Cerita ini dibuat berdasarkan realitas, alias mengikuti perkembangan zaman. Cerita ini juga mengandung kata-kata kasar, yang mungkin bisa membuat pembaca tidak nyaman.
Be a mature reader.
❦
Sarapan pagi ini terasa berbeda. Reina duduk di meja makan dengan tatapan kosong, sesekali mengaduk bubur ayam di hadapannya tanpa benar-benar menyuapkan ke mulut. Aldrian yang awalnya fokus pada makanannya akhirnya sadar kalau istrinya itu sama sekali belum makan.
"Lo nggak makan?" Aldrian bertanya, menatap Reina heran.
Reina menggeleng pelan. "Aku... ngga nafsu," gumamnya, meletakkan sendoknya ke samping mangkuk.
Aldrian semakin curiga. Dia menatap Reina lebih lama, mencoba membaca ekspresinya. Ada sesuatu yang aneh sejak tadi. Istrinya itu terlihat gelisah, seperti menyimpan sesuatu.
Dan dia tidak suka perasaan ini.
"Reina," panggilnya serius. "Gue tanya sekali lagi, hasil test pack lo apa?"
Jantung Reina mencelos. Dia tidak siap untuk ini. Tidak sekarang. Tapi tatapan Aldrian yang begitu dalam dan penuh tuntutan membuatnya sulit menghindar.
Aldrian menyandarkan punggungnya ke kursi, tangannya terlipat di depan dada. Jangan bohong. Tunjukin ke gue, sekarang."
Reina menahan napas. Tangannya gemetar di bawah meja. Dia bisa saja terus berbohong, tapi Aldrian bukan orang bodoh.
Dengan perlahan, Reina memasukkan tangan ke dalam saku celana rumahnya, mengambil benda kecil yang tadi dia sembunyikan. Dia meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Aldrian.
Dua garis merah.
Hasilnya positif.
Suasana menjadi sunyi. Reina menggigit bibir bawahnya, merasakan matanya mulai memanas. Tangannya mengepal di pangkuannya, dan dalam hitungan detik, air mata mulai menggenang, jatuh tanpa bisa dia tahan.
"Aku hamil..." suaranya bergetar, nyaris seperti bisikan.
Aldrian terdiam, menatap test pack itu tanpa berkedip. Seakan otaknya masih memproses apa yang baru saja terjadi.
Lalu, tanpa peringatan, Aldrian berdiri. Kursi yang dia duduki bergeser sedikit ke belakang. Reina mendongak, napasnya tertahan saat melihat suaminya berjalan ke arahnya.
Aldrian tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berlutut di samping Reina, tangannya terangkat untuk menyentuh wajah istrinya yang basah oleh air mata.
Dan saat Reina berpikir suaminya akan marah karena kebohongannya tadi, yang terjadi justru sebaliknya.
Aldrian tersenyum kecil.
Bukan senyum mengejek atau meremehkan. Tapi senyum hangat-senyum penuh makna yang begitu jarang terlihat di wajahnya.
Lalu dia mengusap air mata Reina dengan ibu jarinya, sebelum berbisik dengan suara rendah dan penuh emosi, "Beneran?"
Reina mengangguk pelan, bibirnya bergetar. "Iya..."
Aldrian menarik napas panjang. Seolah baru saja tersadar, dia merasakan dadanya menghangat, seakan perasaan bahagia yang sulit dijelaskan perlahan-lahan mengisi hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Blue
Teen FictionReina Arabella tak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis di usia 20 tahun. Ayahnya, sosok yang begitu protektif, tiba-tiba mengumumkan perjodohannya dengan Aldrian Devandra, pria yang terkenal dingin, tertutup, dan sulit didekati. Mereka be...
