kertas itu dari tangan Saint.
“KATAKAN CEPAT!!”. Mendengar Perth berteriak membuat Saint takut. Otaknya seperti tidak berfungsi.
“Aku_aku__ ya memang aku menulis artikel tentang mu, tapi”. Ucapan Saint terpotong.
“SUDAH JELAS!! KAU SUDAH MENGAKUINYA!!”. Mata Perth memerah, ia di kuasai amarah. Saint yang ketakutan menjadi sulit membuka suara.
“Perth, ku mohon dengar dulu”. Saint mencoba menahan tangan Perth yang hendak pergi.
“CUKUP SAINT”. Ucap Perth penuh penekanan.
“ Jika kau marah tak apa, tapi dengarkan aku dulu~ maafkan aku, aku akan melakukan apa pun agar kau tidak marah”. Saint sudah ingin menangis.
“Apa kau bersedia menghentikan kutukan ku untuk mendapatkan tulisan artikel mu?”. Saint menggeleng cepat.
“Kau pikir aku percaya?!”. Saint menatap Perth dengan lelehan air mata yang tak terbendung.
“Aku sudah tidak peduli dengan kutukan sialan itu, kau bisa berhenti. Lebih baik aku mati!!”. Perth melepas paksa tangan Saint yang mengalung di lengannya.
Perth berjalan sangat cepat, amarah sudah menguasai dirinya, bahkan penjelasan Saint pun ia tak ini mendengar. Perth merasa telah di khianati dan dia tidak pernah di perlakukan seperti ini oleh siapa pun.
Saint terduduk lemas di lantai, ia hanya mampu memandang pintu yang tertutup sambil menangis.
“Maafkan aku~”. Isakan mulai terdengar kencang. Dada Saint terasa sesak.
Perth kembali ke rumahnya, kedua orang tuanya yang sejak tadi menunggu kedatangan Perth dan Saint. Menatap heran karena hanya Perth yang datang. Di tambah kelakuan anaknya yang langsung masuk ke dalam kamar dan membanting pintu sangat keras. Ibunya mencoba mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban.
“Perth, apa terjadi sesuatu?”. Seru Nira dari luar kamar.
“Di mana Saint, nak?”. Tak lama Perth membuka pintu.
“Jangan pernah menyebut namanya bu!! AKU MEMBENCINYA !!”. Perth kembali menutup pintu.
“ Jika kalian bertengkar, sebaiknya selesaikan dengan baik-baik, tidak seperti ini sayang”. Perth tidak menjawab, Nira pun akhirnya memilih turun.
Tuan Tanapon pun bertanya, dan Nira hanya mengatakan jika anaknya sedang dalam kondisi tidak baik dan meminta suaminya agar menunggu Perth berbicara pada mereka. Nira memutuskan menelpon Saint dan bertanya apa yang sudah terjadi.
Panggilan pertama tidak ada jawaban, lalu Nira mencoba panggilan kedua. Akhirnya Saint menjawab.
“Bibi~ maafkan aku~~”. Saint langsung berbicara sambil memang sebelum Nira bertanya.
“ Apa yang sebenarnya terjadi?”.
“ Ini semua salahku bi”. Nira semakin bingung.
“Katakan pada bibi, apa yang terjadi pada kalian”. Nira tidak mendapatkan jawaban karena tiba-tiba panggilan itu terputus.
“Hallo~”. Ucap Saint saat suara di seberang sana terputus.
“Saint~”. Ia mendengar namanya di panggil, perlahan Saint pun menoleh.
“Tolong aku~~~”. Ucap seorang wanita dengan rambut panjang terurai ke depan, kondisi tubuhnya basah.
Saint terkejut hingga terperanjat. Bahkan ia sulit menelan salivanya.
“Si_ si_ siapa kau??”. Tanya Saint dengan gugup.
Hantu wanita itu hanya diam dan terus menangis semakin dalam.
Seperti kilat bahkan gerakannya tidak terlihat. Hantu wanita itu sudah berada dekat dengan Saint.
Tangannya yang keriput dan kulit yang mengelupas menangkup kedua pipi Saint cukup keras. Mata Saint saling menatap dengan mata si hantu yang berwarna hitam seluruhnya. Seperti tersedot ke dunia lain, Saint melihat kilasan kejadian.
Admin event firma_afika IfaDita OrionBlue_008 TanPerthofc_ WinAshaa
KAMU SEDANG MEMBACA
the curse of roses (END)
HorreurAku bukan orang gila, aku yakin mimpi yang selalu muncul, pasti memiliki arti. Ada sesuatu yang keluarga ku sembunyikan, dan apapun itu aku harus mencari tahu jika mawar merah simbol besarnya rasa cinta, lalu bagaimana dengan mawar hitam..??
