Cerita ini dibuat berdasarkan realitas, alias mengikuti perkembangan zaman. Cerita ini juga mengandung kata-kata kasar, yang mungkin bisa membuat pembaca tidak nyaman.
Be a mature reader.
❦
Pagi itu, Reina merasa jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Sepanjang perjalanan menuju kampus, pikiran tentang apa yang terjadi kemarin terus mengganggunya. Interaksi singkat dengan Aldrian—Most Wanted kampus—terasa begitu nyata dan begitu aneh bagi dirinya.
Kenapa dia harus menunggunya?
Dia bahkan tidak yakin bagaimana harus bersikap. Tidak ada yang pernah memberitahunya tentang cara berhadapan dengan pria seperti Aldrian. Apalagi, Aldrian yang terkenal tidak terlalu peduli dengan cewek-cewek yang mengejarnya.
Reina menggigit bibirnya, berusaha menenangkan diri.
Sampai akhirnya, dia sampai di kampus. Setelah masuk ke ruang kelas dan menyelesaikan pelajaran pertama, waktu terasa berjalan sangat lambat.
Namun, saat bel berbunyi, tanda bahwa pelajaran berakhir dan istirahat dimulai, Reina mulai merasa gugup. Dia menatap jam di ponselnya, lalu melirik ke sekitar. Harusnya dia segera pergi ke ruang HIMA, kan?
Namun, di saat yang sama, Reina merasa ragu. Apakah dia siap untuk itu?
Bahkan hanya untuk sekadar bertemu Aldrian, dia merasa dunia seperti menekan di dadanya.
Tanpa bisa menunda lebih lama, Reina memberanikan diri untuk keluar dari kelas. Dia mengambil napas dalam-dalam dan berjalan menuju ruang HIMA.
Tapi saat sampai di depan ruang HIMA, dia tidak melihat Aldrian.
Ternyata, Aldrian sudah berdiri di dekat pintu, dengan ekspresi santai, seperti biasa. Dia mengenakan jaket hitam, celana jeans, dan sepatu sneakers.
Namun, ada sesuatu yang berbeda hari ini. Aldrian terlihat lebih serius.
Reina melangkah maju pelan-pelan, matanya menatap Aldrian yang berdiri menunggunya.
"Kak..."
Aldrian menoleh begitu mendengar suaranya. Dia tersenyum tipis, meskipun tidak banyak, tapi cukup untuk membuat hati Reina sedikit lebih tenang.
"Lo siap?" Aldrian bertanya, suaranya rendah dan tenang.
Reina mengangguk pelan, meskipun tubuhnya sedikit gemetar.
"Iya, Kak."
Aldrian mengangguk dan berjalan menyampingnya, menuntunnya keluar dari ruang HIMA menuju motor yang terparkir di luar.
Hari ini, mereka berdua akan pergi ke café yang sama seperti yang mereka bicarakan kemarin.
Namun, tanpa disadari, sebuah cerita baru dimulai.
Reina berjalan di belakang Aldrian, mengikuti langkahnya menuju parkiran kampus. Tapi ketika dia melihat Aldrian menarik sesuatu dari saku jaketnya, matanya sedikit membelalak.
Sebuah kunci mobil. Tunggu… bukan motor?
Reina mengerutkan kening, mengingat jelas bahwa pria itu biasanya mengendarai Harley Davidson—motor besar dan mahal yang selalu menarik perhatian setiap kali melintas di kampus.
Namun kali ini, Aldrian berjalan menuju sebuah mobil yang jauh lebih mencolok.
BMW X6, keluaran terbaru.
Bahkan Reina, yang tidak terlalu paham soal mobil mewah, tahu bahwa mobil ini sangat mahal.
Aldrian membuka kunci mobilnya dengan remote, lampu mobil menyala sebentar, menandakan bahwa kendaraan itu telah terbuka. Reina menelan ludah. Dia benar-benar kaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Blue
Teen FictionReina Arabella tak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis di usia 20 tahun. Ayahnya, sosok yang begitu protektif, tiba-tiba mengumumkan perjodohannya dengan Aldrian Devandra, pria yang terkenal dingin, tertutup, dan sulit didekati. Mereka be...
