Wallflower 7: Pertemuan Kembali

155 29 10
                                        

Alunan musik bertema nostalgia memenuhi rungu para tamu undangan yang berdatangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Alunan musik bertema nostalgia memenuhi rungu para tamu undangan yang berdatangan. Gedung serbaguna kampus didesain sedemikian indah yang dipenuhi bunga-bunga cantik serta dekorasi bernuansa putih dan biru muda. Anye melangkahkan kaki dengan anggun. Pandangannya meneliti ke sekeliling sudut gedung, berharap ada yang dikenalnya. Entakan sepatu hak tinggi yang seolah seirama dengan alunan musik membuatnya jadi pusat perhatian.

Beberapa pertanyaan serupa terus terlontar seakan tak ada habisnya. Anye tampak lelah karena harus berbasa-basi menjawab pertanyaan yang ujung-ujungnya bermaksud memanfaatkan dirinya. Seperti, ingin menjadi kolega bisnis, ingin bekerja di perusahaannya dan juga ... ingin dikenalkan pada pengusaha-pengusaha muda yang lajang juga tampan. Anye mengangkat sedikit rok gaunnya agar bisa leluasa kembali melangkah demi mencari Rendy. Sebenarnya mereka janji bertemu di parkiran, hanya saja Anye baru ingat ia turun di depan kampus karena tidak membawa mobil.

"Inu!" Sebuah suara mengalihkan perhatiannya ke tengah gedung, lantas Anye mencari dari mana sumber suara itu berasal. Ketika sepasang matanya berhasil menangkap sosok lelaki jangkung itu, Anye tersenyum diikuti lambaian tangannya seraya mendekat.

Di sana tidak hanya ada Bagus, ia juga menangkap sosok Rendy, Inu, dan Alya. Anye melempar senyum ke arah mereka yang langsung dibalas jabatan tangan serta pelukan dari Alya.

Kemudian kelimanya bertukar kalimat membahas masa-masa kuliah dilanjutkan kegiatan mereka usai meninggalkan Buana Megantara. Anye senang sekali mendengar perkembangan karier para sahabatnya. Ia tidak henti-hentinya kagum pada Alya yang kini sudah memiliki resto sendiri sama halnya dengan Bagus. Inu yang memilih berteman dengan belantara, dan Rendy yang sibuk mengurus bisnisnya di beberapa tempat.

Puluhan menit berlalu, Bagus dan Hayun tampak mengantre demi mengambil menu makan malam. Inu izin ke toilet, sementara Rendy memilih pulang setelah insiden beberapa menit lalu yang membuat para tamu di aula sangat terkejut. Meski khawatir, Anye dan teman-temannya memilih tidak ikut campur masalah Rendy dan sang kekasih.

"Kamu mau makan sesuatu? Aku ambilin, ya. Tadi kayaknya ada es krim deh." Alya sudah berdiri, tetapi Anye menahan tangannya sehingga gadis itu kembali duduk.

"Makasih, tapi enggak usah, Al. Gimana kalau kita keluar bentar? Di sini terlalu ramai." Akhirnya Alya mengangguk lalu keduanya bangkit berdiri meninggalkan gedung serbaguna.

Alya mengikuti langkah Anye berjalan menuju gedung sekretariat kemudian mereka duduk di pilar beralas ubin. Dulu, keduanya sering duduk di sana demi menunggu Bagus yang tiba-tiba harus ke toilet, tetapi akhirnya marah-marah karena antrean yang panjang. Gedung sekretariat dekat dengan gerbang utama kampus, dan hal itu membuat para mahasiswa yang baru tiba di kampus langsung menggunakan ruangan kecil tersebut untuk menyempurnakan penampilan mereka.

"Kamu ingat, Al, momen Bagus pasang muka kesal waktu keluar dari sana?" Anye menunjuk pintu toilet yang jaraknya sekitar dua meter di depan mereka.

Alya mengangguk seraya memasang senyum tipis. "Yang gara-gara dimarahin mahasiswa lain? Lagian ya, itu anak bisa-bisanya mandi seenak jidat. Sudah tahu banyak anak-anak antre mau pakai toilet."

WallflowerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang